Alana menghela napas panjang, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Sudah hampir satu jam ia berada di dalam kamar mandi luas itu, menggosok lantai marmer dan membersihkan kaca yang tampak berembun karena uap air.
Pekerjaan ini jauh lebih melelahkan dari yang ia bayangkan, tetapi ia tidak punya pilihan. Demi keluarganya, ia harus bertahan.
Mansion ini bukanlah tempat biasa. Semuanya terasa begitu megah, terlalu mewah bagi orang seperti dirinya. Dan yang lebih menakutkan, mansion ini adalah milik keluarga mafia terkenal. Namun, selama ia bekerja dengan baik dan tidak mencari masalah, semuanya pasti akan baik-baik saja.
Alana menghela napas, lalu berdiri untuk mengambil ember berisi air kotor. Namun, saat ia berbalik, sebuah sosok tinggi berdiri di ambang pintu kamar mandi, membuatnya terlonjak kaget.
Seorang pria dengan kemeja hitam yang digulung hingga siku, tubuhnya tegap dan wajahnya begitu tajam—rahang kokoh, hidung mancung, dan sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Alana membeku. Oh Tuhan. Ini dia.
Adrian De lucca.
Pemilik mansion ini.
Mafia muda yang terkenal dingin dan berbahaya.
Tatapan pria itu menelusuri tubuhnya, dan Alana baru sadar bahwa kaosnya telah basah oleh keringat, menempel erat di kulitnya. Pipinya merona, buru-buru ia melipat tangan di depan d**a, mencoba menutupi tubuhnya.
Adrian menaikkan satu alis, lalu melangkah masuk dengan santai.
“Kau siapa?” suaranya rendah, dalam, dan entah kenapa membuat bulu kuduk Alana meremang.
“A-Alana, Tuan. Saya pelayan baru,” jawabnya cepat, menundukkan kepala.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Alana lebih lama, seakan tengah menilai sesuatu. Lalu, tiba-tiba, bibirnya melengkung tipis.
“Hmm.” Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu, tangannya menyilang di d**a.
“Sejak kapan mansion ini mempekerjakan pelayan yang terlihat begitu…muda dan menarik?”
Alana tertegun, menatapnya dengan mata melebar. Apa itu… pujian? Atau justru ejekan?
“Tuan, saya hanya melakukan pekerjaan saya,” katanya cepat, berharap pria itu segera pergi dan membiarkannya menyelesaikan tugasnya.
Tapi Adrian justru tersenyum lebih lebar.
“Aku tahu,” katanya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. “Dan aku menikmatinya.”
Jantung Alana berdebar kencang. Apa maksud pria ini?
Satu hal yang pasti, bekerja di mansion ini tidak akan semudah yang ia kira.