Seharian itu, Alana berusaha sebisa mungkin menghindari Adrian. Namun, seakan pria itu sengaja memainkan sebuah permainan, mereka terus saja bertemu di berbagai sudut mansion.
Di ruang makan, saat Alana sedang merapikan meja, Adrian muncul tanpa suara, berjalan melewatinya dengan tatapan yang nyaris menggodanya.
Di lorong, saat ia membawa setumpuk handuk bersih, pria itu melintas, sengaja memperlambat langkahnya hingga bahu mereka hampir bersentuhan, membuat Alana menahan napas.
Dan sekarang, di dapur, ia baru saja selesai menyeduh teh untuk salah satu tamu mansion ketika suara berat itu kembali terdengar di belakangnya.
“Kau terlihat gelisah.”
Alana terkejut, hampir menjatuhkan cangkir di tangannya. Ia berbalik cepat, mendapati Adrian berdiri di ambang pintu dapur, bersandar santai dengan tangan tersilang di d**a. Matanya menelusuri wajah Alana dengan tatapan tajam yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia mengerti.
“S-saya tidak gelisah, Tuan,” jawab Alana, berusaha terdengar normal.
Adrian melangkah mendekat, dan tanpa peringatan, jemarinya terangkat, menyentuh dagu Alana dengan ringan. Sentuhan itu membuat napas gadis itu tercekat.
“Bohong,” gumamnya rendah. “Jantungmu berdegup lebih cepat.”
Alana membeku. Bagaimana pria ini bisa tahu?
Ia menelan ludah, buru-buru mundur selangkah hingga punggungnya hampir menyentuh meja dapur. “Saya hanya… terkejut, Tuan.”
Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya masih meneliti wajahnya, seolah sedang mengamati setiap reaksi yang Alana berikan.
Lalu, bibir pria itu melengkung dalam senyuman kecil yang berbahaya.
“Kau menarik, Alana.”
Kalimat itu membuat napasnya tertahan.
Adrian kemudian berbalik begitu saja, melangkah pergi seolah tidak terjadi apa-apa, meninggalkan Alana dengan jantung yang berdebar kencang dan kepala yang dipenuhi kebingungan.
Apa maksud pria itu?
Dan kenapa hatinya terasa semakin kacau?
Yang ia tahu, sejak pertemuan itu, ia telah menarik perhatian seorang mafia.
Dan itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih berbahaya.
***