Alana berdiri kaku di depan pintu kamar mandi, kedua tangannya mengepal erat di depan dadanya.
"Tuan Adrian…" suaranya nyaris berbisik, mencoba menegaskan sesuatu.
"Saya rasa ini bukan tugas saya."
Dari balik pintu kaca kamar mandi, Adrian yang sudah membuka sebagian pakaiannya menoleh dengan ekspresi santai, seolah tidak ada yang aneh dengan permintaannya barusan.
"Kau adalah pelayan pribadiku, Sayang," katanya dengan nada penuh godaan. "Memandikanku juga termasuk dalam tugasmu, bukan?"
Alana menggigit bibir, wajahnya sudah terasa memanas. "Tapi… bukankah Anda bisa melakukannya sendiri?"
Adrian tersenyum miring. "Bisa. Tapi aku ingin kau yang melakukannya untukku."
Alana semakin salah tingkah saat melihat Adrian menarik sisa bajunya, memperlihatkan tubuh maskulin dengan kulit yang basah terkena uap hangat dari shower.
Astaga… pria ini terlalu menggoda.
"T-tidak bisa," Alana akhirnya bersuara. "Saya hanya pelayan biasa. Ini bukan tugas saya!"
Adrian mengangkat sebelah alis, lalu melangkah mendekat dengan tatapan penuh tantangan.
"Jadi kalau aku memintamu sebagai kekasihku… kau mau?"
Alana langsung terbelalak. "Adrian!"
Pria itu tertawa kecil, lalu dengan cepat menarik tangan Alana agar lebih dekat dengannya.
"Aku hanya ingin melihat reaksimu," bisiknya, menatap wajah merah merona Alana dengan penuh kenikmatan.
"Tapi sepertinya kau cukup menikmati peran ini."
Alana buru-buru menghindar, mengumpulkan keberaniannya untuk tetap bersikap profesional. "Kalau Anda hanya ingin menggoda saya, saya lebih baik pergi."
Tapi sebelum ia bisa melangkah pergi, Adrian sudah menangkap pergelangan tangannya.
"Baiklah, baiklah," katanya, masih dengan senyum jahil. "Aku tidak akan memaksamu."
Ia kemudian mengambil botol sampo dan menyodorkannya ke Alana. "Setidaknya, bantu aku mencuci rambutku."
Alana menatap botol itu ragu-ragu, lalu mendongak menatap Adrian yang menunggu dengan ekspresi penuh keyakinan.
"Saya hanya mencuci rambut Anda. Tidak lebih," tegasnya.
Adrian mengangkat bahu, lalu duduk di bangku kecil dalam kamar mandi. "Silakan, Sayang."
Dengan hati-hati, Alana mulai menuangkan sampo ke tangan, lalu menyentuh rambut basah Adrian. Jemari mungilnya perlahan memijat kulit kepala pria itu, menghasilkan busa yang lembut dan aroma maskulin yang memenuhi ruangan.
Adrian memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut itu. "Hmmm… ini lebih baik dari yang kubayangkan."
Alana mencoba fokus, tapi bagaimana mungkin ia bisa tenang saat melihat pria dengan tubuh sempurna itu duduk dengan santai di depannya, matanya tertutup seolah benar-benar menikmati perlakuannya?
Dan ketika tangan Alana sedikit tergelincir menyentuh tengkuk Adrian, pria itu mendesah pelan.
"Awas, Sayang…" Adrian membuka matanya perlahan, menatap Alana dengan sorot mata berbahaya. "Kalau kau terus menyentuhku seperti ini, aku bisa menganggapnya sebagai undangan."
Alana langsung menarik tangannya, pipinya semakin panas.
"Selesai!" katanya cepat, lalu mundur beberapa langkah.
Adrian terkekeh, mengusap wajahnya yang penuh busa. "Secepat itu? Padahal aku berharap kau akan memanjakanku lebih lama."
Alana buru-buru mengambil handuk dan menyodorkannya. "Saya pergi dulu!"
Ia berbalik dan hampir berlari keluar, meninggalkan Adrian yang masih duduk di sana dengan senyum penuh kemenangan.
Adrian menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu mengusap rambutnya yang masih penuh busa sambil tertawa kecil.
"Ah… gadis itu benar-benar menggemaskan."
Mungkin besok ia harus mencari alasan lain untuk memanggil Alana ke kamarnya.
***