Inspektur Larasati duduk sendirian di kedai kopi 24 jam di pinggir kota, di meja sudut, membelakangi dinding—kebiasaan penyidik. Pukul dua dini hari. Ia datang sendirian, seperti yang diminta pesan misterius itu, melawan setiap protokol yang ia ajarkan pada anak buahnya. Ia datang karena pesan itu ditandatangani satu kata: "Silla."
Renjana masuk lewat pintu belakang. Ia tahu Laras kemungkinan membawa senjata. Ia tahu ini bisa berakhir dengan borgol—atau lebih buruk, kalau ternyata Laras bagian dari unit yang sudah disusupi Pandu. Tapi tanpa front hukum, seluruh rencananya hanya darah yang ditunda.
Ia duduk di hadapan pemburunya, dan meletakkan sebuah hard drive di meja.
"Renjana Asmara," kata Laras, tidak menyentuh hard drive. "Atau haruskah kupanggil Silla Mahendra. Aku menutup berkas kasus pembantaian Mahendra tujuh tahun lalu di kepalaku sebagai 'terlalu rapi untuk jujur'. Lima jenazah, kasus ditutup dalam tiga minggu, komisaris yang menanganinya pensiun dini dengan rumah baru." Ia mencondongkan badan. "Lalu sebelas bulan lalu, seorang pemodal muncul, dan orang-orang di sekitar Wijanarko mulai berjatuhan. Hartono. Hendra Lawu. Sigit menghilang. Aku tahu ada tangan. Aku tidak tahu tangannya milik hantu."
"Aku bukan hantu," kata Renjana. "Aku gadis yang seharusnya mati di sungai dan tidak."
"Kau juga buronan yang dituduh penggelapan dan penculikan."
"Penculikan adik kandungku sendiri dari penjara Reksa Wijanarko. Penggelapan yang dirakit dua hari lalu oleh orang yang membantai keluargaku." Renjana mendorong hard drive maju. "Di sini ada bukti pencucian uang Wijanarko Group lewat yayasan Bu Ratri. Aliran dana lintas negara yang dirancang Sigit Prawira. Dan benang ke sebuah rekening berkode 'PA'. Aku tahu apa yang dilakukan tanganku selama ini melanggar hukum. Aku tidak meminta pengampunan. Aku meminta kau melakukan tugasmu."
Laras menatap hard drive seperti menatap ular. "Kau menyerahkan dirimu sendiri ke dalam berkas tuntutan."
"Ya."
"Kenapa?"
Renjana diam sejenak. Lalu: "Karena aku punya adik yang sedang belajar lagi cara jadi manusia. Dan aku tidak bisa mengajarinya kalau aku sendiri jadi monster. Aku bisa membunuh Reksa. Aku punya kemampuan dan alasan. Tapi kalau aku membunuhnya, akulah yang kalah." Ia menatap mata Laras. "Aku butuh kau, Inspektur. Bukan karena aku percaya polisi—aku tidak. Tapi karena kau bersih. Dan di kota ini, orang bersih lebih langka dari emas."
Laras menatapnya lama, sangat lama. Di luar, lalu lintas dini hari mengalir sepi. Akhirnya ia menarik hard drive ke sisinya.
"Aku tidak menangkapmu malam ini," kata Laras. "Bukan karena aku percaya padamu. Karena aku sudah lama tahu Wibowo busuk, dan benang 'PA' itu membuatku tidak bisa tidur tiga bulan." Ia berdiri. "Tapi dengar baik-baik. Mulai sekarang, kita main dengan aturanku. Dan kalau kau berbohong padaku satu kali saja—aku akan memburumu dengan kemampuan yang sama yang hampir membuatku menangkapmu sekarang."
"Setuju," kata Renjana.
Aliansi paling tidak mungkin di Kota Pradipa terbentuk di meja sudut sebuah kedai kopi, di antara dua perempuan yang sama-sama memburu monster yang sama dari arah berlawanan.