Sejak malam itu, Alana merasa ada perubahan di mansion. Tidak hanya karena Adrian semakin sering memanggilnya dengan alasan sepele. Seperti mengantarkan kopi atau merapikan dasi. Tetapi juga karena tatapan tajam dari para pelayan lain mulai terasa menusuk ke arahnya.
Bisik-bisik mulai terdengar di dapur, lorong, bahkan saat mereka berkumpul di ruang pelayan.
"Kenapa tiba-tiba dia yang selalu dipanggil?" bisik seorang pelayan perempuan bernama Mira saat mereka sedang membersihkan perak.
"Jelas sekali, kan? Tuan Adrian tertarik padanya," sahut Rina, seorang pelayan yang terkenal suka menggosip.
Alana menunduk, berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak ingin ikut dalam percakapan itu.
"Tapi kenapa dia? Alana itu biasa saja, tidak ada yang istimewa!" suara Mira semakin tajam.
Alana mengepalkan tangannya di balik meja. Ia tahu bahwa sejak awal, ia tidak diterima dengan baik oleh beberapa pelayan di sini. Tapi sekarang, dengan perhatian Adrian yang semakin nyata, situasinya menjadi lebih buruk.
Saat makan siang, ketika ia hendak duduk di kursi biasanya, Mira tiba-tiba meletakkan nampannya di sana dengan senyum sinis.
"Ups, sudah ada yang duduk," katanya santai.
Alana menghela napas pelan dan memilih tempat lain, berpura-pura tidak peduli.
Namun, Mira tidak berhenti di situ. Saat Alana sedang membawa nampan berisi teh ke ruang Adrian, seorang pelayan laki-laki yang sepertinya bersekongkol dengan Mira sengaja menyenggolnya.
Nampan hampir terjatuh dari tangan Alana, tetapi dengan refleks cepat, ia berhasil menahannya.
Mira tersenyum puas. "Hati-hati, Alana. Jangan sampai Tuan Adrian kecewa padamu," katanya dengan nada sinis sebelum berjalan pergi.
Alana menggigit bibirnya, menahan perasaan yang mulai menggelora di dadanya.
Namun, ia tidak menyadari bahwa sejak tadi, ada seseorang yang memperhatikan dari kejauhan.
Seseorang dengan mata abu-abu tajam dan rahang yang mengeras.
***
Beberapa jam kemudian, saat Alana sedang membersihkan perpustakaan, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka.
Adrian.
Ia masuk dengan langkah tenang, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang berbeda kali ini. Lebih tajam, lebih gelap.
Alana buru-buru menundukkan kepala. "Tuan Adrian, saya sedang.."
"Kemarilah."
Suara pria itu terdengar dalam, memerintah.
Alana menelan ludah sebelum melangkah mendekat, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral. Namun, begitu ia cukup dekat, Adrian mengangkat tangannya dan menyentuh dagu Alana, mengangkat wajahnya hingga mata mereka bertemu.
"Kau membiarkan mereka memperlakukanmu seperti itu?" suaranya terdengar rendah, hampir seperti geraman.
Alana membeku. Jadi… dia tahu.
"T-tidak apa-apa, Tuan," jawabnya cepat. "Saya tidak ingin masalah."
Adrian mendengus, ekspresinya berubah semakin tajam. "Orang-orang itu pikir mereka bisa menyentuh apa yang menjadi milikku?"
Alana terkejut. "M..milik Anda?"
Adrian menyeringai kecil, jarinya masih menyentuh kulit lembut di bawah dagu Alana.
"Kau pikir aku membiarkan siapa saja menyentuh dan menggoda seperti ini?" bisiknya, jemarinya meluncur pelan di sepanjang rahang Alana, membuat gadis itu menahan napas.
"Atau kau ingin aku membuktikannya lebih jauh, hm?" lanjutnya dengan nada menggoda.
Alana buru-buru mundur, wajahnya panas. "Tuan, saya.."
Adrian tertawa kecil, tampak puas dengan reaksinya.
"Tunggu saja, Alana," katanya santai, melipat tangannya di d**a. "Mereka akan belajar untuk tidak bermain-main dengan seseorang yang sudah menarik perhatianku."
Alana terdiam, hatinya berdebar semakin kencang.
Ia tidak tahu apakah harus merasa lega… atau semakin takut.
Karena dengan setiap kata yang diucapkan Adrian, ia semakin yakin.
Pria itu tidak hanya bermain-main dengannya.
Ia sedang mengklaimnya.
***