Operasi kedua tidak boleh gagal, karena tidak akan ada operasi ketiga. Arsa, dari dalam organisasi, memberi tahu jadwal: Reksa memerintahkan Dani dipindahkan lagi dalam tiga hari—kali ini ke luar kota, ke tempat yang tidak akan bisa dilacak. Itu jendela terakhir.
Rencana Renjana adalah perpaduan tipu daya dan aksi, bukan serbuan frontal. Kelana, dari jarak jauh, mematikan jaringan listrik rumah peristirahatan tepat saat senja—mensimulasikan gangguan teknis yang sudah ia tanam dua hari sebelumnya. Genset menyala dalam delapan detik, tapi delapan detik adalah seumur hidup. Dalam kegelapan singkat itu, Renjana—kembali masuk sebagai petugas audit, kali ini dengan alasan "memeriksa sistem darurat"—sudah berada di lantai dua.
Ia membuka pintu kamar Dani. Di meja, foto biru itu masih ada. Tidak dibuang. Itu pertanda.
"Aku datang seperti janjiku," kata Renjana. "Sekarang kau memilih. Tinggal dengan orang yang membunuh ayah ibu kita, atau ikut dengan kakak yang menghabiskan tujuh tahun mencarimu. Aku tidak akan menyeretmu. Tapi pintu ini cuma terbuka satu kali."
Dani berdiri. Tubuhnya gemetar hebat, terbelah antara tujuh tahun kebohongan dan satu foto kebenaran. "Kalau kau bohong—" katanya.
"Aku punya nama untuk membuktikannya," potong Renjana. "Tanya aku apa pun yang cuma kakakmu tahu."
"Nama kucing kita."
"Belang. Mati ditabrak saat kau enam tahun. Kau menguburnya di pot bunga ibu dan tidak bicara dua hari."
Sesuatu pecah di wajah Dani. Air mata, akhirnya, setelah tujuh tahun beku. "Belang," ulangnya, seperti mantra, seperti kunci. Lalu ia melangkah—satu langkah, dua—dan ketika genset menyala dan lampu kembali, ia sudah berdiri di sisi Renjana.
Keluar tidak mudah. Seorang penjaga di tangga curiga melihat dua orang turun bersama. Renjana melumpuhkannya dengan semprotan dan satu pukulan ke titik leher—aksi realistis, brutal, tidak elegan; tangannya nyeri sampai pergelangan. Mereka berlari ke mobil yang menunggu, Kelana di kemudi, ban berdecit di kerikil gunung. Dua mobil pengejar muncul di kaca spion. Tembakan menyerempet bagasi. Kelana menyalip truk pasokan, memotong jalan setapak yang sudah ia petakan—dan menghilang ke dalam hutan pinus, mesin meraung, sampai cahaya pengejar lenyap.
Mereka berhasil. Dani bebas.
Tapi kemenangan itu memiliki rasa abu. Di kursi belakang, Dani meringkuk, gemetar, menggumam pada dirinya sendiri—kadang menyebut Reksa dengan benci yang baru dan mentah, kadang menatap Renjana dengan ketakutan, seolah kakaknya juga bagian dari mimpi buruk yang sama. Jiwanya tidak ikut keluar dari rumah peristirahatan itu. Hanya tubuhnya. Tujuh tahun racun tidak luntur dalam satu malam pelarian.
"Aku tidak tahu siapa aku," bisik Dani di kegelapan mobil, dan kalimat itu menyayat Renjana lebih dalam dari pisau Garda.
"Tidak apa-apa," kata Renjana, walau ia tidak yakin itu benar. "Kita cari bersama."
Penyelamatan fisik tuntas. Penyelamatan jiwa baru dimulai.
Dan di Kota Pradipa, kabar itu sampai ke lantai empat puluh sebelum fajar. Garda melapor; darah Arsa di gudang dianalisis; Dani lenyap dari rumah peristirahatan. Reksa Wijanarko duduk di kursinya, menatap kota, dan menyusun semua kepingan: keponakan yang berkhianat, audit yang menyelinap, aset yang lepas, dan satu nama yang menghantui bawah sadarnya selama berbulan-bulan. Renjana Asmara. Anak Bramantyo Mahendra yang dibuang ke sungai. Silla.
"Dia hidup," kata Reksa pada ruangan kosong, suaranya nyaris kagum, nyaris takut. Lalu, dingin: "Dan dia ada di rumahku selama ini."
Ia mengangkat telepon. Babak diam telah usai. Perang terbuka dimulai.