Hari mulai beranjak sore saat Alana membersihkan kamar kerja Adrian. Ia sudah memastikan ruangan itu kosong sebelum masuk, tapi tetap saja ada ketegangan yang menyelimuti dirinya. Setiap sudut ruangan ini terasa begitu maskulin, mencerminkan kepribadian pemilikny. Dingin, berbahaya, dan penuh misteri.
Alana menghela napas, mencoba fokus. Ia mengambil kain lap dan mulai mengelap meja kayu besar yang tertata rapi di tengah ruangan. Namun, baru saja ia menyentuh permukaan meja, suara pintu yang tertutup membuatnya tersentak.
Ia menoleh cepat dan langsung menyesali keputusannya.
Adrian berdiri di sana, bersandar pada pintu dengan kedua tangannya di saku celana. Matanya yang abu-abu itu menatapnya tajam, bibirnya melengkung dalam senyum tipis yang penuh makna.
"Rajin sekali," gumamnya, melangkah pelan ke arahnya.
Alana berusaha tetap tenang. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Tuan."
Adrian tidak berhenti berjalan sampai ia berdiri di sisi meja, hanya berjarak beberapa langkah darinya.
“Kau selalu begini?” tanyanya sambil menyandarkan satu tangan di meja, mencondongkan tubuhnya sedikit.
Alana mengerutkan kening. “Maksud Anda?”
Adrian menyipitkan matanya sedikit, lalu dengan gerakan santai, ia mengangkat tangannya dan menyelipkan anak rambut yang jatuh ke wajah Alana ke belakang telinganya.
Alana membeku. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia yakin pria itu bisa mendengarnya.
"Kau selalu terlihat seperti ini saat bekerja?" suara Adrian terdengar rendah dan serak, hampir seperti bisikan.
"Berkeringat... napasmu sedikit tersengal... dan wajahmu memerah seperti ini?"
Alana langsung tersadar dan mundur cepat, hampir tersandung kursi di belakangnya. Pipinya terasa panas, bukan hanya karena perkataan pria itu, tapi juga karena cara Adrian menatapnya, seakan menikmati setiap reaksi yang ia berikan.
“T-tuan, saya harus melanjutkan pekerjaan saya,” ucapnya gugup.
Adrian terkekeh pelan, seolah menikmati kegugupannya.
"Tentu saja," katanya santai, tapi kemudian mencondongkan tubuhnya lagi, membuat Alana tanpa sadar menahan napas.
"Lalu bagaimana jika aku ingin kau melakukan sesuatu yang lain untukku?" bisiknya, matanya masih mengunci pandangan Alana.
Alana menegang. "Sesuatu... seperti apa?"
Adrian tersenyum miring. "Hanya melihatmu seperti ini saja sudah cukup menghiburku."
Alana benar-benar kehilangan kata-kata. Pria ini berbahaya.
Bukan hanya karena siapa dirinya, tapi juga karena caranya menggoda membuatnya kehilangan kewaspadaan.
Adrian akhirnya melangkah mundur dengan ekspresi puas, seolah ia tahu bahwa ia telah berhasil mengguncang dunia kecil Alana.
"Kau boleh lanjut bekerja," katanya santai sebelum berbalik menuju kursinya.
Alana buru-buru bergegas keluar sebelum pria itu bisa menggoda lebih jauh. Namun, saat ia melangkah pergi, ia bisa merasakan tatapan Adrian masih menempel di punggungnya.
Dan yang lebih buruk lagi—ia tidak yakin bisa melupakan godaan nakal itu dengan mudah.
***