Mengeluarkan pot bunga itu dari gudang penyitaan adalah operasi tersendiri—Laras yang melakukannya, secara sah, dengan surat perintah pemeriksaan ulang barang bukti kasus lama yang ia tandatangani sebagai penyidik resmi. Itu cerdas: bukti yang diambil lewat jalur hukum tidak bisa dirobek pengacara Pandu di pengadilan nanti. Renjana belajar—dari Laras—bahwa kebersihan prosedur adalah baju zirah.
Mereka membuka jam tangan tua itu di apartemen kosong, di bawah lampu meja, dengan tangan-tangan yang gemetar. Bukan karena emosi—karena tahu apa yang dipertaruhkan. Di dalam tutup belakang jam, terselip sebuah kartu memori micro, sebesar kuku, dilapisi plastik kedap, terjaga tujuh tahun di dalam tanah bersama bangkai seekor kucing kecil bernama Belang.
Kelana memasangnya. Jarinya gemetar—trauma, bukan kopi. Folder terbuka.
Ruangan itu hening sempurna selama beberapa menit, saat mereka membaca apa yang dikumpulkan Bramantyo Mahendra sebelum ia mati: bukan sekadar bukti pencucian Reksa, tapi rekaman audio rapat-rapat tertutup, salinan transfer, dan sebuah catatan keuangan yang menautkan semuanya ke satu nama yang membuat Laras menahan napas.
Senator Pandu Adiwangsa.
"PA," bisik Arsa.
Rekaman itu adalah suara Pandu sendiri—memerintahkan, dengan tenang seorang yang merasa kebal, agar "masalah Bramantyo diselesaikan permanen sebelum laporannya sampai ke pusat". Ada aliran dana suap ke pejabat, ke Komisaris Wibowo, ke jaksa, ke media. Ada bukti bahwa pembantaian keluarga Mahendra bukan keputusan Reksa—Reksa hanyalah tangan yang ketakutan, melaksanakan perintah dari atas. Bramantyo tahu, entah bagaimana, bahwa nyawanya dalam bahaya, dan ia menanam bukti pamungkas ini di tempat paling tidak terduga: pada anak bungsunya, dalam jam tua kakek, dikubur bersama seekor kucing.
"Ini bisa meruntuhkan bukan cuma Wijanarko Group," kata Laras pelan, wajahnya pucat. "Ini bisa meruntuhkan setengah struktur kekuasaan kota ini. Pejabat. Polisi. Mungkin sampai parlemen." Ia menatap Renjana. "Ayahmu mati memegang ini."
"Ayahku mati melapor pada polisi," kata Renjana, dan suaranya bergetar. "Sistem yang seharusnya melindunginya justru membunuhnya, karena sistem itu sudah dibeli. Itu sebabnya tujuh tahun aku tidak percaya pada hukum." Ia menatap Laras. "Kau yang mengubah itu. Sedikit."
Dani berdiri di ambang pintu, menatap layar yang menampilkan kebenaran tentang malam yang mencuri keluarganya. Untuk pertama kali ia melihat seluruh gambaran—dan untuk pertama kali, ia tidak menangis. Ia hanya berkata, dengan suara seorang anak yang akhirnya menjadi dewasa: "Bagus. Sekarang jatuhkan mereka."
Tapi Renjana tahu—dan ia memaksa timnya yang lelah dan menang itu untuk mengingat—bahwa memiliki senjata pamungkas tidak sama dengan memenangkan perang. Kalau mereka mempublikasikan ini sembarangan, sebelum waktunya, sebelum tiga front siap serempak, Pandu punya kuasa untuk membungkam semuanya: membunuh saksi, menghapus berkas, membeli setiap koran, menjebloskan Renjana ke penjara sebagai "buronan yang menyebar fitnah". Bukti yang dilepas asal-asalan adalah bukti yang mati sia-sia, persis seperti laporan ayahnya tujuh tahun lalu.
"Ini tidak boleh berakhir seperti laporan Ayah," kata Renjana, menutup laptop dengan hati-hati seperti menutup peti pusaka. "Ayah benar, tapi dia sendirian, dan dia mempercayakannya pada sistem yang busuk. Kita tidak akan mengulang kesalahan itu." Ia menatap mereka satu per satu—Arsa, Kelana, Laras, Dani. "Kita punya bukti yang bisa meruntuhkan negara. Sekarang kita butuh eksekusi yang sempurna. Tiga front. Satu jendela waktu. Tidak ada celah untuk mereka membungkam kita."
Ia berdiri, dan untuk pertama kali dalam tujuh tahun, ketenangan di wajahnya bukan ketenangan seorang pemburu, tapi seorang yang melihat ujung jalan—dan memilih untuk pulang lewat pintu yang benar.
"Mari kita rencanakan badai."