Sejak percakapan di perpustakaan itu, Alana merasa semakin sulit mengendalikan dirinya.
Setiap kali ia berada di dekat Adrian, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Tangan dan kakinya terasa canggung, seolah ia tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap.
Dan yang lebih buruk lagi, Adrian tampaknya menyadari semua itu.
Hari itu, Alana sedang menuangkan kopi di meja kerja Adrian. Ia mencoba fokus, tetapi saat ia mengangkat cangkir untuk menyerahkannya, tangannya sedikit gemetar, dan tanpa sengaja, beberapa tetes kopi tumpah ke meja.
Alana langsung terkejut. "Maaf, Tuan! Saya akan segera membersihkannya—"
Tapi sebelum ia bisa bergerak, Adrian sudah menangkap pergelangan tangannya, menghentikan gerakannya.
Matanya yang abu-abu itu menatap langsung ke dalam mata Alana, penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan.
"Kau gugup, Alana?"
Alana menelan ludah, buru-buru menggeleng. "T-tidak, Tuan."
Adrian tersenyum miring, lalu menarik tangannya, memaksanya untuk lebih dekat.
"Benarkah?" gumamnya. "Karena menurutku... kau mulai terbiasa denganku."
Alana terdiam, merasa jantungnya berdetak semakin liar.
Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Atau mungkin... kau mulai menyukaiku?"
Panas langsung menjalar ke wajah Alana.
"T-tidak! Saya hanya..." Ia buru-buru mundur, tetapi kakinya justru tersandung ujung karpet. Tubuhnya kehilangan keseimbangan—
Dan sebelum ia menyadarinya, Adrian sudah menangkap pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh.
Kini, mereka semakin dekat.
Tubuh Alana menempel pada d**a bidang Adrian, dan tangannya secara refleks berpegangan pada bahu pria itu. Aroma maskulin Adrian yang khas mengelilinginya, membuat pikirannya semakin kacau.
"Kalau kau terus seperti ini," bisik Adrian, suaranya terdengar serak dan menggoda, "aku akan semakin yakin kalau kau memang menginginkanku, Alana."
Alana buru-buru melepaskan diri, mundur dengan wajah yang memanas. "Saya harus kembali bekerja!" ucapnya cepat sebelum berbalik dan keluar dari ruangan itu hampir dengan langkah setengah berlari.
Begitu berada di luar, ia menyandarkan punggungnya ke dinding, mengatur napasnya yang tak beraturan.
Ya Tuhan...
Apa yang sedang terjadi padanya?
Kenapa ia mulai nyaman dengan sentuhan dan godaan Adrian?
Dan yang lebih menakutkan—kenapa hatinya mulai menantikan momen-momen seperti itu?
***