Alana berjalan cepat menyusuri lorong mansion, berusaha menenangkan diri setelah kejadian tadi di ruang kerja Adrian. Namun, bayangan pria itu terus menghantui pikirannya. Cara dia menatapnya, suaranya yang dalam dan menggoda, serta sentuhan tangannya di pinggangnya.
Tanpa sadar, ia menyentuh pipinya sendiri yang masih terasa hangat. Ia yakin wajahnya saat ini pasti semerah tomat.
"Apa yang terjadi padaku...?" gumamnya pelan.
Namun, sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara langkah kaki di belakangnya membuatnya menoleh.
Dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat saat mendapati Adrian berdiri di sana, bersandar di ambang pintu dengan senyuman penuh arti.
"Kau kabur begitu saja, Alana," katanya santai. "Apa aku menakutimu?"
Alana menelan ludah. "S-saya hanya ingat ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan, Tuan."
Adrian melangkah mendekat, dan Alana secara refleks mundur, tapi dinding di belakangnya menghalangi.
Pria itu kini berdiri sangat dekat, cukup untuk membuat Alana bisa mencium aroma segar dan maskulin khasnya.
Mata abu-abu tajam itu mengamati wajahnya dengan intens, lalu tiba-tiba, jari telunjuk Adrian menyentuh dagu Alana, mengangkatnya sedikit.
"Menarik," gumamnya. "Pipimu merah, Alana."
Alana langsung merutuki dirinya sendiri. "T-tidak, ini hanya karena—"
"Ssst..." Adrian menempelkan jarinya ke bibirnya sendiri, menyuruhnya diam.
Lalu, dengan gerakan lambat dan penuh permainan, ia menyusuri pipi Alana dengan jemarinya, seolah ingin memastikan apakah rona merah itu nyata atau hanya bayangannya saja.
Alana menahan napas.
"Kenapa kau terlihat begitu cantik saat gugup?" bisik Adrian dengan suara rendah yang terdengar begitu menggoda.
Alana semakin gelagapan. "Tuan, saya benar-benar harus kembali—"
Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat Alana kehilangan keseimbangan emosinya sepenuhnya.
"Aku suka melihat wajahmu seperti ini, Alana," lanjutnya dengan nada penuh godaan. "Dan aku ingin melihatnya lebih sering."
Jantung Alana seakan ingin meledak.
Ia tahu, ia harus segera pergi sebelum pria ini benar-benar membuatnya gila.
Dengan cepat, ia menunduk dan melangkah melewati Adrian, menghindari tatapan mautnya.
Namun, saat ia berjalan menjauh, ia masih bisa mendengar suara tawa kecil pria itu di belakangnya.
Seolah menikmati betapa mudahnya ia menggoyahkan perasaan Alana.
Dan yang lebih parah lagi.Alana mulai takut kalau sebenarnya, ia tidak keberatan digoda seperti ini.
***