Kelana memecah keheningan dini hari dengan satu kata yang membuat seluruh rencana berbulan-bulan terasa runtuh dalam sedetik.
"Hilang."
Renjana, yang belum tidur sejak meninggalkan Bagas, menegakkan badan di depan layar. "Apa maksudmu hilang."
"Vila." Jari Kelana berlari di keyboard, wajahnya pucat oleh cahaya monitor. "Semua sinyal mati. Kamera teknisi yang kupasang lewat jalur pelabuhan—mati pukul tiga pagi. Pasokan rutin dibatalkan. Daftar gaji penjaga vila dipindahkan ke rekening baru yang tak bisa kulacak. Mereka mengosongkan tempat itu, Bang. Dalam satu malam."
Renjana menatap rekaman terakhir yang berhasil ditangkap Kelana sebelum sinyal putus: konvoi tiga kendaraan keluar dari gerbang vila pukul 02.47, lampu mati, bergerak ke utara, lalu masuk ke titik buta di mana tak ada kamera, tak ada sadapan, tak ada mata.
Dani ada di salah satu kendaraan itu. Dan sekarang adiknya menghilang ke dalam lubang yang Renjana tak punya peta untuknya.
"Lacak konvoinya," kata Renjana, tapi ia sudah tahu jawabannya.
"Tidak bisa. Mereka memutus semua. Plat palsu. Jalur yang menghindari setiap kamera kota—seseorang merencanakan rute ini selama berhari-hari. Ini bukan kepanikan, Bang. Ini operasi yang disiapkan matang."
Renjana berdiri dan berjalan ke jendela. Pradipa berkedip di bawah, jutaan lampu, jutaan tempat untuk menyembunyikan seorang anak. Ia menekan rahangnya sampai sakit. Selama berbulan-bulan ia membangun semuanya menuju vila itu—jalur pelabuhan, mata di dalam, jadwal pasokan. Setiap kepingnya diletakkan dengan presisi seorang akuntan. Dan dalam satu malam, Reksa menyapu seluruh papan dan memindahkan satu-satunya bidak yang penting.
Bukan kebetulan. Renjana tahu persis kapan ini terjadi—malam yang sama ia menyelamatkan Maya dari Garda. Malam ketika salah satu orang Garda melihat wajahnya di gang. Reksa, atau siapa pun di atasnya, kini yakin bahwa ada operasi terorganisir yang mengincar "aset"-nya. Dan respons mereka adalah menarik sandera paling berharga ke tempat yang tak terjangkau.
Arsa masuk ke ruangan, membawa kabar dari dalam. Wajahnya berkata semuanya sebelum mulutnya. "Reksa menggelar rapat keamanan darurat tadi malam. Tertutup. Bahkan aku tidak diundang. Pagi ini ia mengeluarkan perintah: semua aset 'sensitif' dikonsolidasi ke satu titik aman. Tak ada yang tahu di mana, kecuali Reksa dan Damar."
"Damar tahu," kata Renjana cepat.
"Damar tahu. Tapi Damar—" Arsa ragu. "Renjana, kalau kau mendekati Damar sekarang, ia akan tahu kenapa. Ia sudah curiga ada operasi melawan Reksa. Kalau kau menanyakan lokasi Dani, kau memberitahunya persis apa yang kau cari, dan siapa kau sebenarnya."
Renjana tahu Arsa benar. Itulah jebakannya. Satu-satunya orang yang tahu di mana Dani adalah satu-satunya orang yang tak boleh tahu bahwa Renjana mencarinya.
Kepanikan dingin merayap, jenis panik yang tak menggetarkan tangan tapi mengencangkan setiap simpul di dalam dada. Selama ini ia bisa menanggung jarak dari Dani karena ia selalu tahu di mana adiknya berada. Vila itu, betapapun terkurungnya, adalah titik di peta. Sebuah kepastian. Sekarang kepastian itu lenyap, dan dengan lenyapnya itu seluruh strateginya kehilangan arah.
"Kalau aku tidak menemukannya," kata Renjana pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "semua ini sia-sia. Aku bisa menjatuhkan Reksa, Ratri, seluruh kerajaan mereka—dan Dani tetap akan menghilang ke dalam tanah bersama mereka, sebagai sandera yang tak pernah aku temukan."
"Maka kita tidak mengejar Dani langsung," kata Arsa. Renjana menoleh. "Kita kejar alasannya. Mereka memindahkan Dani karena ia berharga. Kalau kita cari tahu kenapa ia berharga—apa yang membuatnya layak dilindungi seperti emas—kita akan tahu siapa yang melindunginya, dan ke mana ia akan dibawa. Kita tidak butuh peta ke Dani. Kita butuh memahami kenapa Dani penting."
Renjana menatapnya lama. Di tengah kepanikan, Arsa baru saja memberinya satu-satunya hal yang ia butuhkan: arah. Bukan lokasi adiknya, tapi alasan keberadaannya. Dan alasan itu, Renjana mulai curiga, terhubung dengan dua huruf yang Bagas bisikkan semalam.
PA. Dan seorang anak yang dibiarkan hidup karena ia tahu sesuatu yang bahkan kematian tak boleh mengambil.
"Kita mulai dari sana," kata Renjana. Tekanan waktu kembali memuncak, tapi kali ini ia tak akan membiarkannya membutakannya. "Cari tahu kenapa adikku lebih berharga hidup daripada mati. Itu jawaban yang akan membawaku kepadanya."