Renjana kembali keesokan malamnya, karena ada pertanyaan yang tak bisa ia tinggalkan menggantung. Bukan untuk dendam. Untuk Dani.
Bagas membukakan pintu lebih cepat dari yang ia duga—seolah pria itu telah menunggu, telah menyiapkan diri untuk pengakuan yang sisa hidupnya ia tunda. Di meja kini tidak ada pistol. Hanya sebotol arak murah dan dua gelas.
"Aku tahu kau akan kembali," kata Bagas. "Karena kau cerdas, dan orang cerdas tak bisa tidur dengan teka-teki di kepala."
"Kenapa aku selamat," kata Renjana langsung. Tidak duduk. "Kalau kau yang mengatur mayat tukaran, kau yang menentukan siapa yang 'mati'. Kau punya tubuhku di tanganmu malam itu. Kenapa aku tidak benar-benar dimatikan?"
Bagas menuang arak. Tangannya stabil sekarang; pengakuan punya cara menenangkan orang yang sudah lelah melarikan diri dari dirinya sendiri.
"Karena saat mereka membawamu, kau masih bernapas," katanya. "Damar mengira kau mati—pukulannya keras, kau tak bergerak, ia tak repot memeriksa. Garda yang harusnya 'memastikan'. Tapi Garda dipanggil duluan untuk urusan lain malam itu. Jadi kau dilemparkan ke sungai dengan tubuh-tubuh yang dianggap selesai." Ia minum. "Aku yang datang membersihkan. Aku yang menghitung. Lima jenazah harus jadi lima jenazah supaya laporan rapi. Tapi saat aku menghitung di tepi sungai, hanya ada empat tubuh dan satu... yang sudah hanyut."
"Dan kau membiarkannya hanyut."
"Aku memilih untuk tidak mencarinya." Mata Bagas bertemu matanya. "Itu bukan kebaikan, Renjana. Jangan keliru. Kalau aku menyeret sungai itu dan menemukanmu hidup, aku harus menyerahkanmu ke Reksa, dan Reksa akan menyuruh Garda menyelesaikan. Aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya... tidak menggenapi pembunuhanmu. Itu satu-satunya dosa yang tak jadi aku tambahkan malam itu. Dan aku menutupnya dengan mayat lain—seorang gelandangan tak dikenal, kira-kira seusiamu, yang kebetulan ada di kamar mayat. Aku tulis namamu di atasnya."
Renjana berdiri diam. Seluruh hidupnya yang baru—Renjana Asmara, sang akuntan dingin—dibangun di atas satu kebetulan: seorang algojo yang dipanggil pergi, dan seorang komisaris yang terlalu lelah untuk membunuh satu anak lagi malam itu. Bukan takdir. Bukan keajaiban. Hanya jeda kecil dalam mesin pembunuh yang efisien.
"Lalu Dani," katanya. "Kenapa adikku tidak ikut dibuang? Kenapa dia disisakan hidup?"
Untuk pertama kalinya Bagas tampak benar-benar takut—takut bukan pada Garda, tapi pada apa yang akan ia ucapkan.
"Itu," katanya pelan, "bukan keputusan Reksa. Reksa ingin semua bersih. Tak ada saksi, tak ada sisa. Tapi malam itu datang perintah dari atas Reksa. Lewat telepon. Aku mendengar Reksa menerimanya, dan aku belum pernah melihat Reksa setakut itu. Perintahnya: anak laki-laki itu disisakan hidup. Diamankan. Jangan disentuh."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu kenapa." Bagas menggeleng. "Tapi aku tahu Reksa mematuhinya seperti orang mematuhi maut. Siapa pun yang menelepon malam itu, dia bukan Reksa. Dia di atas Reksa. Dan dia menginginkan adikmu hidup karena ada sesuatu yang Dani tahu—atau Dani punya—yang lebih berharga dari nyawanya."
Renjana merasakan tanah bergeser di bawah kakinya. Selama tujuh tahun ia mengira Reksa adalah puncak. Sang dalang. Tapi malam ini, dari mulut seorang pengkhianat yang juga penyelamatnya, terbuka satu kalimat yang mengubah segalanya: ada tangan di atas Reksa. Tangan yang menelepon. Tangan yang menyisakan adiknya hidup sebagai kunci pada sesuatu yang belum ia pahami.
"Siapa yang menelepon," kata Renjana, suaranya hampir berbisik.
Bagas menatap araknya. "Aku tak pernah dengar namanya. Tapi Reksa, setelah menutup telepon, mengucapkan dua huruf. Seperti inisial. P-A."
Renjana keluar dari rumah itu dengan dua huruf yang berdengung di kepalanya seperti lonceng kematian. Inisial yang sama yang ia temukan di rekening rahasia aliran dana Sigit. Inisial yang bahkan Reksa takut menyentuhnya.
PA.
Ia tak bisa lagi mempercayai Bagas. Tapi malam ini, pria yang mengkhianati keluarganya telah memberinya benang yang akan mengarah ke jantung dari semua kegelapan ini. Renjana belum bisa membuangnya. Belum.