Serangan itu datang pukul tiga pagi, di apartemen persembunyian yang seharusnya tak ada yang tahu.
Renjana terjaga di kursi sudut—tempat yang dipilih Kelana karena tak punya sejarah, tak punya nama, tak punya jejak listrik atas nama siapa pun. Ia tidur dengan sepatu masih terpasang sejak malam pembantaian tujuh tahun lalu. Kebiasaan orang yang tahu bahwa pintu bisa pecah kapan saja.
Malam itu pintu memang pecah.
Mereka datang cepat dan sunyi—empat orang, regu sisa Garda, masuk lewat tangga darurat yang seharusnya tak ada di denah. Kelana, yang baru kembali dari membeli kartu SIM dan belum sempat tidur, melihat mereka lebih dulu dan berteriak. Teriakan itulah yang menyelamatkan sebagian dari mereka. Renjana sudah bergerak sebelum pintu sepenuhnya terbuka, menyeret Dani—yang refleks bertahannya tujuh tahun dilatih untuk membeku, bukan lari, dan yang malam ini hampir terpaku di ambang kamar—bersama Arsa dan Maya ke jalur mundur yang sudah ia hafal sejak hari pertama. Tapi Kelana, yang masih di dekat pintu, yang berteriak untuk yang lain alih-alih lari untuk dirinya sendiri—Kelana terlambat sedetik. Dan satu detik adalah seumur hidup.
Renjana melihatnya dari ujung koridor, dalam cahaya darurat yang berkedip: tangan-tangan yang sama besarnya dengan tangan yang dulu membantingnya ke aspal, mengangkat peretas muda itu yang meronta. Mata mereka bertemu sekejap—mata Kelana, lebar, ketakutan, tapi keras kepala, jangan kembali untukku. Lalu pintu darurat tertutup di antara mereka, dan Renjana, dengan pistol Maya di tangan dan dua peluru yang sengaja ia tembakkan ke langit-langit untuk memecah pengejaran, harus memilih: mengejar dan mati di tangga sempit itu, atau menjaga yang masih bisa ia jaga—termasuk Dani, yang ia rebut dari sekapan Reksa dengan harga yang terlalu besar untuk dilepas lagi.
Ia memilih menjaga yang ada di tangannya. Ia membenci dirinya untuk itu.
Saat fajar pertama menyusup, mereka berkumpul di apartemen cadangan—Renjana, Arsa, Maya, dan Dani yang meringkuk diam di sudut, tatapannya jauh, jiwanya yang baru tiga minggu mulai pulih kini menutup kembali seperti kerang yang disentuh. Tanpa Kelana. Satu kursi kosong di meja, dan keheningan yang lebih berat dari mana pun.
Lalu pesan itu datang, lewat ponsel yang seharusnya tak ada yang tahu nomornya. Sebuah video.
Ia menontonnya tanpa suara dulu, naluri lama. Kelana, terikat di kursi besi di ruangan yang ia kenali sebagai salah satu gudang tepi pelabuhan—rute yang dulu mereka rebut dari Hendra Lawu. Wajah anak itu bengkak di pipi kiri. Tapi matanya menatap kamera dengan keras kepala yang membuat dada Renjana sesak. Kelana tak menangis. Ia memaki, dan seseorang di luar bingkai menamparnya hingga diam.
Lalu suara Reksa, tenang, hampir lembut. "Renjana. Atau haruskah kupanggil dengan nama yang lebih lama?"
Renjana menahan napas.
"Aku tahu sekarang. Anak Bramantyo. Yang kukira sudah jadi makanan ikan." Suara itu berhenti, seolah menikmati keheningan. "Tujuh tahun. Kau pintar. Aku akui itu. Kau bahkan sempat mencuri kembali si bungsu dariku. Tapi kau membuat satu kesalahan yang dibuat semua orang pintar—kau peduli pada terlalu banyak orang. Dan orang yang peduli mudah ditebak."
Kamera bergerak ke wajah Kelana.
"Kau mencuri si bungsu dariku. Aku akui itu—kau bermain rapi. Tapi jangan terlalu nyaman; aku akan mengambil Dani kembali kapan pun aku mau, dan kau tahu itu. Dia masih milikku, di mana pun kau sembunyikan dia. Malam ini aku hanya mengirim pesan—dan pesan itu adalah anak yang satu ini, peretasmu. Bukti milik ayahmu. Yang menautkan aku, dan orang di atasku. Bramantyo menyembunyikannya, dan aku tahu si bungsu tahu di mana—itu sebabnya dia kubiarkan bernapas selama tujuh tahun. Jadi entah kau sudah menggali rahasianya, atau Dani yang akan menggalinya untukku begitu kuambil dia lagi. Tak masalah bagiku yang mana. Bawa apa pun yang kau temukan ke gudang lima, besok, tengah malam. Sendiri. Serahkan padaku, dan kuberikan kembali peretasmu hidup-hidup. Atau dia kukembalikan sepotong-sepotong, dimulai dari yang menulis kode." Jeda. "Kau punya dua puluh satu jam. Dan jangan menghina aku dengan polisi. Wibowo milikku."
