Pada pukul tujuh pagi, foto Renjana Asmara muncul di tiga portal berita lokal sekaligus, di bawah judul yang sama: "Pemodal Misterius Diburu Terkait Penggelapan Dana Yayasan & Pembunuhan." Wajahnya. Nama palsunya. Dan tuduhan yang dirakit dengan rapi—pencucian uang, penculikan "anak di bawah perwalian yayasan", percobaan pembunuhan terhadap seorang petugas keamanan bernama Garda.
Reksa dan Pandu tidak menyatakan perang dengan peluru. Mereka menyatakannya dengan tinta dan stempel negara. Itu jauh lebih mematikan.
"Mereka membalikkan senjata kita," kata Kelana, menatap layar di apartemen aman, wajahnya pucat. Bahunya masih terbalut. "Hukum, pers, polisi—semua yang mau kita pakai buat menjatuhkan mereka, sekarang dipakai buat menjatuhkan kita. Cerdas. Brengsek, tapi cerdas."
Renjana berdiri di tengah ruangan, membaca dengan ketenangan yang membuat Arsa khawatir. Dani meringkuk di sofa, menatap layar yang menampilkan wajah kakaknya disebut buronan, bingung di tengah dunia yang baru dua hari ia masuki kembali.
Mereka kini buronan. Bukan hanya dari jaringan Reksa—dari negara. Komisaris Wibowo, perwira korup yang menggantikan peran Bagas, sudah mengeluarkan perintah pencarian. Setiap kamera lalu lintas di Kota Pradipa adalah mata musuh. Setiap pos polisi adalah jebakan. Rekening Renjana—yang resmi—dibekukan dalam hitungan jam.
"Kita pindah," kata Renjana. "Gudang lama Karyo di kampung pemulung. Tidak ada yang akan mencari kita di tempat yang dianggap sampah." Ia mengepak dokumen, hard drive, foto biru. "Kelana, putus semua jejak digital. Arsa, kita butuh daftar siapa di kepolisian yang masih bisa dipercaya—kalau ada. Dani—" Ia berhenti. "Dani ikut aku."
Di gudang reyot tempat ia dulu dirawat seorang pemulung tua, di antara bau karat dan kenangan, Renjana berdiri di hadapan pilihan yang sudah dijanjikan kitab hidupnya sejak awal. Ia memegang dua benda. Di tangan kiri, sebuah pistol yang dibelinya dari pasar gelap—jalan darah. Tarik pelatuk, satu per satu, sampai Reksa dan Pandu jadi mayat. Cepat. Memuaskan. Dan ia akan menjadi persis seperti mereka.
Di tangan kanan, hard drive berisi remah-remah bukti yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan—jalan kebenaran. Lebih lambat. Lebih berisiko. Bisa gagal. Bisa membuatnya mati sebelum keadilan tegak.
"Kalau jadi monster," suara Karyo bergema dari tujuh tahun lalu, "ingat jalan pulang."
Dan di sofa, Dani—yang baru saja ia tarik keluar dari kegelapan—menatapnya. Kalau Renjana memilih darah, anak itu akan tumbuh besar dengan kakak seorang pembunuh. Persis seperti Reksa membesarkannya dengan kebohongan.
Renjana menatap pistol lama. Lalu ia meletakkannya di laci, dan menutup laci itu. Tidak ia buang—ia belum sekuat itu. Tapi tidak ia pakai.
"Kita tidak akan menembak mereka," katanya pada timnya, suaranya pelan tapi tak tergoyahkan. "Kita akan menjatuhkan mereka dengan cara yang lebih buruk dari mati. Kita akan membongkar mereka. Kebenaran. Itu senjata kita." Ia menatap wajah-wajah lelah di sekelilingnya. "Mereka menyatakan perang dengan tinta. Kita balas dengan tinta. Tapi tinta kita benar."