Keesokan paginya, Alana berusaha keras mengusir pikiran tentang Adrian. Ia memfokuskan diri pada pekerjaannya. Membersihkan ruang tamu, menyusun bunga di vas, dan memastikan tidak ada satu pun sudut yang berdebu. Namun, sekeras apa pun ia mencoba, bayangan pria itu tetap menghantuinya.
Setiap langkah yang ia ambil di mansion ini, setiap lorong yang ia lewati, ia merasa seakan-akan pria itu ada di sekitarnya. Dan itu membuatnya gelisah. Ketakutan jika bertemu kembali dengan pria tersebut. Tetapi ini mansionnya pasti akan ketemu juga.
Sampai akhirnya, ketakutannya menjadi nyata.
Saat ia sedang membersihkan meja di perpustakaan, suara langkah kaki terdengar mendekat. Alana menegakkan tubuhnya, jantungnya seketika berdetak lebih cepat.
Adrian.
Pria itu berjalan masuk dengan santai, mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang kokoh. Lengan bajunya tergulung rapi hingga siku, dan rambut hitamnya tampak sedikit acak, seolah ia baru saja bangun tidur.
Alana menelan ludah, buru-buru menundukkan kepala dan kembali sibuk mengelap meja, berharap pria itu tidak memperhatikannya.
Namun, harapannya sia-sia.
"Jadi, kau masih di sini," suara itu terdengar dalam dan tenang, membuat Alana semakin canggung.
Ia mengangkat kepalanya sedikit, mendapati Adrian berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan tatapan intens yang tidak bisa ia artikan.
“T-tentu saja, Tuan. Saya bekerja di sini,” jawab Alana cepat, mencoba menjaga nada suaranya tetap profesional.
Adrian tersenyum kecil, langkahnya mendekat.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Aku hanya tidak menyangka kau akan bertahan.”
Alana mengerutkan keningnya, bingung. “Maksud Anda?”
Adrian berhenti tepat di depannya, cukup dekat hingga Alana bisa mencium aroma maskulin pria itu—campuran wangi kayu dan sedikit aroma bourbon dari semalam.
“Biasanya, orang-orang yang sadar di mana mereka berada akan berpikir ulang untuk tetap tinggal,” gumamnya sambil meneliti wajah Alana. “Tapi kau tidak.”
Alana menelan ludah. Ada sesuatu dalam nada suara pria itu yang membuat bulu kuduknya meremang—bukan karena takut, tapi karena ada ketertarikan aneh yang ia sendiri tidak mengerti.
“Saya butuh pekerjaan ini, Tuan,” jawabnya, berusaha terdengar tegas.
“Dan saya tidak berniat ikut campur dalam urusan Anda.”
Adrian menatapnya dalam diam selama beberapa detik, seolah sedang mencari sesuatu dalam sorot matanya.
Lalu, sudut bibirnya melengkung dalam senyuman kecil.
“Hm… menarik.”
Alana mengerjap, bingung dengan sikap pria itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Adrian berbalik dan berjalan menuju rak buku, mengambil satu buku tanpa terburu-buru.
Sementara Alana masih berdiri kaku di tempatnya, menyadari satu hal
Adrian tidak hanya memperhatikannya.
Pria itu sedang menguji batasannya.
Dan entah kenapa, itu membuat jantungnya semakin berdebar.
**