Malam itu, hujan turun deras di luar jendela mansion, menciptakan irama menenangkan di tengah kegelapan. Alana baru saja selesai membersihkan ruang tamu ketika langkahnya terburu-buru, ingin segera kembali ke kamarnya.
Namun, di tikungan koridor, nasib berkata lain.
Alana tergelincir di lantai yang licin dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya terjatuh ke arah seseorang yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
Brukk!
Dalam sekejap, ia berada dalam pelukan Adrian.
Dada bidang pria itu menahannya dengan kokoh, kedua lengannya melingkari tubuh Alana, memastikan gadis itu tidak terluka sedikit pun.
Alana membeku.
Begitu juga Adrian.
Hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka, diiringi detak jantung Alana yang terasa berdentum kencang di dadanya.
Tatapan Adrian turun, memperhatikan wajah Alana yang kini begitu dekat. Mata mereka bertemu, dan dalam cahaya redup koridor, Alana bisa melihat sesuatu dalam tatapan Adrian—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar godaan biasa.
"Alana..." suaranya terdengar serak, berat, seakan ada sesuatu yang ia tahan begitu lama.
Alana menelan ludah, ingin bergerak menjauh, tapi Adrian semakin mengeratkan pelukannya.
“Jangan menjauh.”
Nada suaranya kali ini berbeda. Tidak ada lagi nada menggoda atau permainan. Yang ada hanyalah ketulusan yang membuat Alana semakin sulit bernapas.
"Aku sudah mencoba menahannya..." lanjut Adrian dengan suara rendah.
"Tapi aku tidak bisa lagi berpura-pura."
Alana menatapnya dengan kebingungan. "M-menahan apa?"
Adrian tersenyum kecil, tapi sorot matanya tetap intens.
"Menahan perasaanku padamu."
Jantung Alana seakan berhenti berdetak.
"Aku ingin mengabaikannya, menganggap semua ini hanya godaan sesaat..." Adrian mengusap lembut pipi Alana dengan ibu jarinya.
"Tapi setiap kali kau ada di dekatku, aku hanya ingin menarikmu lebih dekat... seperti ini."
Alana merasa tubuhnya semakin panas dalam dekapan pria itu.
"Aku jatuh cinta padamu, Alana," bisiknya.
"Dan aku tidak akan membiarkanmu lari dariku."
Alana tidak bisa berkata apa-apa. Semua yang ia rasakan terlalu intens, terlalu mendalam.
Tapi ada satu hal yang pasti—
Ia juga tidak ingin pergi. Namun dalam hati alana, mahukah Tuan adrian benar-benar mahukan dia? Layakkah dia?
***