Gudang lima berbau garam, karat, dan minyak mesin. Tengah malam, lampu sodium tunggal menggantung di langit-langit, mengayun pelan dalam angin laut yang masuk lewat celah dinding seng.
Renjana berjalan masuk sendirian, seperti yang diperintahkan, melalui pintu depan yang besar. Di tangannya sebuah amplop tahan air. Di dalamnya, file umpan—cangkang kosong yang ia rancang semalaman. Tapi yang membuat langkahnya mantap bukan amplop itu. Yang membuat langkahnya mantap adalah pengetahuan bahwa di balik tumpukan peti kontainer di sisi timur, Arsa sudah masuk dua jam lalu lewat saluran pemeliharaan yang hanya ada di denah lama Hendra. Dan bahwa di luar pagar, dalam mobil tanpa marka, Laras menunggu dengan dua penyidik yang ia percayai—bukan untuk menyergap sekarang, tapi untuk menjadi saksi dan jaring pengaman saat semuanya pecah.
Reksa berdiri di tengah, di bawah lampu. Setelan abu-abu sempurna, sepatu kulit mengilap yang Renjana ingat dari ribuan mimpi buruk. Di sampingnya, Kelana masih terikat di kursi besi, kepala terkulai tapi sadar—matanya bergerak ke arah Renjana, lalu menjauh, sengaja, jangan lihat aku, jangan beri tahu mereka kau peduli.
Dan di belakang Reksa, keluar dari bayang-bayang, berdiri Garda.
Renjana mengenalinya tanpa ragu, meski tujuh tahun mengubah keduanya. Tubuh yang sama besarnya. Cara berdiri yang sama, berat di kaki belakang, seperti orang yang selalu siap melangkah maju dan memukul. Bekas luka baru menyilang alisnya—oleh-oleh dari pertarungan mereka beberapa minggu lalu, malam Arsa hampir mati menyelamatkannya. Garda menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai rasa lapar.
"Anak Bramantyo," kata Garda. Suaranya parau. "Aku yang membuangmu ke sungai."
"Aku tahu," kata Renjana. Suaranya datar. Ia sudah mengubur reaksi ke dalam itu bertahun-tahun lalu. "Aku ingat tanganmu. Aku ingat baunya. Aku ingat kau tertawa."
Sesuatu berkedip di wajah Garda. Bukan penyesalan. Kepuasan.
Reksa melangkah maju. "Cukup. Buktinya."
Renjana melempar amplop. Reksa menangkapnya, merobeknya, dan dalam sepersekian detik perhatian seluruh ruangan terpaku pada kertas itu—
—dan Renjana menjatuhkan diri ke samping saat lampu sodium tunggal itu padam.
Arsa, di panel listrik. Tepat waktu.
Kegelapan total selama dua detik penuh kekacauan. Renjana bergerak dalam gelap menuju kursi Kelana lewat jalur yang sudah ia hafal—dua belas langkah, belok kiri di peti kuning. Suara teriakan Reksa. Bunyi langkah berat. Lalu lampu darurat menyala merah, redup, dan dunia berubah menjadi merah dan bayangan.
Garda sudah di depannya.
Pukulan pertama menghantam tulang rusuk Renjana sebelum ia sempat menghindar penuh, dan ia merasakan sesuatu retak, nyala panas menyebar di sisi tubuhnya. Ia terhuyung ke kontainer. Garda tak terburu-buru. Ia tak pernah terburu-buru. Itulah yang membuatnya begitu menakutkan—keyakinan seorang tukang jagal yang tahu pekerjaan akan selesai.
"Lari sungai dua kali, anak Bramantyo," kata Garda, maju. "Kali ini—"
Renjana tidak melawan kekuatan dengan kekuatan. Ia tak pernah bisa menang begitu, dan ia tahu itu. Ia mundur, menggiring, dan saat Garda melangkah ke titik yang ia inginkan, ia menarik tali yang sudah Arsa ikatkan dua jam lalu ke peti gantung di atas. Beban setengah ton ayunan logam menghantam bahu Garda dengan bunyi yang membuat perut bergolak. Garda terjatuh, mengaum.
