Tujuh tahun adalah waktu yang panjang untuk menempa baja.
Silla menghabiskan dua tahun pertama bersama Karyo, bekerja serabutan, membaca apa pun yang bisa ia temukan di tumpukan barang bekas. Buku akuntansi yang sobek. Majalah bisnis yang basah. Ia belajar bahwa untuk menghancurkan orang seperti Reksa, ia tidak butuh pistol. Ia butuh sesuatu yang lebih tajam: uang, informasi, dan kesabaran.
Pada tahun ketiga, Karyo meninggal. Penyakit paru-paru yang ia simpan diam-diam. Sebelum napas terakhirnya, ia menggenggam tangan Silla dan berkata, "Kalau kamu harus jadi monster untuk melawan monster... pastikan kamu masih ingat jalan pulang."
Silla mengubur lelaki itu sendirian. Lalu ia pergi ke kota.
Ia mengganti namanya menjadi Renjana Asmara. Nama yang asing, halus, tidak mengancam. Dengan uang tabungan Karyo yang sedikit, ia menyewa kamar kos sempit dan mendaftar kuliah malam jurusan keuangan, sambil bekerja di siang hari sebagai asisten di firma akuntan kecil.
Di sana ia belajar dua hal. Pertama, bagaimana uang mengalir dan bagaimana menyembunyikannya. Kedua, bahwa dunia keuangan adalah hutan tempat predator paling sabar yang menang.
Renjana adalah predator yang sabar.
Pada tahun kelima, ia bertemu seseorang yang akan mengubah segalanya—Pak Wira, seorang investor tua yang sinis dan kesepian, mantan bankir yang pernah dikhianati mitranya sendiri. Renjana tidak mendekatinya dengan rayuan. Ia mendekatinya dengan kebenaran.
"Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya karena seseorang yang Anda percaya," kata Renjana di suatu sore, saat menyajikan kopi untuk lelaki tua itu. "Dan saya tahu Anda menyimpan dana yang tidak Anda gunakan, hanya karena Anda tidak lagi percaya siapa pun untuk mengelolanya."
Wira menatapnya tajam. "Dan kau pikir aku akan percaya gadis ingusan sepertimu?"
"Tidak. Saya tidak minta kepercayaan." Renjana meletakkan sebuah map di meja. "Saya minta Anda menguji saya. Beri saya jumlah kecil. Kalau saya gagal, Anda tidak rugi apa-apa. Kalau saya berhasil, Anda dapat mitra yang punya alasan untuk tidak pernah mengkhianati Anda."
"Alasan apa?"
Renjana menatapnya dengan mata yang dingin dan jernih. "Karena saya butuh kekuatan Anda. Dan orang yang butuh sesuatu dari Anda lebih bisa dipercaya daripada orang yang sudah punya segalanya."
Wira tertawa untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Lalu ia memberikan ujian itu.
Renjana melipatgandakan dana itu dalam delapan bulan.
Pada tahun keenam, Renjana sudah menjadi tangan kanan Wira, mengelola portofolio yang nilainya membuatnya bisa makan di restoran yang dulu sering dikunjungi keluarganya. Ia kadang duduk di sana sendirian, memesan hidangan kesukaan ibunya, hanya untuk mengingat. Untuk tidak lupa.
Ia tidak pernah lupa.
Setiap malam, sebelum tidur, ia membuka buku catatan kecil yang sudah usang. Di dalamnya ada empat nama, ditulis dengan tinta yang sudah memudar tapi tak pernah ia hapus.
Damar. Hartono. Bagas. Reksa.
Dan di tahun ketujuh, ketika Renjana Asmara menatap dirinya di cermin—wanita dua puluh empat tahun dengan postur tenang, tatapan tajam, dan senyum yang bisa membuat lawan bicaranya merasa nyaman sekaligus terancam—ia tahu masa menempa sudah selesai.
Saatnya pulang.
Saatnya mereka tahu siapa yang mereka biarkan hidup.