Arsa menepati janjinya. Pada hari ketiga, sebuah pesan terenkripsi masuk lewat saluran Kelana: koordinat sebuah rumah peristirahatan di pegunungan utara Kota Pradipa, terdaftar atas nama yayasan Bu Ratri, dengan anggaran "perawatan taman" yang cukup untuk membiayai dua belas penjaga bersenjata. Di sanalah Dani dipindahkan.
Renjana tidak menyerbu. Ia sudah belajar dari kegagalan operasi pemindahan dulu, ketika Dani meneriakinya sebagai musuh dan menolak diselamatkan. Otot dan peluru tidak bisa mengalahkan kebohongan yang sudah ditanam di kepala seorang anak selama tujuh tahun. Hanya kebenaran yang bisa.
Maka ia memilih cara yang lebih gila: ia masuk sebagai orang Reksa.
Dengan seragam keamanan palsu yang dijahit Kelana, kartu akses yang dikloning dari data curian Arsa, dan rambut yang ia warnai gelap, Renjana melewati gerbang sebagai "petugas audit internal yang dikirim untuk memeriksa pengeluaran fasilitas". Dokumen-dokumennya sempurna—ia menghabiskan tujuh tahun belajar membuat kebohongan yang tahan diperiksa. Penjaga di pintu bahkan menawarinya kopi.
Dani berada di ruang sudut lantai dua, di balik pintu yang tidak dikunci dari luar—karena Dani tidak lagi mencoba kabur. Itu yang paling menyayat: penjara terkejam bukan yang berjeruji, tapi yang membuat tahanannya berhenti ingin pergi.
Anak itu—tujuh belas tahun, tinggi, kurus, dengan mata yang terlalu tua—sedang membaca di kursi dekat jendela. Ia mengangkat wajah saat Renjana masuk, dan Renjana harus mengerahkan seluruh disiplin tujuh tahun untuk tidak runtuh saat itu juga. Wajah ibunya. Mata ayahnya. Adiknya, yang dulu ia gendong di punggung saat kebanjiran, kini menatapnya seperti orang asing.
"Audit lagi?" kata Dani, bosan. "Om Reksa sudah bilang fasilitas ini boros."
Renjana menutup pintu. Lalu, pelan, ia berkata satu kalimat yang tidak ada di skrip mana pun. "Dulu kau takut petir. Kau selalu masuk ke kamarku dan tidur di lantai dekat ranjang, karena gengsi naik ke ranjang."
Buku itu turun perlahan. "Apa?"
"Ibu memanggilmu 'kucing bandel' karena kau selalu mencuri kerupuk dari toples sebelum makan malam. Ayah menyembunyikan toples itu di atas lemari, dan kau memanjat kursi untuk mengambilnya, dan jatuh, dan menangis, tapi tetap tidak mau berhenti." Suara Renjana retak hanya di kata terakhir. "Namamu Dani Mahendra. Dan aku kakakmu."
Wajah Dani memucat, lalu mengeras, lalu berkedut—seolah dua versi dari dirinya sedang berperang di balik kulit itu. "Kakakku mati," katanya, tapi suaranya goyah untuk pertama kali. "Om Reksa bilang—orang-orang jahat membunuh keluargaku, dan Om Reksa menyelamatkanku—"
"Orang-orang jahat itu duduk di lantai empat puluh dengan sepatu kulit mengilap," kata Renjana. "Dan dia menyelamatkanmu karena kau berharga baginya. Bukan karena ia sayang." Ia melangkah maju, dan dari saku dalam ia mengeluarkan satu foto—foto biru, lusuh, satu-satunya yang Karyo selamatkan dari saku Silla di tepi sungai. Foto keluarga Mahendra, lengkap, tersenyum. "Kau masih punya tahi lalat kecil di belakang telinga kiri. Sama seperti di foto ini. Lihat."
Dani tidak mengambil foto itu. Tapi ia tidak memalingkan wajah. Tangannya gemetar.
Di koridor, langkah kaki mendekat. Waktu habis. Renjana meletakkan foto di meja, lalu mundur ke pintu. "Aku akan kembali. Dan saat aku kembali, kau yang akan memilih—bukan aku, bukan Reksa. Kau."
Ia keluar tepat saat seorang penjaga lewat, mengangguk profesional, jantungnya berdebar di rusuk yang masih retak. Setengah berhasil. Dani ragu sekarang. Keraguan adalah retakan pertama di tembok. Dan retakan, Renjana tahu lebih baik dari siapa pun, adalah tempat seluruh bangunan akhirnya runtuh.