Renjana sudah di kursi Kelana, pisau lipat menggesek tali. "Bisa jalan?"
"Bisa lari," desis Kelana, meski wajahnya pucat.
Garda bangkit. Lengan kanannya menggantung salah. Tapi tangan kirinya menarik pistol.
Dan inilah momen yang Renjana tahu akan datang. Saat di mana hidup menawarinya dua pilihan, dan ia harus menemukan yang ketiga.
Ia melempar pisaunya—bukan ke Garda, tapi ke kabel lampu darurat. Gelap lagi. Saat itu, suara dari arah pintu samping: "Kepolisian! Jatuhkan senjata!" Laras. Masuk lebih cepat dari rencana karena ia mendengar tembakan yang belum terjadi—naluri penyidik yang tak sabar. Dua senter menyilang kegelapan.
Garda berputar ke arah suara. Renjana melihat jarinya menegang di pelatuk.
Dan Renjana, dari belakang, menghantam belakang lutut Garda dengan batang besi yang ia ambil dari lantai—bukan untuk membunuh, untuk menjatuhkan. Garda runtuh. Pistol terlepas, berdenting di lantai beton, tergelincir ke kegelapan.
Lampu menyala. Laras berdiri dengan pistol terarah. Garda tergeletak, lengan patah, lutut hancur, tapi hidup. Mata Garda menatap Renjana dari lantai—dan untuk pertama kali, ada sesuatu di sana yang menyerupai ketakutan.
"Tarik pelatuknya," desis Garda, separuh menantang, separuh memohon, seolah kematian lebih ia pahami daripada apa pun yang akan datang. "Kau anak Bramantyo. Lakukan."
Renjana berdiri di atasnya. Tangannya gemetar—dari adrenalin, dari rusuk yang retak, dari tujuh tahun. Di kepalanya, malam itu memutar ulang: tangan ini yang membanting tubuh adiknya, suara ini yang tertawa, sepatu ini yang menendang. Membunuhnya akan begitu mudah. Begitu adil, dengan cara yang paling tua di dunia.
Lalu ia melihat Kelana, berdiri menyangga dinding, menatapnya. Dan ia mendengar Karyo.
Ingat jalan pulang.
"Tidak," kata Renjana. Ia mundur selangkah. Ia menoleh ke Laras. "Dia eksekutor malam keluargaku dibantai. Dia akan mengaku siapa yang memerintah. Ambil dia hidup-hidup, Inspektur. Bawa dia ke ruang sidang, bukan ke kuburan."
Laras menatapnya lama. Lalu mengangguk, dan memborgol Garda yang meraung—bukan kesakitan, tapi kemarahan orang yang baru saja kalah dengan cara yang tak ia mengerti.
Reksa sudah lenyap dalam kekacauan, kabur lewat pintu belakang dengan amplop kosong yang ia kira kemenangan. Renjana membiarkannya. Itu bagian dari rencana. Biarkan dia membawa pulang abu dan menyangkanya emas.
Di luar, di bawah langit pelabuhan yang akhirnya bersih dari hujan, Renjana berlutut di samping Kelana, menahan sisi tubuhnya yang berdenyut. Harga sudah dibayar—rusuk retak, samaran yang makin tipis, Reksa yang kini tahu pasti ia hidup dan melawan. Dan ancaman terhadap Dani belum lenyap; Reksa sudah berjanji di video itu untuk merebutnya, dan janji semacam itu tak pernah ia langgar. Tapi malam ini Kelana bernapas, adiknya aman di tempat persembunyian, dan Garda terikat. Untuk pertama kali, salah satu dari mereka jatuh bukan oleh darah, melainkan oleh hukum.
"Kau bisa saja membunuhnya," kata Kelana lirih.
"Aku tahu," kata Renjana. "Itu sebabnya aku tidak." Ia menatap ke arah kota, ke menara-menara tempat Reksa bersembunyi. "Malam ini kita menyelamatkanmu, dan Dani masih bersama kita. Tapi Reksa akan datang lagi untuk adikku. Saat itu tiba, aku tak akan menawar—aku akan menjatuhkan mereka, dan aku akan melakukannya tanpa menjadi seperti mereka."