Bagas menua sepuluh tahun dalam dua minggu.
Renjana menemukannya di rumah persembunyian ketiga—bekas komisaris itu terus berpindah sejak Garda diaktifkan, seperti tikus yang mencium kucing di setiap lorong. Tangannya gemetar saat menuang kopi. Pistol tergeletak di meja di sebelah cangkir, pengaman terbuka.
"Garda menemukan rumah lamaku," kata Bagas tanpa basa-basi. "Untung aku sudah pindah. Tapi dia tahu aku bicara denganmu, Renjana. Cepat atau lambat dia akan menemukanku, dan saat itu—" ia tertawa pahit, "—aku jadi pelajaran untuk yang lain."
Renjana duduk tanpa diminta. Ia datang bukan untuk menenangkan. Ia datang karena ada lubang dalam cerita Bagas yang sudah dua minggu menggerogotinya, dan ketakutan adalah pelarut terbaik untuk kebohongan.
"Aku menarik berkas lama," kata Renjana, suaranya datar. "Bukan dari arsipmu. Dari arsip personel yang kau sendiri tak tahu masih ada. Daftar shift petugas yang bertugas mengevakuasi lokasi malam itu." Ia meletakkan satu lembar di meja. "Namamu tidak ada di sini, Pak Bagas. Tapi mobil dinasmu tercatat masuk pos pemeriksaan Jalan Lintas Timur pukul dua dini hari. Setengah jam sebelum laporan kebakaran masuk."
Tangan Bagas berhenti di udara.
"Kau bukan komisaris yang menutup kasus dari belakang meja," lanjut Renjana, pelan dan tak terhindarkan. "Kau di sana, malam itu. Di lokasi. Sebelum mayat-mayat dingin."
"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Kalau begitu jelaskan." Renjana mencondongkan badan. "Karena ada satu hal yang tak pernah masuk akal bagiku selama tujuh tahun. Lima jenazah. Termasuk seorang gadis. Tapi aku hidup. Berarti ada mayat yang ditukar dengan tubuhku. Mayat yang dibawa ke lokasi, dikenali sebagai Silla Mahendra, dan dimakamkan dengan namaku. Itu bukan pekerjaan algojo, Pak Bagas. Itu pekerjaan orang yang tahu sistem identifikasi. Orang yang bisa mengatur gigi, catatan medis, laporan forensik."
Keheningan di ruangan itu menebal sampai terasa di kulit.
"Orang seperti komisaris."
Bagas meletakkan cangkir dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar—bukan karena tenang, tapi karena sesuatu di dalamnya menyerah. Ia menatap Renjana, dan untuk pertama kalinya pria tua itu tidak memakai topeng sekutu yang mendendam atas kematian putranya. Yang tersisa hanya wajah pelaku.
"Ya," katanya. "Aku yang mengatur mayat tukaran."
Renjana sudah menduga jawabannya. Tapi mendengarnya keluar dari mulut orang itu tetap terasa seperti pisau dingin masuk perlahan. Sekutu abu-abunya, orang yang memberinya flashdisk dan berkas asli, orang yang menamai dirinya korban juga—tangannya tak hanya menutup luka keluarganya. Tangannya yang menjahitnya tertutup.
"Kau menatap mayat ayahku," kata Renjana, suaranya hampir tak terdengar. "Ibuku. Dan kau menyusun cerita supaya tak ada yang bertanya."
"Aku menyusun cerita karena kalau tidak, anakku yang berikutnya." Suara Bagas pecah. "Mereka sudah punya foto putraku. Mereka tahu jadwal sekolahnya. Reksa—atau siapa pun di atasnya—memberiku pilihan yang bukan pilihan."
"Mereka tetap membunuh putramu pada akhirnya."
"Aku tahu." Air mata menggenang di mata tua itu, tapi tak jatuh. "Itu sebabnya aku datang padamu. Itu sebabnya aku masih di sini, padahal aku bisa lari ke luar negeri sejak dulu."
Renjana berdiri. Tubuhnya terasa berat, seperti seluruh berat tujuh tahun mendarat sekaligus. Ia memandang pistol di meja, lalu memandang pria yang gemetar di kursinya, dan menyadari betapa mudahnya, betapa adilnya kelihatannya, untuk mengakhiri ini sekarang.
Ia tidak menyentuh pistol itu.
"Kepercayaan kita selesai," katanya akhirnya. "Tapi aku belum selesai denganmu. Kau masih punya satu kebenaran yang belum kau berikan, Pak Bagas. Dan aku akan mengambilnya—bukan karena aku memaafkanmu. Karena adikku masih hidup, dan kau mungkin tahu kenapa."
Ia melangkah ke pintu. Di ambangnya, ia berhenti.
"Berapa orang yang kau tukar mayatnya untuk Reksa, selain aku?"
Bagas tidak menjawab. Dan keheningan itu adalah jawaban yang membuat Renjana keluar ke malam dengan rasa mual yang tak bisa ia hitung di neraca mana pun.