Dua huruf telah menghantuinya selama berhari-hari, dan malam ini Kelana akhirnya memberinya nama.
Mereka berkumpul di apartemen aman yang baru—Renjana, Arsa, Kelana—dengan layar besar di tengah ruangan dan secangkir kopi yang sudah dingin di setiap tangan. Kelana telah menghabiskan tujuh puluh dua jam tanpa tidur, menelusuri rekening "PA" dari peta pencucian yang diserahkan Sigit, lapisan demi lapisan cangkang, lompatan dari yurisdiksi ke yurisdiksi.
"Aku menabrak tembok di setiap belokan," kata Kelana, matanya merah. "Cangkang di Singapura, lalu British Virgin Islands, lalu sebuah yayasan di Swiss yang pemegang manfaatnya disembunyikan. Standar untuk uang gelap. Tapi orang ini terlalu rapi—rapi sampai aku curiga. Orang yang sungguh-sungguh kriminal meninggalkan kekacauan. Orang yang punya pengacara dan akuntan negara meninggalkan kerapian yang sempurna." Ia mengetik. "Jadi aku berhenti mengejar uang, dan mulai mengejar siapa yang menandatangani perlindungannya."
Di layar muncul serangkaian dokumen—izin, lisensi, pembebasan pajak, surat rekomendasi pemerintah—semuanya bertaut pada perusahaan-perusahaan dalam jaring Wijanarko. Dan pada setiap dokumen kunci, di balik lapisan birokrasi, satu nama muncul sebagai penjamin politik, pelindung, pembuka pintu.
Kelana memperbesar tanda tangan terakhir.
"Senator Pandu Adiwangsa," bacanya pelan.
Ruangan itu menjadi sunyi.
Renjana menatap nama itu. Ia mengenalnya, tentu—siapa di Pradipa yang tidak? Pandu Adiwangsa, senator tiga periode, konglomerat infrastruktur, dermawan, wajah yang tersenyum dari papan reklame dan layar berita. Orang yang berdiri di atas panggung amal Bu Ratri tahun lalu, memuji "pengabdian keluarga Wijanarko pada bangsa". Orang yang oleh media disebut calon kuat untuk kursi yang jauh lebih tinggi.
PA. Pandu Adiwangsa.
"Reksa bukan puncak," kata Renjana, suaranya nyaris tak terdengar. Tujuh tahun ia membangun seluruh hidupnya, seluruh dendamnya, di atas keyakinan bahwa Reksa Wijanarko adalah dalangnya. Tangan yang memerintahkan pembantaian. Dan sekarang, di layar dingin ini, kebenaran menata ulang dirinya: Reksa hanyalah lapisan. Algojo yang ketakutan. Tangan, bukan kepala.
"Pikirkan kembali," kata Arsa pelan, suaranya bergetar oleh kesadaran yang sama. "Ayahmu, Bramantyo—ia melaporkan pencucian uang ke polisi. Selama ini kita kira ia melaporkan Reksa. Tapi kalau Reksa hanya menjalankan uang untuk Pandu..."
"Maka laporan ayahku tidak mengancam Reksa," Renjana menyelesaikannya, dan setiap kata terasa seperti pintu yang terbuka ke ruangan yang lebih gelap. "Laporan ayahku mengancam Pandu. Reksa bisa diganti—pencuci uang selalu bisa diganti. Tapi seorang senator yang seluruh kekuasaannya dibangun di atas uang gelap, yang akan jatuh kalau aliran itu terungkap..." Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap papan reklame jauh di seberang kota di mana wajah Pandu Adiwangsa tersenyum pada lalu lintas malam. "Itulah yang membuat seseorang membantai satu keluarga di tengah malam. Bukan ego seorang pengusaha. Ketakutan seorang penguasa."
"Dan telepon malam itu," kata Arsa. "Yang Bagas dengar. Perintah dari atas Reksa untuk menyisakan Dani hidup—"
"Itu Pandu." Renjana berbalik. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, peta di kepalanya tidak menyusut ke satu sasaran, tapi meledak ke luar—dari seorang pengusaha kriminal ke jantung kekuasaan negara itu sendiri. "Reksa tak akan berani menyisakan saksi tanpa perintah. Pandu yang memerintahkan Dani hidup. Yang berarti Pandu menginginkan Dani untuk sesuatu. Sesuatu yang lebih penting baginya daripada menghilangkan saksi."
Kelana menatap dari satu wajah ke wajah lain, pucat. "Bang. Kita... kita bicara tentang menjatuhkan seorang senator. Konglomerat. Orang yang bisa menggerakkan polisi, jaksa, hakim, dengan satu telepon. Reksa saja sudah hampir membunuh kita semua. Pandu—Pandu bisa membuat kita lenyap dan tak ada satu pun koran yang berani menyebut nama kita."
Keheningan menyetujuinya. Mereka semua tahu Kelana benar.
Renjana menatap nama di layar untuk waktu yang lama. Tujuh tahun lalu, seorang gadis tujuh belas tahun bersumpah balas dendam pada orang-orang yang membantai keluarganya, dan ia mengira ia tahu siapa mereka. Empat nama dalam buku catatan: Damar, Hartono, Bagas, Reksa. Daftar yang terasa, dalam kegelapan itu, seperti seluruh dunia.
Sekarang dunia jauh lebih besar, dan jauh lebih gelap, dari yang pernah ia takutkan.
"Maka kita tidak akan menyentuhnya dengan kekerasan," kata Renjana akhirnya, dan ada kepastian dingin yang baru di suaranya—bukan keputusasaan, tapi kejernihan. "Kekerasan adalah bahasanya. Polisi, jaksa, pembunuh—itu semua miliknya. Kalau kita melawan Pandu dengan senjata, kita kalah sebelum mulai." Ia kembali ke meja, ke layar, ke nama yang tersenyum di papan reklame seberang kota. "Tapi seorang senator hidup dari satu hal yang tak bisa ia beli kembali begitu hilang: kepercayaan. Reputasi. Nama. Dan nama dijatuhkan oleh kebenaran, bukan peluru."
Ia mengetuk meja, satu kali, tepat di bawah nama Pandu Adiwangsa.
"Skala dendam kita baru saja berubah. Bukan lagi seorang pengusaha. Sekarang kita akan menjatuhkan sebuah takhta. Dan untuk itu, aku perlu tahu satu hal yang Pandu sendiri kira aman selamanya: apa yang ayahku sembunyikan, yang membuat seorang senator memerintahkan pembantaian satu keluarga demi membungkamnya."