Adrian duduk di kursi kulit hitam di ruang kerjanya, satu tangan menopang dagu sementara tangannya yang lain memutar gelas kristal berisi bourbon. Api dari perapian di sudut ruangan memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan samar di dinding.
Namun, bukan cahaya api yang memenuhi pikirannya.
Melainkan sosok seorang gadis.
Wajah cantik dengan mata besar penuh ketulusan. Suara lembut yang terdengar sedikit gugup, tetapi tetap tegas saat menyebutkan namanya. Dan sialnya tubuh ramping yang dibasahi keringat, membuat kaos lusuhnya menempel erat di kulitnya.
Adrian mengepalkan rahangnya, mendengus pelan.
"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya sendiri.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah terusik oleh seorang wanita. Ia bisa mendapatkan siapa pun yang ia inginkan, dan setelah itu, mereka hanyalah bayangan samar di kepalanya. Tidak ada yang benar-benar bertahan dalam pikirannya lebih dari beberapa jam.
Tapi Alana berbeda.
Ia bahkan bisa mengingat detail kecil, cara gadis itu menyeka keringat di dahinya, tatapan paniknya saat menyadari dirinya menatapnya terlalu lama, hingga cara bibirnya sedikit bergetar saat berbicara.
Adrian mengangkat gelasnya dan meneguk minumannya dengan kasar, berharap panas alkohol bisa menghapus bayangan itu dari pikirannya.
Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas gambaran itu muncul.
Suaranya…
"Alana..." Adrian mendesis pelan, menyadari bahwa ia baru saja menyebut nama gadis itu tanpa sadar.
Sial.
Ini tidak benar.
Ia adalah Adrian De Lucca. Pemimpin keluarga mafia yang ditakuti banyak orang. Bukan pria bodoh yang terjebak dalam pesona seorang pelayan biasa.
Namun, saat ia memejamkan mata, wajah Alana kembali muncul di benaknya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian merasakan sesuatu yang asing.
Rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Dan ia benci mengakuinya.
Tapi yang lebih ia benci adalah fakta bahwa ia tahu—mulai saat ini, Alana bukan lagi hanya seorang pelayan di mansionnya.
Gadis itu telah menjadi bagian dari pikirannya.
Dan mungkin, juga bagian dari hidupnya.
***
Alana berbaring di ranjang sempitnya di kamar pelayan, menatap langit-langit dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya, meskipun pertemuan itu sudah berlalu beberapa jam lalu.
Wajah pria itu kembali terbayang di pikirannya.
Adrian De Lucca.
Tatapan abu-abu tajam yang menusuknya tanpa ampun. Rahang kokoh yang tegas, tubuh tinggi dan maskulin yang memancarkan aura berbahaya. Serta cara bibirnya melengkung tipis seakan menikmati kegugupannya.
Alana memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya.
“Sial…” bisiknya pelan.
Seharusnya ia tidak memikirkan ini. Tidak memikirkan pria itu. Ia hanya seorang pelayan biasa di mansion ini. Adrian bukan hanya bosnya, tapi juga seorang mafia. Seorang pria yang hidup dalam dunia yang gelap dan penuh kekerasan.
Tapi…
Bayangan tatapannya yang seakan menelanjangi dirinya tadi membuat tubuhnya meremang.
Alana bisa merasakan bagaimana pria itu mengamatinya, seolah ia adalah sesuatu yang menarik perhatiannya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada pria yang menatapnya seperti itu—dengan ketertarikan, dengan intensitas yang begitu kuat hingga membuatnya kehilangan kata-kata.
Ia menggulung tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
"Tidak, ini hanya perasaan sesaat," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, semakin ia mencoba mengabaikan, semakin bayangan itu menari-nari di kepalanya.
Suara dalam yang terdengar tenang namun berbahaya.
Cara pria itu mencondongkan tubuhnya, seolah sengaja menggodanya.
Dan tatapan itu—tatapan yang terasa seperti sebuah peringatan sekaligus janji yang samar.
Alana menggigit bibirnya lebih keras.
Seharusnya ia takut. Seharusnya ia menjaga jarak.
Tapi kenapa justru ada perasaan aneh yang bergejolak di dalam dirinya?
Sebuah rasa penasaran yang berbahaya.
Dan mungkin, sebuah ketertarikan yang seharusnya tidak pernah ada.
***