Wijanarko Group sedang mencari investor untuk proyek pelabuhan baru.
Renjana tahu ini bukan kebetulan yang bisa ia lewatkan. Selama tujuh tahun ia menunggu pintu, dan kini Reksa sendiri yang membukanya—dengan menyebar undangan kepada para pemodal besar untuk gala pengumpulan dana di hotel termewah kota.
"Kau yakin?" tanya Wira saat Renjana mengajukan agar mereka ikut serta. "Wijanarko itu reputasinya kotor. Banyak mitranya yang berakhir bangkrut atau menghilang."
"Justru karena itu," jawab Renjana. "Perusahaan yang kotor selalu punya celah. Dan kita masuk bukan untuk berinvestasi. Kita masuk untuk melihat."
Wira tidak tahu apa yang sebenarnya Renjana lihat. Ia tidak tahu bahwa anak didiknya sudah menghabiskan dua bulan terakhir mempelajari setiap laporan keuangan publik Wijanarko Group, mencari benang yang kalau ditarik akan membuat seluruh kain itu terurai.
Malam gala itu, Renjana mengenakan gaun hitam sederhana. Tidak mencolok, tapi setiap orang yang melihatnya merasa seharusnya mengenalnya. Ia melangkah masuk ke ballroom dengan tenang, gelas anggur di tangan yang tak pernah ia minum.
Lalu ia melihatnya.
Reksa Wijanarko berdiri di tengah kerumunan, tertawa, menyentuh bahu orang-orang penting dengan keakraban palsu yang sama persis seperti tujuh tahun lalu. Ia lebih tua sekarang, rambutnya beruban di pelipis, tapi senyum itu—senyum yang berkata "calon menantu" sambil menatap Silla kecil—masih sama.
Jantung Renjana berdetak keras. Bukan karena takut. Karena tubuhnya mengingat, bahkan ketika pikirannya berusaha tetap dingin. Ia menelan emosi itu, menguburnya kembali ke tempat ia menguburnya selama tujuh tahun.
Bukan sekarang. Sabar.
"Pak Reksa," kata Wira, memperkenalkan diri. "Ini Renjana Asmara, mitra dan kepala investasi saya. Otak di balik keberuntungan kami akhir-akhir ini."
Reksa menoleh. Untuk satu detik yang membuat napas Renjana tertahan, mata lelaki itu menatap wajahnya—mencari, mengenali?
Tidak. Tidak ada pengenalan di sana. Hanya penilaian dingin seorang pemangsa yang mengukur apakah mangsa di depannya berharga.
"Renjana," ulang Reksa, mengulurkan tangan. Tangan yang dulu menyentuh dagunya saat ia sekarat di aspal. "Nama yang indah. Artinya rindu yang dalam, bukan?"
Renjana menjabat tangan itu. Hangat. Kering. Ia tersenyum dengan kehangatan yang ia latih ribuan kali di depan cermin.
"Benar, Pak," katanya. "Rindu yang dalam. Pada sesuatu yang hilang."
"Oh? Dan apa yang hilang dari wanita semuda Anda?"
Renjana memiringkan kepala, masih tersenyum. "Keadilan, mungkin. Tapi itu cerita lama. Mari bicara soal pelabuhan Anda, Pak. Saya dengar proyeknya menjanjikan."
Reksa tertawa, senang. "Saya suka wanita yang langsung ke pokok masalah. Mari, ada yang ingin saya tunjukkan."
Saat ia berbalik memimpin jalan, Renjana mengikuti dari belakang, dan untuk sekejap—hanya sekejap—senyumnya lenyap. Tatapannya menusuk punggung lelaki itu seperti pisau yang menunggu untuk dihunjamkan.
Pintu pertama sudah terbuka.
Dan kali ini, Renjana yang akan memutuskan kapan menutupnya.