Tim itu compang-camping. Renjana menghitung kerugiannya seperti seorang akuntan menutup neraca yang berdarah.
Kelana terluka dan trauma—jarinya gemetar di keyboard sekarang, dan ada saat-saat ia menatap kosong, teringat peluru yang nyaris membunuhnya. Maya, sang jurnalis, berada di rumah aman di luar kota di bawah perlindungan setelah nyaris diculik Garda; ia masih menulis, tapi dari pengasingan. Bagas—sekutu abu-abu, sang pengkhianat yang membocorkan identitas Silla—menghilang, buron dari semua pihak, termasuk dari Pandu yang kini menganggapnya beban. Pak Wira sudah tiada; hanya warisan finansialnya yang menopang mereka, dan itu pun menyusut tiap hari saat Reksa memburu aset-asetnya.
Yang tersisa: Renjana, Arsa, Kelana yang rapuh, Dani yang terbelah, dan Maya dari jauh. Melawan sebuah jaringan kriminal, seorang konglomerat, dan seorang senator yang menggenggam negara.
Renjana mengumpulkan mereka di gudang Karyo, membentangkan papan—seperti yang dulu ia lihat Laras lakukan—dan untuk pertama kalinya menjelaskan seluruh rencana akhir, bukan setengah-setengah.
"Selama tujuh tahun aku merencanakan dendam dengan cara yang salah," katanya. "Aku pikir aku harus menjadi lebih kejam dari mereka untuk menang. Itu jebakan. Karena kalau aku menang dengan menjadi mereka, Dani tetap kehilangan keluarganya—cuma kali ini lewat tanganku."
Ia menunjuk papan, yang ia bagi tiga kolom.
"Front pertama: finansial. Aku tahu arus uang Reksa lebih baik dari Reksa sendiri sekarang, berkat peta Sigit. Kita tidak mencuri uangnya. Kita meruntuhkan strukturnya—memicu gagal bayar, membongkar perusahaan cangkang, membekukan aset lewat celah hukum yang sah. Kerajaan yang dibangun dari uang haram runtuh kalau uangnya berhenti mengalir."
"Front kedua: hukum." Ia ragu di sini, karena ini front yang paling ia takuti. "Kita butuh penegak hukum yang bersih. Satu orang. Yang mau menangkap mereka dengan bukti sah, bukan menutupinya."
"Inspektur Laras," kata Arsa pelan. "Penyidik yang membuntutimu sepanjang ini."
"Pemburu kita," kata Renjana. "Ya. Aku akan menyerahkan diri padanya—sebagian. Itu pertaruhan terbesar."
"Front ketiga: publik." Ia menunjuk foto Maya. "Reksa dan Pandu kuat karena mereka tak terlihat. Begitu seluruh negeri tahu apa yang mereka lakukan, kekuasaan mereka jadi racun. Pejabat menjauh, mitra kabur, bank menutup pintu. Maya yang membawa kebenaran ke publik—di saat yang tepat, serempak dengan dua front lain."
Kelana mengangkat wajah. "Kalau salah satu front gagal—"
"Maka semuanya gagal," Renjana mengakui. "Karena begitu mereka lihat satu serangan, mereka punya waktu membungkam yang lain. Tiga front harus jatuh dalam jendela waktu yang sama. Beberapa jam, bukan hari." Ia menatap mereka satu per satu. "Aku tidak bisa memerintahkan kalian melakukan ini. Aku sudah menghilangkan terlalu banyak orang. Wira. Hampir Maya. Hampir Kelana. Hampir Arsa." Suaranya nyaris pecah. "Kalau ada yang ingin pergi, pergilah sekarang. Aku tidak akan menyalahkan."
Tidak ada yang bergerak. Dani, dari sudut, berkata pelan—suara pertamanya yang tegas sejak diselamatkan: "Aku mau lihat Om Reksa jatuh. Aku tidak peduli caranya."
"Bukan dengan darah, Dani," kata Renjana cepat.
Dani menatapnya lama. "Kalau begitu ajari aku cara yang lebih sakit."
Dan di gudang itu, di antara reruntuhan, sebuah tim yang hancur memutuskan untuk berdiri kembali.