Maya menyebar dokumen di meja apartemen aman itu seperti seorang dokter membentangkan hasil rontgen. Renjana berdiri di belakangnya, lengan terlipat, membaca angka-angka yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Yayasan Asih Wijanarko," kata Maya. "Tiga puluh dua miliar setahun. Atas nama panti, beasiswa, korban bencana. Tapi kalau kau ikuti uangnya—" jarinya menelusuri garis bagan yang dibuat Kelana semalam, "—hanya empat persen yang benar-benar sampai ke penerima. Sisanya berputar lewat tiga vendor fiktif, lalu menguap ke cangkang di Singapura."
Nama itu menusuk lebih dalam dari angka mana pun, dan Renjana membiarkan dirinya merasakannya selama satu detik sebelum menguburnya lagi. Asih. Nama ibunya, yang Ratri curi untuk dijadikan topeng amal. Dua malam lalu, di warung kopi, ia menyerahkan map ini pada Maya justru karena nama itu—karena ada sesuatu yang lebih kejam daripada pembunuhan dalam memakai nama perempuan yang kau bantai sebagai merek kebaikan. Maya tidak tahu arti nama itu baginya, dan Renjana berniat menjaganya tetap begitu. Bagi jurnalis itu, "Asih" hanyalah kata yang membuat orang merasa aman menyumbang. Bagi Renjana, itu suara ibunya memanggil namanya dari dapur, tujuh tahun lalu, sebelum semuanya menjadi abu.
"Empat persen pun masih dibesar-besarkan di laporan tahunan," Renjana menambahkan. Ia meletakkan satu foto di atas tumpukan: sebuah panti asuhan di pinggir Pradipa, atapnya bocor, anak-anak tidur di lantai. "Ini panti yang katanya mereka renovasi tahun lalu. Anggaran dua miliar. Yang sampai: cat tembok dan satu spanduk untuk foto bersama Bu Ratri."
Maya menelan ludah. Idealisme di matanya menyala dan ngeri sekaligus. "Ini bukan sekadar penggelapan. Ini menelantarkan korban sambil pakai wajah mereka untuk cuci uang darah."
"Itulah kenapa ini akan jatuh keras." Renjana menarik kursi, duduk berhadapan dengan jurnalis itu. Ia perlu Maya memahami satu hal sebelum mereka maju selangkah lagi. "Tapi dengar baik-baik. Pembongkaran yang heboh tapi rapuh secara hukum hanya akan membakar narasumber kita dan membersihkan Ratri. Pengacaranya akan menyebut ini fitnah, menggugat balik, dan dalam tiga minggu kau yang dipenjara, bukan dia."
"Lalu apa yang kita butuhkan?"
"Rantai bukti yang tak bisa dibantah, dan satu hal lagi: korban yang mau bicara di depan kamera." Renjana mengeluarkan map tipis. "Bu Sari. Pengelola panti yang kau lihat tadi. Tujuh tahun ia mengemis ke yayasan dan ditolak, sementara namanya dipakai untuk menarik dana. Ia punya surat-surat permohonan yang tak pernah dijawab. Itu jejak kertas yang sah."
Yang tidak ia katakan: bukti finansial harus disusun sedemikian rupa sehingga ketika Inspektur Laras membukanya nanti, semua mengarah ke Ratri dan struktur yayasan—bukan ke seorang pemodal misterius bernama Renjana Asmara yang kebetulan tahu terlalu banyak. Setiap dokumen yang ia serahkan pada Maya sudah dibersihkan dari sidik jarinya. Kelana menyebutnya "bukti yang lahir tanpa orang tua".
Maya mengangguk pelan, lalu wajahnya berubah. "Ada masalah. Kemarin aku ke kantor yayasan, pura-pura meliput kegiatan amal. Tapi resepsionis terlalu ramah. Ada orang yang mencatat nomor pelatku di parkiran. Dan tadi pagi—" ia menggeser ponselnya, "—ini dikirim dari nomor tak dikenal."
Di layar: foto Maya sendiri, diambil dari jarak dekat, sedang menyeberang jalan depan kosnya. Di bawahnya satu kalimat. *Liputan amal sebaiknya menyenangkan. Jangan sampai jadi liputan duka.*
Renjana menatap foto itu lama. Dingin merayap di tengkuknya, bukan ketakutan—perhitungan. Ratri tidak bodoh. Wanita itu mencium bahaya jauh lebih cepat dari dugaan, dan ia tidak membalas dengan pengacara. Ia membalas dengan ancaman, yang berarti ia membalas dengan Garda.
"Berapa lama kau pikir mereka mengawasimu?" tanya Renjana.
"Aku tidak tahu. Sehari? Tiga hari?"
"Mulai sekarang kau tidak pulang ke kos." Renjana sudah bangkit, menutup tirai, memeriksa jalan di bawah lewat celah. "Kelana akan memberimu ponsel bersih. Mobilmu kita tinggalkan, pakai yang lain. Dan kau tidak menemui Bu Sari sendirian—aku yang atur pertemuannya, di tempat yang aku pilih, dengan jalur keluar yang aku siapkan."
Maya menelan protesnya. Idealisme bisa keras kepala, tapi ia cukup pintar untuk mengenali bahwa pria di depannya tidak sedang melebih-lebihkan. "Kau bicara seperti orang yang pernah diburu."
"Aku bicara seperti orang yang menolak jadi mangsa." Renjana meraih jaketnya. "Ratri memasang perangkap balik untukmu. Bagus. Itu artinya ia panik. Orang yang panik membuat kesalahan—dan kita akan menunggu kesalahan itu."
Tapi saat ia melangkah ke pintu, satu kalkulasi tak menyenangkan menetap di benaknya. Ratri tidak akan memasang Garda untuk seorang jurnalis kecuali ia merasa terancam langsung. Dan jika Garda sudah bergerak, maka jaring yang Renjana rancang untuk menjebak Ratri bisa, dalam satu malam, berubah menjadi jaring yang menjebak orang-orangnya sendiri.
Ia mengirim satu pesan ke Arsa: *Pasang mata di sekitar yayasan. Kalau Garda muncul, aku ingin tahu lebih dulu dari Maya.*
Skandal sudah dirancang. Sekarang ia harus memastikan bukan darah yang lebih dulu tumpah.