Malam itu, Alana baru saja selesai merapikan dapur ketika salah satu pengawal Adrian tiba-tiba muncul di depannya.
"Tuan Adrian memanggilmu," kata pria itu dengan ekspresi datar.
Alana mengerutkan kening. "Untuk apa?"
Pengawal itu hanya melirik sekilas sebelum menjawab, "Dia ingin kau ke kamarnya. Sekarang."
Jantung Alana berdetak lebih cepat. Ke kamar Adrian? Kenapa?
Namun, ia tidak punya pilihan selain menuruti perintah itu. Dengan langkah hati-hati, ia mengikuti pengawal tersebut menaiki tangga menuju lantai atas, tempat kamar pribadi sang mafia berada.
Sesampainya di depan pintu besar berwarna hitam itu, pengawal itu mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa menunggu jawaban.
"Masuk," katanya sebelum pergi, meninggalkan Alana berdiri ragu di ambang pintu.
Dengan napas sedikit gugup, Alana melangkah masuk.
Kamar itu luas dan mewah, dengan nuansa gelap yang maskulin. Lampu kuning temaram menerangi ruangan, memberikan suasana intim yang entah kenapa justru membuat Alana semakin canggung.
Di tengah ruangan, Adrian sedang duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitamnya yang sudah terbuka beberapa kancing, memperlihatkan sebagian dadanya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan matanya menatap Alana dengan ekspresi santai, tapi berbahaya.
"Kau akhirnya datang," gumamnya dengan suara rendah yang menggema di ruangan.
Alana menelan ludah. "Anda memanggil saya, Tuan?"
Adrian menyandarkan tubuhnya dengan satu tangan di kasur, sementara tangannya yang lain mengusap tengkuknya. "Leherku tegang setelah seharian bekerja. Aku butuh pijatan."
Alana terkejut. "P-pijatan?"
Adrian mengangkat satu alis. "Kenapa? Itu bagian dari pekerjaan pelayan, bukan?"
Alana tidak bisa membantah. Meski awalnya ia tidak menyangka akan melakukan ini, ia tahu ia tidak dalam posisi untuk menolak.
Dengan langkah ragu, ia berjalan mendekat, lalu berdiri di belakang pria itu. Tangannya sedikit gemetar saat ia menyentuh bahu Adrian, merasakan panas tubuhnya menembus kain kemeja.
“Jangan tegang, Alana,” suara Adrian terdengar dalam. “Aku tidak akan menggigitmu… belum.”
Alana langsung menahan napas.
Pria ini benar-benar menikmati permainannya.
Dengan pelan, ia mulai menekan bahu Adrian, mencoba tetap fokus meskipun pikirannya kacau. Otot pria itu terasa begitu keras di bawah jari-jarinya, mencerminkan betapa kuatnya sosok Adrian.
Setiap kali tangannya bergerak ke atas ke tengkuk pria itu, Alana bisa merasakan bagaimana Adrian sedikit mendesah pelan, seakan menikmati setiap sentuhan.
“Kau cukup berbakat,” gumamnya. “Aku mungkin akan memanggilmu lebih sering.”
Alana hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.
Tapi kemudian, tanpa peringatan, Adrian menangkap pergelangan tangannya dengan satu gerakan cepat, menariknya ke depan hingga Alana hampir kehilangan keseimbangan.
Kini, ia berdiri begitu dekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Adrian.
Tatapan pria itu mengunci matanya, dan bibirnya melengkung dalam senyum yang berbahaya.
“Kau gugup, Alana?” bisiknya.
Alana berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman Adrian tetap erat.
"T-tidak, Tuan," jawabnya, meski nada suaranya sedikit bergetar.
Adrian terkekeh pelan. "Benarkah?"
Ia menarik tangan Alana lebih dekat, lalu tanpa peringatan, menempelkan telapak tangan gadis itu ke dadanya yang terbuka.
Alana terkejut. Ia bisa merasakan panas tubuh pria itu, ritme detak jantungnya yang stabil dan kuat.
"Rasakan," bisik Adrian dengan nada rendah yang menggoda.
"Ini jantungku. Tidak secepat milikmu, kan?"
Alana bisa merasakan wajahnya memanas. Ia buru-buru menarik tangannya, tapi Adrian akhirnya melepaskannya dengan tawa kecil yang terdengar puas.
"Kau boleh pergi," katanya santai.
"Tapi hati-hati, Alana… aku semakin menikmati keberadaanmu di sini."
Alana langsung berbalik, nyaris berlari keluar dari kamar itu dengan pipi yang masih terbakar.
Satu hal yang ia sadari saat itu—
Adrian bukan hanya berbahaya bagi hidupnya.
Tapi juga bagi hatinya.
***