Video berakhir.
Renjana duduk diam. Di luar, hujan turun pelan, suara yang sama dengan malam ia dibuang ke sungai. Ia hampir kehilangan adiknya lagi malam ini—sedetik lebih lambat di koridor itu dan tangan-tangan tua itu akan mengangkat Dani, bukan Kelana. Adiknya selamat, meringkuk di sudut ruangan ini, tapi Kelana ada di video itu, dan ancaman terhadap Dani kini berbunyi keras di telinganya. Ia mengenali sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya—bukan takut. Sesuatu yang lebih tua. Hasrat untuk menyalakan kembali mesin yang selama ini ia tahan: mesin yang menyelesaikan masalah dengan darah.
"Ingat jalan pulang." Suara Karyo, dari ingatan, di gudang yang berbeda, di hidup yang berbeda.
Arsa memutar video itu lagi di meja dapur—Arsa dengan rambut acak dan luka jahitan di lengan yang belum sembuh dari Garda; Maya, yang sudah seminggu tinggal di sini demi perlindungan, kini menatap layar dengan tangan menutup mulut. Dani diam di sudut, tak mau menatap layar, bahu kurusnya tegang. Renjana hanya membiarkan video berputar sekali. Ia tak mau melihat wajah Kelana lebih dari yang perlu, dan ia tak sanggup mendengar ancaman atas adiknya diucapkan dua kali di depan Dani sendiri.
"Mereka tahu lokasi kita," kata Arsa pelan, suaranya getir. "Persembunyian ini bersih. Tak ada nama, tak ada listrik, tak ada jejak. Mereka tak menemukannya lewat data—mereka menemukannya lewat orang. Seseorang melihat sesuatu. Sebuah plat nomor, sebuah wajah di kamera lalu lintas Wibowo." Ia menutup mata. "Mereka datang untuk Dani. Hanya nasib baik—dan Kelana yang berteriak—yang membuat mereka pulang dengan orang yang salah."
"Bukan salahmu," potong Renjana, lebih tajam dari yang ia mau. Lalu, lebih lembut, "Bukan salah siapa pun kecuali Reksa. Aku yang menarik Dani keluar dari sekapan. Aku juga yang nyaris membiarkannya direbut kembali malam ini." Suaranya nyaris pecah, lalu ia menguncinya rapat. "Tapi sekarang bukan waktunya menyalahkan. Sekarang waktunya berpikir."
Maya menggeleng. "Reksa memegang satu orang kita—Kelana—dan menjadikan adikmu ancaman berikutnya. Kalau kau serahkan buktinya, semua yang kita bangun—Sigit, Damar yang hampir membelot, seluruh peta Pandu, bahkan rekaman ayahmu—jadi sia-sia. Reksa menang. Dan dia tetap akan membunuh Kelana untuk menutup mulut."
"Aku tahu," kata Renjana.
"Tapi kalau kau tidak serahkan—" Maya tak menyelesaikannya.
Renjana berdiri, berjalan ke jendela. Pradipa berkilau di bawah hujan, menara-menara kaca yang dibangun di atas uang darah. Ia memikirkan Dani—tiga minggu adiknya tidur di bawah atap yang sama, perlahan belajar lagi cara menjadi manusia, mulai menangis, mulai mengingat Belang dan Ibu dan Ayah. Malam ini pemulihan yang rapuh itu nyaris direnggut kembali; Dani selamat, tapi tatapannya sudah menutup lagi, mundur ke tempat dingin yang Reksa tanam tujuh tahun. Ia memikirkan tujuh tahun. Lalu ia memikirkan satu anak kurus lain yang dulu hidup dari menjual data curian, yang ia tarik ke dalam perang ini dengan janji uang dan utang lama pada Karyo, dan yang kini membayar dengan wajahnya di video itu.
Satu nyawa di tangan Reksa. Satu adik yang harus ia jaga jangan sampai jadi yang berikutnya. Reksa pikir ia memegang kendali atas keduanya.
Reksa memberinya pilihan biner—serahkan bukti, atau Kelana mati. Itu kesalahannya. Reksa selalu berpikir hidup terdiri dari dua pilihan—karena ia tak pernah cukup pintar untuk pilihan ketiga.
