Mereka bertemu lagi tiga hari kemudian, di sebuah unit apartemen kosong yang Laras pilih—bukan kantor polisi, karena Laras sendiri kini tidak tahu siapa di unitnya yang bisa ia percaya. Itu pertanda buruk, dan keduanya tahu.
"Aku sudah memverifikasi sebagian datamu," kata Laras, meletakkan map di meja. "Aliran ke yayasan Ratri sah sebagai bukti—dengan surat perintah yang benar, bisa kubawa ke pengadilan. Tapi rekening 'PA' itu buntu. Setiap kali aku menariknya, jejaknya hilang di balik tembok hukum yang dibangun seseorang yang sangat berkuasa." Ia menatap Renjana tajam. "Kau tahu siapa PA."
"Aku punya dugaan kuat," kata Renjana hati-hati. "Tapi kalau aku salah menuduh orang dengan nama itu, kita berdua mati sebelum sidang pertama. Aku butuh bukti yang tidak terbantahkan dulu. Dan aku tahu di mana bukti itu mungkin ada."
"Dengan adikmu."
Renjana terdiam. "Ayahku menyembunyikan sesuatu. Itu sebabnya Dani dibiarkan hidup tujuh tahun—bukan belas kasihan, tapi karena Reksa, dan orang di atas Reksa, butuh apa yang Dani tahu. Aku belum tahu apa persisnya. Tapi aku akan mencari tahu."
Laras menyilangkan tangan. "Sebelum kita lebih jauh, kita perlu kesepakatan. Garis yang tidak boleh dilewati. Karena kalau kau melewatinya, aku bukan sekutumu—aku yang menangkapmu, dan aku akan melakukannya."
"Sebutkan."
"Satu. Tidak ada pembunuhan. Tidak Reksa, tidak Garda, tidak Pandu—siapa pun PA itu. Tidak ada. Begitu kau membunuh, kau bukan korban lagi; kau pelaku, dan semua bukti kita jadi tidak berarti karena kau jadi monster yang sama." Laras menatapnya tanpa berkedip. "Aku sudah baca berkasmu. Aku tahu kau punya pistol. Aku tahu kau menahan diri. Aku ingin kau menahan diri sampai akhir."
"Dua." Laras melanjutkan. "Semua lewat bukti yang sah. Tidak ada pengakuan yang dipaksa di gudang gelap, tidak ada penyiksaan, tidak ada bukti yang dirakit. Pengadilan akan merobek kasus yang kotor. Kalau kita mau ini bertahan, harus bersih."
"Tiga." Suara Laras melembut sedikit, dan justru itu yang membuatnya lebih berat. "Kau menanggung konsekuensimu sendiri. Manipulasi keuangan, penyusupan, pemalsuan dokumen—kau melakukan kejahatan untuk melawan kejahatan. Saat ini selesai, kau akan menghadapi hukum untuk itu. Aku tidak bisa menjanjikan kau bebas. Aku cuma bisa menjanjikan kau diadili dengan adil—sesuatu yang tidak diberikan kota ini pada keluargamu."
Renjana menatap meja. Tujuh tahun ia membayangkan akhir dari ini—dan dalam setiap bayangan, ia tidak pernah membayangkan dirinya di kursi terdakwa. Tapi Karyo pernah berkata: jalan pulang tidak gratis. Kau membayar untuk kembali jadi manusia.
"Aku terima ketiganya," katanya.
Untuk pertama kali, sesuatu yang mirip rasa hormat melintas di wajah Laras. "Kalau begitu kita punya kasus."
Tapi saat Renjana pergi, Laras tetap di apartemen itu, menatap ponselnya. Tiga panggilan tak terjawab dari nomor di dalam unitnya—nomor yang seharusnya tidak tahu ia ada di sini. Seseorang di tim Laras mengawasinya. Pandu sudah menyusup ke dalam jalur hukum itu sendiri. Dan Laras, untuk pertama kali dalam kariernya yang bersih, merasakan ketakutan yang nyata.