Pesan dari Arsa datang pukul sepuluh malam, dua kata yang membuat seluruh tubuh Renjana menegang: *Garda bergerak.*
Lalu detail menyusul, cepat dan dingin: sebuah minibus tanpa pelat parkir di gang belakang kos Maya tiga jam lalu, lalu pindah. Dan satu nama lokasi—warung kopi dua puluh empat jam di Jalan Sawo, tempat Maya, melanggar setiap instruksi, pergi malam itu untuk menemui seorang sumber yang menelepon mengaku mantan akuntan yayasan.
Renjana sudah tahu sebelum Kelana mengonfirmasi: sumber itu palsu. Umpan. Ratri tidak menunggu kesalahan Maya; ia memancingnya.
"Bodoh," desis Renjana, sudah berlari ke mobil. "Kelana, lacak ponselnya. Arsa, kau di mana?"
"Sepuluh menit dari Jalan Sawo." Suara Arsa tegang lewat earpiece. "Renjana, jangan masuk sendiri. Garda bukan preman jalanan. Dia—"
"Aku tahu siapa dia."
Ia tahu persis. Tujuh tahun lalu Garda adalah siluet di tengah api, suara datar yang memberi perintah "pastikan tak ada yang bergerak". Renjana menelan ingatan itu dan menginjak gas.
Warung kopi Jalan Sawo nyaris kosong saat ia tiba. Lampu neon berkedip di atas meja-meja kosong. Maya tidak di sana. Pemilik warung menunjuk gugup ke pintu belakang—dua orang membawa "temannya" yang "mabuk" lewat sana, baru semenit lalu.
Renjana tidak mabuk dalam kalkulasi. Ia keluar lewat pintu depan, memutar ke gang samping alih-alih mengejar lurus ke belakang—logika sederhana: penyergap selalu mengawasi rute yang jelas. Ia menemukan minibus di mulut gang, mesin menyala, satu orang di belakang kemudi. Di dalam, lewat kaca, ia melihat Maya—mulut diplester, mata melebar.
Tidak ada Garda. Garda tidak pernah ada di tempat kerja kotor; ia mengirim tangan. Dua tangan, tepatnya, yang sedang menyeret Maya ke pintu geser.
Renjana tak punya senjata dan tak ingin punya—pistol meninggalkan jejak, peluru meninggalkan mayat, mayat meninggalkan kasus untuk Laras. Ia punya hal lain: sebuah balok kayu dari tumpukan sampah dan tiga detik kejutan. Ia menghantam tengkuk sopir lewat jendela yang terbuka, lalu membanting pintu geser ke lengan orang kedua dengan seluruh beratnya. Tulang dan logam beradu. Teriakan.
Lalu cahaya lampu lain menyapu gang—Arsa, mobilnya melintang menutup mulut gang. Orang ketiga yang Renjana tak lihat berbalik ke arah cahaya, dan dalam keraguan satu detik itu Renjana sudah menarik Maya keluar, mendorongnya ke bayangan.
"Lari ke mobil hitam! Sekarang!"
Bukan perkelahian heroik. Tiga puluh detik kacau, sakit, dan kotor. Renjana menerima satu pukulan ke rusuk yang membuatnya melihat bintang, membalas dengan siku ke wajah, lalu setengah menyeret setengah menjatuhkan diri ke mobil Arsa yang sudah bergerak sebelum pintu tertutup.
Mereka melaju lewat tiga gang sempit yang Kelana arahkan lewat radio, kehilangan minibus di persimpangan pasar. Baru setelah dua kilometer napas mereka kembali.
Maya gemetar di kursi belakang, plester sudah ia robek dari mulutnya. "Mereka—mereka tahu wajahku. Mereka memanggil namaku."
"Aku tahu." Renjana menekan rusuknya yang berdenyut; setidaknya tidak patah. Tapi ada yang lebih buruk dari rusuk. Di gang tadi, di bawah lampu, salah satu dari mereka melihat wajahnya dengan jelas—dan ia mengenali tato di leher orang itu, lambang yang sama yang ia ingat dari malam tujuh tahun lalu. Garda kini punya wajah Renjana. Sebuah lapisan samarannya baru saja terbakar.
"Aku berutang nyawa padamu," kata Maya pelan.
Renjana menatap ke luar jendela, ke lampu kota yang berlari. Ia tidak suka utang—utang adalah ikatan, dan ikatan adalah kelemahan. Tapi malam ini ia memilih membayar harga itu daripada membiarkan jurnalisnya mati. Bukan karena strategi. Karena suara Karyo yang bergema di kepalanya: *kalau jadi monster, ingat jalan pulang.* Monster tidak berbalik ke gang untuk menyelamatkan orang.
"Sekarang kau punya alasan lebih kuat untuk menyelesaikan liputan ini," kata Renjana akhirnya. "Mereka tak menyandera orang yang tak berbahaya. Ratri baru saja memberitahu kita bahwa kebenaran ini bisa menjatuhkannya. Kita hanya perlu hidup cukup lama untuk menerbitkannya."
Di kaca spion, Arsa menatapnya. Tatapan yang berkata: kau hampir mati malam ini, dan kau menghitungnya seperti transaksi. Renjana memalingkan muka. Ia tidak siap mengakui bahwa untuk sesaat tadi, di gang itu, ia juga takut—bukan untuk dirinya, tapi untuk berapa banyak orang yang akan ia seret ke dalam api ini.