Dua hari setelah malam tanpa tidur itu—malam ketika ia menyadari bahwa separuh kunci ayahnya terkubur di kepalanya sendiri dan separuh lagi pada Dani—Renjana keluar dari gedung parkir bawah tanah di seberang gudang logistik milik Hendra dulu. Hujan turun seperti paku tipis. Ia datang sendiri—itu kesalahannya. Ia tahu itu kesalahan bahkan sebelum lampu sorot mobilnya padam, tapi ia memilih datang tanpa yang lain dengan sengaja: Kelana ia tinggalkan di apartemen aman untuk terus menggali separuh kunci yang ada padanya, dan Arsa terjebak rapat darurat yang dipanggil Reksa setelah kebocoran Bagas mulai meretakkan samarannya. Renjana butuh berkas terakhir Sigit yang masih tersimpan di brankas gudang ini sebelum Reksa memindahkannya. Membawa satu orang berarti satu nyawa lagi yang ia pertaruhkan, dan ia sudah lelah mempertaruhkan orang. Ia kira ia punya satu jam jeda.
Ia tidak punya.
Bayangan itu lepas dari dinding seperti potongan kegelapan yang memutuskan untuk hidup. Renjana mengenalinya bahkan sebelum cahaya menyentuh wajah lelaki itu—tubuh padat, gerak tanpa suara, cara berdiri yang menempatkan berat di kaki belakang. Tujuh tahun lalu, tubuh sekecil itu pernah dilempar ke aspal oleh tangan yang sama. Garda.
"Aku tahu kau bukan investor," kata Garda. Suaranya datar, hampir lembut. "Orang-orangku melihat wajahmu di gang Jalan Sawo, waktu kau menarik jurnalis itu keluar dari minibus kami. Mereka menggambarkannya untukku. Butuh waktu, tapi aku ingat semua wajah yang seharusnya sudah mati."
Renjana tidak menjawab. Berbicara berarti membuang napas, dan ia tahu ia akan butuh setiap tarikan napas. Ia mundur selangkah ke arah pintu besi, mengukur jarak, mengukur sudut. Senjata utamanya selalu uang, informasi, hukum. Tapi malam ini tidak ada yang bisa dibeli, tidak ada yang bisa dimanipulasi. Hanya beton, besi, dan seorang pembunuh yang lebih kuat darinya.
Garda menyerang lebih dulu.
Pisau—pendek, taktis, dipegang terbalik—datang dari bawah, bukan dari atas seperti yang diharapkan orang awam. Renjana memutar pinggul ke samping; ujung baja menggores lengan kirinya, membakar, basah seketika. Ia menangkap pergelangan Garda, menariknya searah momentum, membantingnya ke dinding. Tujuh tahun ia tidak hanya belajar membaca neraca. Karyo dulu mengajarinya satu hal: orang yang lebih lemah harus bertarung dengan otak, bukan dengan tulang. Renjana mengarahkan kepala Garda ke pipa besi yang menonjol.
Garda menunduk. Pipa itu meleset. Sikunya menghantam tulang rusuk Renjana, dan dunia menyempit jadi titik putih nyeri. Sesuatu retak. Renjana terhuyung, dan tahu—dengan kejernihan dingin yang aneh—bahwa kalau ini berlanjut adu fisik murni, ia akan mati di lantai gudang ini, dan Dani akan tinggal sendirian di kegelapan selamanya.
Maka ia berhenti bertarung untuk menang. Ia bertarung untuk waktu.
Ia melempar dirinya ke rak baja, menjatuhkannya. Drum-drum oli berguling, peti-peti runtuh, menciptakan medan kacau di antara mereka. Garda harus melangkahinya, dan setiap detik adalah hadiah. Renjana menarik ponselnya dengan tangan berdarah, menekan satu tombol—panggilan terakhir yang sudah ia siapkan, kalau-kalau.
"Kau pintar," kata Garda dari balik puing, mendekat dengan kesabaran predator. "Pintar tidak menyelamatkanmu malam ini."
Pintu gudang meledak terbuka.
Cahaya lampu mobil menerobos, membutakan. Sebuah suara—Arsa—berteriak nama Renjana, dan kemudian dua tembakan menggelegar, sengaja melenceng, sengaja untuk mengejutkan. Garda berputar secepat ular. Tembakan ketiga Arsa menyerempet paha pembunuh itu; Garda terjatuh ke satu lutut, mendesis, lalu—seperti yang selalu ia lakukan—memilih hidup di atas kemenangan. Ia bergulir ke kegelapan pintu samping dan lenyap ke dalam hujan, meninggalkan jejak darah dan janji yang tak terucap.
Arsa berlutut di samping Renjana, tangannya menekan luka di lengan. "Bodoh," bisiknya, suaranya pecah. "Kenapa kau ke sini sendirian?"
"Karena aku tidak punya waktu," kata Renjana, dan rasa sakit membuat suaranya seperti milik orang lain.
Tapi ada hal yang lebih buruk dari rusuk yang retak. Arsa baru saja menembak seorang anak buah Reksa, di properti Reksa, untuk menyelamatkan Renjana. Garda hidup. Dan Garda akan melapor.
Topeng Arsa, yang sudah retak, kini benar-benar pecah.