Mereka tidak tidur malam itu. Di apartemen aman yang disewa Wira dulu—salah satu warisan yang kini menopang seluruh operasi—Renjana duduk dengan rusuk terbalut perban ketat dan lengan dijahit oleh seorang dokter tua yang berutang nyawa pada Pak Wira. Arsa berdiri di jendela, menatap kota yang basah, dan untuk pertama kalinya Renjana melihat lelaki itu benar-benar ketakutan.
"Garda akan bilang ke Reksa aku menembaknya," kata Arsa. "Kalaupun Garda diam karena malu kalah, darahku ada di lantai itu juga. Pelurunya dari pistolku—pistol yang terdaftar atas nama divisiku. Damar akan tahu dalam dua hari. Reksa dalam tiga."
"Maka kau harus pergi," kata Renjana. Ia memaksa nada itu keluar datar, klinis, seperti membaca laporan rugi. "Kau punya paspor cadangan yang kusiapkan. Akun di Singapura. Pergi malam ini, sebelum mereka menutup bandara untukmu. Aku akan urus Dani."
Arsa berbalik. "Kau menyuruhku lari."
"Aku menyuruhmu hidup."
"Tujuh tahun lalu," kata Arsa pelan, "aku berdiri di tepi sungai dan melihat mereka membuang seorang gadis yang kukira sudah mati. Aku tujuh belas. Aku diam. Aku membiarkan mereka mengirimku ke luar negeri agar aku terus diam. Aku menghabiskan tujuh tahun jadi orang yang lari." Ia melangkah mendekat. "Aku tidak akan melakukannya lagi."
"Ini bukan soal menebus dosa, Arsa." Renjana berdiri, mengabaikan tusukan di rusuknya. "Kalau kau tinggal, kau mati. Reksa tidak mengampuni keponakan yang berkhianat. Dia akan menjadikanmu contoh."
"Dan kalau aku pergi, kau bertarung melawan Reksa, Pandu, Damar, dan Garda sendirian, dengan Dani sebagai sandera dan rusuk retak." Arsa menggeleng. "Aku kenal organisasi ini dari dalam. Aku tahu kode brankas, jadwal Damar, kebiasaan Reksa. Tanpa aku, kau buta. Kau tahu itu. Kau cuma terlalu takut kehilangan orang lagi untuk mengakuinya."
Renjana membuka mulut, lalu menutupnya. Karena itu benar, dan kebenaran dari mulut Arsa selalu menemukan celah di balik dinding yang sudah ia bangun selama tujuh tahun.
"Aku sudah membakar jembatanku," kata Arsa lebih lembut. "Tadi malam, di gudang itu, saat aku menarik pelatuk. Tidak ada jalan kembali ke meja makan keluarga Wijanarko untukku. Jadi izinkan aku memilih ke mana aku jatuh." Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Renjana, dan untuk sekali ini Renjana tidak menarik diri. "Aku memilih jatuh di sisimu."
Mereka berdiri begitu lama, dahi bertemu dahi, dua orang yang sama-sama belajar bahwa harapan adalah kemewahan paling berbahaya. Lalu Arsa berbisik, "Besok aku akan masuk ke kantor seperti biasa. Aku akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, dan aku akan mencuri setiap rahasia yang masih bisa kucuri sebelum mereka menyadari aku berbalik. Beri aku tiga hari. Aku akan beri kau lokasi baru Dani."
"Itu bunuh diri."
"Tidak," kata Arsa. "Itu cinta. Yang ternyata, untuk orang seperti kita, terdengar sama persis."
Renjana mencium keningnya. Di luar, hujan akhirnya berhenti, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia takut—bukan akan kalah, tapi akan kehilangan sesuatu yang baru saja ia izinkan dirinya miliki.