Penyerahan diri Damar diatur seperti operasi militer—karena pada dasarnya memang begitu.
Laras tak mau ada celah. Jika Damar muncul di kantor polisi mana pun yang bisa dijangkau Wibowo, ia tak akan keluar hidup; sebuah "bunuh diri di tahanan" sudah jadi resep lama Pandu untuk saksi yang tak nyaman. Maka Renjana, Laras, dan Arsa menyusun jalur yang melewati seluruh kepolisian Pradipa: Damar akan menyerahkan diri langsung ke Kejaksaan Tinggi, di hadapan jaksa yang Laras pertaruhkan reputasinya untuk percaya, dengan kamera Maya merekam dari mobil di seberang jalan sebagai asuransi—agar jika Damar "menghilang", seluruh kota tahu siapa yang terakhir bersamanya.
Pagi itu Pradipa berkabut tipis. Damar tiba dengan mobil sederhana, tanpa pengawal, membawa satu koper logam. Renjana menontonnya dari kejauhan, dari dalam mobil Arsa, di balik kaca gelap.
"Kau yakin dia tak akan berbalik?" tanya Arsa.
"Tidak ada yang yakin," kata Renjana. "Tapi dia sudah mengirim putrinya ke luar kota semalam. Orang tak mengirim anaknya ke tempat aman kecuali dia berniat melompat dari kapal."
Koper logam itu berisi dua puluh tahun.
Damar telah menyimpan semuanya—bukan karena ia berniat membelot suatu hari, tapi karena ia kepala keamanan, dan kepala keamanan yang baik selalu punya polis asuransi terhadap atasannya sendiri. Buku catatan operasi. Tanggal, nama, perintah. Siapa memerintahkan apa, dari mulut siapa. Yang paling berharga: rantai komando malam pembantaian Mahendra—tertulis dengan tangan Damar sendiri, dengan inisial yang menautkan perintah dari Reksa, dan di atas Reksa, satu set inisial yang membuat jaksa muda itu pucat saat membacanya.
P.A.
Pandu Adiwangsa.
"Aku tidak menulis nama lengkapnya," kata Damar dalam ruang interogasi yang aman, suara monoton seorang yang telah menyerahkan beban. "Tak seorang pun berani. Tapi setiap perintah besar—setiap nyawa yang harus hilang demi melindungi sesuatu yang lebih tinggi dari Reksa—datang dengan kode itu. P.A. Reksa hanya tangan. Aku tangan dari tangan. Dan Garda pisau dari tangan dari tangan."
Jaksa muda itu menatap Renjana yang berdiri di sudut—hadir atas izin khusus Laras, sebagai pihak yang dirugikan, sebagai anak Bramantyo Mahendra yang dulu dinyatakan mati. "Anda paham," kata sang jaksa, "bahwa dengan ini, kami masih belum bisa menyentuh Pandu. Kami sudah punya rekaman suara dari warisan ayah Anda—suara yang memerintahkan pembunuhan. Tapi pengacara Pandu akan menyebutnya rekayasa buronan. Dan inisial di catatan ini, kesaksian seorang penjahat—mereka akan merobeknya dalam lima menit. Rekaman butuh penguat. Kesaksian butuh penguat. Satu bukti, betapapun kuat, tak cukup melawan kekuasaan seperti itu."
"Aku tahu," kata Renjana tenang. "Itu sebabnya kita tidak bertaruh pada satu bukti. Rekaman ayahku memberi suara Pandu. Catatan Damar memberi rantai komando, tertulis tangan, yang menguatkannya—suara dan kertas saling mengunci. Damar bukan untuk menjatuhkan Pandu sendirian. Damar untuk menjatuhkan Reksa, dan untuk menambah satu balok lagi di jembatan menuju Pandu yang sudah mulai kita bangun. Satu balok pada satu waktu. Sampai jembatan itu cukup kuat untuk dilewati pengadilan."
Lalu kepada Damar, yang kini bukan lagi monster dari mimpi buruknya, melainkan seorang lelaki tua yang lelah, ia berkata: "Kau melakukan satu hal benar. Setelah dua puluh tahun. Itu tak menghapus apa pun. Tapi itu bukan apa-apa."
Damar mengangkat wajah. "Adikmu. Aku dengar kau berhasil membawanya keluar. Dan aku dengar Reksa belum berhenti mencoba merebutnya kembali."
Renjana membeku.
"Berita itu menjalar di sisa organisasi seperti api," kata Damar pelan. "Si bungsu lenyap dari rumah peristirahatan, dan Reksa mengamuk. Dia menyerang persembunyianmu beberapa malam lalu dan pulang dengan tangan kosong—peretasmu, bukan adikmu. Dengar baik-baik, karena ini yang kutahu sebelum aku memutuskan datang ke sini." Ia menyebutkan sebuah nama: sebuah kompleks pergudangan tua di sektor utara, milik perusahaan cangkang yang Renjana belum sentuh. "Reksa sudah menyiapkan tempat itu untuk Dani—penjagaan berlapis, lebih ketat dari rumah peristirahatan dulu, satu kamar disiapkan khusus. Dia tahu di mana kira-kira kau bersembunyi, dan dia akan mencoba lagi, lebih keras. Dan Renjana—tiga minggu di luar belum cukup menghapus tujuh tahun. Kalau Reksa merebutnya lagi, dia akan menanamkan ulang setiap kebohongan, lebih dalam, lebih marah. Jaga adikmu seperti kau menjaga napasmu sendiri."
"Aku tahu," kata Renjana, dan suaranya hampir pecah untuk pertama kali. "Aku sudah membawanya keluar sekali, dan aku sudah melihat seberapa rapuh jiwa yang baru pulih. Aku tahu penjaranya lebih dalam dari tubuhnya. Itu sebabnya aku tak akan membiarkan Reksa menyentuhnya lagi."
Di luar gedung kejaksaan, saat Damar diborgol dan dibawa ke tahanan rahasia di bawah perlindungan langsung Kejaksaan—jauh dari jangkauan Wibowo—Maya menurunkan kameranya.
"Itu yang terakhir," katanya. "Lingkaran dalam Reksa. Hartono, Hendra, Sigit, Garda, Damar. Semua jatuh, semua di sisi kita atau di penjara. Reksa sendirian sekarang."
"Tidak," kata Renjana, memandang menara kaca Wijanarko Group yang berkilau di kejauhan, menusuk kabut. "Reksa tak pernah sendirian. Di atasnya masih ada Pandu. Dan Pandu masih punya separuh kepolisian, sebagian kejaksaan, dan seluruh kekuatan untuk mengubur kami semua dalam satu malam jika kami salah langkah."
Ia merasakan rusuknya berdenyut. Ia memikirkan Dani—aman untuk sekarang, di balik lapisan pengawasan yang ia susun sendiri, tapi diincar tanpa henti oleh orang yang sudah menyiapkan satu kamar kosong di sektor utara untuknya. Selama Reksa hidup dan bebas, adiknya tak akan benar-benar aman.
"Lingkaran dalam runtuh," kata Renjana pelan. "Tapi perang yang sesungguhnya baru dimulai. Dan kali ini bukan melawan penjahat. Melawan kekuasaan."