Renjana menyebar semuanya di lantai apartemen aman, malam itu, seperti seorang investigator merekonstruksi kecelakaan dari serpihan—dan dalam arti tertentu, itulah yang ia lakukan. Merekonstruksi malam yang merenggut hidupnya.
Tiga sumber kebenaran, untuk pertama kalinya disatukan di satu tempat.
Berkas Bagas: laporan forensik asli yang ia simpan—luka tembak, bukan korsleting; jadwal shift; mobil dinas yang masuk pos Jalan Lintas Timur pukul dua dini hari; catatan mayat tukaran. Pengakuan Arsa: apa yang ia lihat dengan mata tujuh belas tahunnya dari balik tangga, dan apa yang ia dengar. Data Sigit: aliran uang—kapan aset keluarga Mahendra dipindahkan, ke mana, oleh siapa, dan rekening "PA" yang menerima potongan terbesar.
Renjana menyusunnya berjam-jam, dengan kesabaran seorang akuntan dan rasa sakit seorang anak. Perlahan, dari kepingan-kepingan dingin itu, malam tujuh tahun lalu bangkit kembali—bukan sebagai trauma yang kabur, tapi sebagai urutan kejadian yang bisa dibaca, baris demi baris.
"Ayahku melapor ke polisi tanggal sebelas," katanya, menelusuri garis waktu di kertas. "Lewat seorang perwira yang ia percaya bersih. Tapi perwira itu melapor ke atasannya, dan atasannya—" jarinya berhenti, "—terhubung ke jaringan Pandu. Tiga hari. Hanya butuh tiga hari bagi laporan itu untuk sampai ke meja orang yang justru dilaporkan."
Arsa duduk di seberangnya, wajahnya tegang. Ia tahu apa yang datang berikutnya, dan ia telah menunggu tujuh tahun untuk berhenti melarikan diri darinya.
"Malam tanggal empat belas," lanjut Renjana. "Pandu memberi perintah. Bukan ke Reksa langsung—lewat lapisan, lewat telepon, supaya tangannya tetap bersih. Reksa mengirim Damar dan regu Garda. Mereka datang bukan untuk merampok. Mereka datang untuk membungkam, dan untuk satu hal lagi: mengambil sesuatu."
"Dokumen," kata Arsa pelan. "Aku melihatnya. Garda menggeledah ruang kerja Pak Bramantyo seperti orang yang mencari benda tertentu. Bukan menjarah. Mencari. Dan—" suaranya tertahan, "—dan ia tampak marah karena tidak menemukannya."
Renjana mengangkat wajahnya. "Apa yang ia cari?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku ingat Reksa, lewat telepon malam itu, berkata pada seseorang: 'Tidak ada di sini. Dia menyembunyikannya.'" Arsa menelan ludah. "Lalu ada balasan dari telepon. Aku tak bisa dengar isinya. Tapi setelah itu, Reksa berubah. Ia memberi perintah baru. Dan perintah itu—" ia menatap Renjana, "—adalah menyisakan anak laki-laki itu hidup."
Renjana menatap kertas-kertas di lantai. Potongan-potongan terakhir jatuh ke tempatnya dengan bunyi yang nyaris bisa ia dengar.
Ayahnya menyembunyikan sesuatu—sesuatu yang Pandu butuhkan, sesuatu yang menjadi alasan seluruh pembantaian ini. Mereka membunuh untuk membungkam ayahnya, tapi mereka tidak menemukan apa yang ia sembunyikan. Dan tanpa benda itu, satu kekhawatiran tersisa di benak Pandu: bagaimana jika anak-anaknya tahu di mana? Bagaimana jika Bramantyo memberitahu salah satu dari mereka?
Sang gadis dianggap mati di sungai. Tapi anak laki-laki itu—Dani, sepuluh tahun—disisakan hidup. Bukan belas kasihan. Bukan kelalaian. Asuransi.
"Mereka menyisakan Dani," kata Renjana, dan suaranya sekarang rata seperti permukaan air yang membeku, "karena mereka belum menemukan apa yang ayahku sembunyikan. Dani adalah satu-satunya jalan yang tersisa menuju benda itu. Selama tujuh tahun mereka menahannya, mungkin menggalinya, mungkin menunggunya cukup dewasa untuk ingat. Mereka menyekapnya bukan sebagai trofi. Mereka menyekapnya sebagai kunci yang belum mereka pahami cara memutarnya."
Kesunyian di ruangan itu terasa seperti tepi jurang.
Karena bagi Renjana, kebenaran ini mengubah segalanya, sekali lagi. Selama berbulan-bulan ia berpikir menyelamatkan Dani adalah persoalan kasih sayang—seorang kakak menarik adiknya keluar dari kegelapan. Sekarang ia mengerti bahwa Dani bukan sekadar adik yang harus diselamatkan. Dani adalah pusat dari seluruh perang ini. Yang Pandu inginkan. Yang Reksa lindungi. Yang menjadi alasan keluarganya dibantai.
"Tujuh tahun aku mengira aku tahu kenapa keluargaku mati," kata Renjana, lebih kepada bayangan ayahnya daripada kepada Arsa. "Karena ayahku jujur. Karena ia melapor. Itu benar—tapi itu hanya separuhnya. Mereka tidak hanya membunuh untuk menghukum kejujurannya. Mereka membunuh untuk mengambil senjata yang ia pegang. Senjata yang bisa menjatuhkan Pandu. Dan ayahku—" ia berhenti, dan untuk sesaat singkat tangannya, yang tujuh tahun tak gemetar, bergetar di atas kertas, "—ayahku menyembunyikannya begitu baik sehingga ia membayar dengan nyawa seluruh keluarga, dan mereka tetap tak menemukannya."
Arsa menjangkau, meletakkan tangannya di lengan Renjana—satu sentuhan, ragu, lalu mantap. Renjana tidak menariknya.
"Itu artinya," kata Arsa lembut, "senjata itu masih ada di luar sana. Tersembunyi. Menunggu."
"Ya." Renjana menatap kegelapan di luar jendela, ke arah di mana, di suatu tempat, adiknya yang terbalik jiwanya disekap sebagai kunci yang ia sendiri tak tahu sedang ia pegang. "Dan satu-satunya orang di dunia yang mungkin tahu di mana, adalah satu-satunya orang yang dididik untuk membenciku."
Dendam, yang selama tujuh tahun adalah tentang masa lalu, malam ini berubah menjadi tentang sesuatu yang masih hidup. Sesuatu yang bisa menjatuhkan seorang dalang. Dan sesuatu yang terkubur, bersama kenangan masa kecil, di kepala seorang anak laki-laki yang telah diajari untuk melupakan namanya sendiri.