Arsa muncul kembali keesokan paginya—hidup, tapi pucat seperti orang yang baru lolos dari sesuatu yang tak ia ceritakan seluruhnya.
"Aku ditahan semalaman," katanya, suaranya rendah lewat saluran aman. "Bukan ditahan resmi. Reksa memintaku menemaninya 'lembur'. Lalu ia mulai bertanya. Bukan kepadaku langsung. Ia bicara seolah aku tak penting, tapi ia mengamati wajahku setiap kali ia menyebut satu nama."
"Nama apa," kata Renjana, meski ia sudah tahu.
"Mahendra."
Renjana memejamkan mata. Topeng telah retak, dan sekarang Reksa sedang menekan retakan itu untuk melihat apakah ada yang mengalir keluar.
Pagi itu juga, Reksa memanggilnya. Bukan lewat sekretaris—lewat pesan pribadi, hangat, biasa: *Renjana, mari makan siang. Ada yang ingin kubicarakan tentang proyek pelabuhan.* Sebuah undangan yang, dua bulan lalu, tak berarti apa-apa. Sekarang berarti segalanya.
Renjana datang. Tidak datang akan berarti pengakuan. Lari akan berarti kekalahan. Satu-satunya jalan keluar dari retakan adalah berjalan tepat ke tengahnya, dengan wajah sehalus es.
Reksa menyambutnya di ruang makan pribadi di lantai 40—lantai yang sama yang Renjana, tujuh tahun lalu, bayangkan sebagai panggung kejatuhan pria ini. Sepatu kulit Reksa mengilap seperti biasa. Senyumnya lebar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di matanya yang baru: rasa ingin tahu seorang pemburu yang mencium darah tapi belum melihat luka.
"Kau tahu," kata Reksa, sambil mengiris dagingnya, "akhir-akhir ini aku banyak memikirkan masa lalu. Usia, mungkin. Kau punya keluarga, Renjana?"
"Tidak ada yang tersisa," jawab Renjana, dan ini bukan kebohongan, yang membuatnya terdengar sempurna. "Kecelakaan. Lama sekali."
"Hm." Reksa mengunyah, mengamati. "Aku dulu kenal sebuah keluarga. Mahendra. Pengusaha. Sayang sekali—seluruh keluarganya tewas dalam kebakaran. Tragis. Aku masih ingat namanya. Bramantyo. Punya dua anak. Seorang gadis, seorang anak laki-laki."
Reksa berhenti. Menatap. Menunggu satu kedipan, satu napas yang tertahan, satu otot di wajah yang berkhianat.
Renjana memotong dagingnya dengan tangan yang tidak gemetar—karena tujuh tahun ia melatih tangan itu untuk tidak gemetar di atas peti mati keluarganya, dan tubuhnya telah lupa caranya bergetar. "Aku tidak mengikuti berita lama," katanya. "Di duniaku, yang mati tidak menghasilkan apa-apa. Hanya yang hidup yang punya nilai." Ia mengangkat wajahnya, dan menatap balik mata Reksa dengan kebosanan seorang pemodal yang ingin kembali ke angka. "Apa hubungan keluarga ini dengan pelabuhan kita?"
Sesuatu bergeser di wajah Reksa. Bukan kepuasan—Renjana terlalu sempurna untuk memuaskannya—tapi keraguan. Pemburu yang mencium darah tapi tak menemukan luka mulai bertanya apakah baunya datang dari arah lain.
"Tidak ada," kata Reksa akhirnya, tersenyum lagi. "Aku hanya sedang melankolis. Maafkan orang tua."
Mereka bicara tentang pelabuhan selama empat puluh menit. Renjana menjawab setiap pertanyaan dengan presisi seorang ahli, menyelipkan angka-angka yang hanya bisa diketahui Renjana Asmara, mengubur Silla Mahendra di bawah lapisan demi lapisan profesionalisme dingin. Ia bahkan menertawakan lelucon Reksa di waktu yang tepat.
Tapi di bawah meja, jauh dari pandangan, jari-jarinya menekan ke pahanya dengan kekuatan yang akan meninggalkan memar. Karena setiap detik di ruangan ini adalah pertaruhan dengan nyawanya, dan ia tahu—dengan kepastian dingin yang sama yang membuatnya tetap hidup tujuh tahun—bahwa Reksa belum yakin, tapi tak lagi tak yakin. File yang dikirim Bagas telah menanam benih, dan benih itu sedang tumbuh perlahan di kepala Reksa.
Waktunya menipis. Bukan lagi berbulan-bulan. Mungkin berminggu-minggu. Mungkin berhari-hari.
Saat ia berdiri untuk pergi, Reksa menjabat tangannya—erat, lebih lama dari biasanya, matanya mencari sekali lagi.
"Kau orang yang menarik, Renjana," kata Reksa. "Aku merasa seperti aku sudah lama mengenalmu. Seolah kita pernah bertemu sebelumnya."
"Mungkin di kehidupan lain," kata Renjana, melepaskan jabatan itu dengan senyum yang tak menyentuh matanya.
Ia berjalan keluar dari lantai 40 dengan langkah tenang, menunggu sampai pintu lift tertutup sebelum membiarkan tubuhnya bersandar ke dinding logam yang dingin. Topeng masih bertahan. Tapi ia bisa merasakan retakan-retakan halus merambat di permukaannya, dan ia tahu bahwa kucing-kucingan ini punya satu akhir saja: pada akhirnya, Reksa akan melihat wajah Silla di balik wajah Renjana. Pertanyaannya hanya apakah Renjana akan menjatuhkannya lebih dulu.