"Dani harus kita kunci rapat," kata Renjana akhirnya, lebih ke dirinya sendiri, memaksa logika dingin menutupi luka. "Reksa akan datang untuknya lagi—dia mengatakannya sendiri di video itu. Tak boleh ada celah kedua. Mulai malam ini Dani tak lepas dari pengawasan kita, satu pun." Ia berbalik. "Tapi Kelana tidak punya waktu. Reksa akan membunuhnya begitu merasa tak lagi berguna. Jadi malam ini kita selamatkan Kelana—tanpa menyerahkan bukti apa pun, dan tanpa membiarkan Reksa mendekati Dani."
"Dan kalau Reksa membalik dan menyerang ke sini lagi saat kau di gudang itu?" tanya Maya pelan.
"Maka adikku ada di tempat yang bahkan aku tak akan beri tahu kalian malam ini," kata Renjana. "Aku tidak akan kehilangan Dani dua kali. Reksa menyebutnya 'kunci' di videonya sendiri—dia masih mengira Dani satu-satunya jalan ke bukti ayahku, padahal jam itu sudah lama kita gali dan amankan. Selama Reksa percaya kebohongan itu, dia ingin Dani hidup. Itu satu-satunya kartu yang kupegang untuk adikku—dan aku akan memainkannya sampai habis."
"Lalu Kelana?" kata Arsa. "Reksa menukar Kelana untuk bukti yang tak akan kau berikan."
"Aku tidak akan menyerahkan bukti," kata Renjana. "Dan aku tidak akan kehilangan Kelana."
"Itu mustahil," kata Maya.
"Tidak. Itu cuma sulit." Ia menarik kursi, duduk, dan untuk pertama kali sejak malam pecah, sesuatu menyala di matanya yang bukan kelelahan. "Reksa pikir dia memegang satu sandera dan semua kartu. Sebenarnya dia memberitahuku tiga hal. Lokasi Kelana, yang dia kira aman. Bahwa Garda—atau sisa regunya—ada di sana menjaga. Dan bahwa dia begitu putus asa sampai menampakkan diri sendiri ke permukaan, terpisah dari Pandu." Ia menatap Arsa. "Kapan terakhir Reksa keluar tanpa lapisan perlindungan Pandu?"
"Tidak pernah," kata Arsa pelan. "Sejak Silla—sejak kau—terbongkar, Pandu mengawasinya seperti aset yang rusak."
"Berarti besok malam dia akan sendirian dengan kelemahannya. Dan aku akan datang. Bukan dengan bukti." Renjana membuka laptop. "Tapi dengan sesuatu yang dia tidak duga."
Ia mulai mengetik. Kelana mengajarinya cukup banyak dalam berbulan-bulan ini—cukup untuk membuat satu file. Bukan bukti asli ayahnya; kartu memori dari jam tua itu, dengan rekaman suara Pandu, tetap terkunci di tempat yang hanya ia dan Laras tahu. Yang ia rakit malam ini adalah replika. Cangkang yang terlihat seperti emas dan ke dalamnya kosong—folder berisi potongan yang tampak meyakinkan tapi tak menautkan apa pun, dirancang untuk runtuh hanya setelah Reksa membawanya dan merasa menang.
"Kau membuat umpan," gumam Arsa.
"Aku membeli waktu," koreksi Renjana. "Umpan untuk lain hari. Malam ini aku butuh sesuatu yang lebih cepat." Ia menoleh ke Arsa. "Kau masih punya akses ke jadwal patroli pelabuhan yang kita kuasai dari Hendra?"
Arsa mengangguk perlahan, mulai mengerti.
"Reksa memilih gudang lima karena dia kira itu wilayahnya. Tapi seluruh jalur logistik itu kita yang pegang sejak Hendra jatuh. Pintu, kamera, jadwal jaga." Renjana mengeluarkan buku catatan kecil dari saku—bukan buku empat nama, yang itu ia simpan lebih dekat ke jantung, tapi yang ini untuk operasi. "Dia masuk ke kandang dan mengira itu sarangnya."
Harga akan tetap ada. Ia tahu itu. Setiap kemenangan tujuh tahun ini selalu menggigit balik. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menyusun rencana untuk membunuh.
Ia menyusun rencana untuk menyelamatkan.
Di luar, hujan mulai reda. Subuh memucat di langit Pradipa. Renjana menulis, dan di sebelahnya Arsa menggambar denah gudang dari ingatan, dan Maya menyalakan ponsel terenkripsi untuk menghubungi satu nama yang belum ia sebut di depan yang lain.
Inspektur Larasati.
Reksa bilang jangan menghina dia dengan polisi.
Renjana tersenyum tipis, kosong. Reksa, seperti biasa, salah menebak permainan apa yang sedang dimainkan.