Dani tidur dengan lampu menyala. Tiga minggu sejak diselamatkan, dan ia masih terbangun tengah malam, terkadang memanggil "Om Reksa" dengan suara seorang anak yang takut, terkadang menatap Renjana dengan benci yang ditujukan ke arah yang salah. Penyelamatan jiwa, Renjana belajar, tidak punya garis akhir yang jelas seperti neraca.
Tapi malam ini ia harus bertanya. Front hukum macet di rekening "PA". Tanpa bukti yang menautkan Pandu, mereka hanya bisa menjatuhkan Reksa—dan Reksa hanyalah algojo. Dalang sebenarnya akan lolos, membangun kembali, dan suatu hari mengirim orang ke pintu Dani. Renjana tidak bisa membiarkan itu.
Ia duduk di lantai dekat ranjang Dani—seperti dulu Dani tidur di lantai dekat ranjangnya saat petir—dan bicara pelan.
"Dani. Aku perlu tanya sesuatu, dan aku perlu kau coba mengingat. Bukan apa yang Reksa ceritakan padamu. Apa yang benar-benar kau ingat."
Dani menarik selimut lebih tinggi. "Aku tidak suka mengingat."
"Aku tahu. Aku juga tidak. Aku menghabiskan tujuh tahun mencoba tidak mengingat wajah ibu." Renjana menelan sesuatu yang keras di tenggorokannya. "Malam itu. Sebelum semuanya. Apa Ayah memberimu sesuatu? Mengatakan sesuatu padamu yang dia bilang harus kau rahasiakan?"
Dani diam lama. Lalu, hampir tak terdengar: "Ayah memberiku jam tangannya. Yang lama, yang rusak, yang dia bilang punya kakek. Dia bilang—" napas anak itu memburu. "Dia bilang, 'Jaga ini, Dani. Kalau ada yang menanyakan tentang Ayah, jangan kasih ke siapa pun kecuali kakakmu. Cuma kakakmu. Di dalamnya ada hal yang bisa menjaga kita.'"
Renjana membeku. Jam tangan. Itu sebabnya. Itu sebabnya Reksa membiarkan Dani hidup—Reksa tahu Bramantyo memberi sesuatu pada anak bungsunya, tapi Dani terlalu kecil, terlalu trauma, dan akhirnya lupa atau menyembunyikannya. Selama tujuh tahun Reksa menjaga Dani sebagai kotak terkunci yang belum bisa ia buka.
"Di mana jam itu, Dani?"
"Mereka mengambil semuanya saat membawaku." Mata Dani berkaca. "Tapi aku—aku menyembunyikannya. Sebelum mereka masuk. Aku masih ingat tangan Ayah gemetar saat memberikannya. Aku masukkan ke—" Ia menutup mata, dan tujuh tahun kebohongan berperang melawan satu kenangan sejati. "Ke dalam Belang."
"Belang?"
"Kuburannya. Pot bunga Ibu. Aku menggali sedikit tanahnya dan mengubur jam itu bersama Belang, karena aku pikir—" suaranya pecah, "—aku pikir tidak ada yang akan mengusik kuburan kucing."
Dan kemudian Dani menangis—benar-benar menangis, untuk pertama kali dalam tujuh tahun, bukan tangis takut tapi tangis duka, tangis seorang anak yang akhirnya mengizinkan dirinya kehilangan keluarga yang selama ini dipaksa ia lupakan. Renjana memeluknya, dan adiknya tidak menarik diri. Tubuh kecil itu—tidak lagi kecil, tapi terasa seperti adik yang dulu ia gendong—berguncang di pelukannya.
"Aku ingat sekarang," bisik Dani di antara isak. "Aku ingat Ibu. Aku ingat Ayah. Aku ingat kau." Ia mencengkeram baju Renjana. "Maaf. Maaf aku membencimu. Maaf aku percaya dia—"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan," kata Renjana, dan air matanya sendiri—yang membeku tujuh tahun—mulai meleleh. "Kau anak-anak. Mereka mencuri ingatanmu. Tapi kau mengubur kebenaran di tempat yang tidak mereka temukan. Kau menyelamatkan kita, Dani. Kau, sejak umur sepuluh tahun."
Ikatan yang dihancurkan tujuh tahun mulai sembuh, satu jahitan menyakitkan demi satu jahitan. Dan di pot bunga ibu mereka—yang Renjana tahu masih ada, disimpan di gudang penyitaan kota sebagai barang bukti yang tak pernah diperiksa ulang—terkubur senjata yang bisa menjatuhkan seorang dalang.