Reksa tidak langsung memberinya kepercayaan. Lelaki seperti dia tidak pernah memberi apa pun secara cuma-cuma.
Selama tiga minggu berikutnya, Renjana memainkan permainan panjang. Ia datang ke setiap rapat dengan analisis yang lebih tajam dari konsultan mana pun. Ia menunjukkan kelemahan dalam proyek pelabuhan yang bahkan tim internal Reksa lewatkan—lalu menawarkan solusi. Ia membuat dirinya tak tergantikan, sedikit demi sedikit, seperti air yang menetes pada batu.
Tapi yang sebenarnya ia lakukan adalah membaca.
Ia membaca cara Damar, kepala keamanan, berdiri di sudut ruangan setiap kali Reksa rapat. Lelaki itu kini lebih gemuk, lehernya tebal, tapi mata waspadanya tak berubah. Tangan yang membantingnya ke aspal. Renjana menghafal jadwalnya, kebiasaannya merokok di tangga darurat, kelemahannya—anak perempuan yang ia sekolahkan di luar negeri dengan uang yang tidak halal.
Ia membaca Notaris Hartono, yang kini menjadi penasihat hukum tetap Wijanarko Group. Lelaki licin yang tersenyum terlalu lebar dan berkeringat saat berbohong. Renjana tahu, dari dokumen-dokumen lama yang ia kumpulkan diam-diam, bahwa Hartono memalsukan tanda tangan ayahnya pada akta pengalihan aset. Sebuah kejahatan yang, kalau dibuktikan, bisa membuatnya kehilangan izin dan kebebasannya sekaligus.
Dan ia membaca Reksa sendiri—yang paling penting dan paling berbahaya.
Reksa cerdas. Karismatik. Tapi ia punya satu kelemahan yang Renjana pelajari lewat ratusan jam observasi: ego. Reksa percaya bahwa ia selalu orang terpintar di ruangan. Bahwa tidak ada yang bisa mendahuluinya. Dan orang yang yakin tidak ada yang bisa mengalahkannya adalah orang yang paling mudah dijatuhkan—karena ia tidak pernah menjaga punggungnya.
"Kamu mengingatkan saya pada seseorang," kata Reksa suatu malam, di kantornya yang menjulang di lantai empat puluh. Mereka berdua sendirian, membahas kontrak. "Tapi saya tidak ingat siapa."
Renjana tidak mengangkat pandangan dari dokumen. "Mungkin seseorang yang pernah mengecewakan Anda."
"Kenapa Anda berpikir begitu?"
"Karena cara Anda menatap saya, Pak. Setengah kagum, setengah curiga." Ia menutup map, lalu menatap lelaki itu lurus. "Anda tipe orang yang pernah dikhianati oleh seseorang yang Anda percaya. Sejak itu, Anda mengkhianati lebih dulu sebelum dikhianati. Betul?"
Hening sejenak. Lalu Reksa tertawa, tapi ada sesuatu yang dingin di sana.
"Anda berbahaya, Renjana."
"Saya pemodal, Pak. Bahaya itu pekerjaan saya." Ia tersenyum manis. "Tapi saya berbahaya untuk lawan Anda, bukan untuk Anda. Selama kepentingan kita sejalan."
Reksa mengamatinya lama. Lalu ia menuangkan dua gelas wiski dan mendorong satu ke arah Renjana.
"Selama kepentingan kita sejalan," ulangnya. "Mari kita lihat berapa lama itu bertahan."
Renjana mengangkat gelasnya, membiarkan cahaya menari di cairan keemasan itu. Ia tidak meminumnya. Ia tidak pernah minum di hadapan musuh. Tapi ia membenturkan gelasnya pelan ke gelas Reksa.
"Untuk kepentingan yang sejalan," katanya.
Di dalam hatinya, ia menyelesaikan kalimat itu dengan kebenaran yang tak ia ucapkan:
Sampai aku menarik pijakanmu, dan kau jatuh dari lantai empat puluh ini—pelan-pelan, sadar penuh, sambil menatap wajah anak yang kau buang ke sungai.