Alana berdiri di depan cermin, jari-jarinya masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Pipinya masih merona, entah karena uap panas dari kamar mandi atau efek dari Adrian yang terus menggoda sejak tadi.
Ia bisa merasakan tatapan pria itu dari belakangnya.
“Kenapa kau terus menatapku?” gumamnya, mencoba mengabaikan debaran jantungnya yang semakin tidak terkendali.
Adrian, yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya, melangkah mendekat dengan santai. “Karena kau terlalu cantik untuk tidak kulihat.”
Alana menghela napas, berusaha mencari cara untuk mengalihkan diri dari kehadiran pria berbahaya ini. Tapi sebelum ia bisa menjauh, Adrian sudah berdiri tepat di belakangnya, begitu dekat hingga tubuhnya bisa merasakan panas tubuh pria itu.
Tatapan mereka bertemu di cermin.
“Kau tahu?” bisik Adrian di dekat telinganya.
“Aku selalu berusaha menahan diri… tapi kau terus saja membuatku kehilangan kendali.”
Alana menelan ludah saat Adrian menyelipkan rambut basahnya ke belakang telinga, jarinya menyentuh kulitnya dengan lembut.
"Adrian…" suaranya hampir tak terdengar, tapi pria itu hanya tersenyum kecil sebelum menunduk lebih dekat.
"Ya?" gumamnya, suaranya rendah dan dalam, penuh godaan yang membuat tubuh Alana semakin lemas.
Dan sebelum Alana bisa menjawab, bibir Adrian sudah menyentuh pundaknya, mengecupnya dengan penuh kelembutan.
Sebuah desahan pelan lolos dari bibirnya.
Alana meremas handuk di tangannya, berusaha mengabaikan sensasi panas yang menjalar di tubuhnya. Tapi Adrian tidak berhenti di sana. Pria itu menelusuri lehernya, memberikan kecupan-kecupan ringan yang membuat tubuhnya meremang.
"Jangan seperti ini…" bisik Alana, meskipun dirinya tidak benar-benar menjauh.
Adrian terkekeh, lalu dengan satu gerakan cepat, ia membalik tubuh Alana hingga mereka saling berhadapan.
Tatapan Adrian begitu dalam, penuh gairah yang tertahan. "Kau ingin aku berhenti?" tanyanya pelan.
Alana menatapnya, bibirnya sedikit terbuka, napasnya tersengal. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia menginginkan ini, sama seperti Adrian.
Dan tanpa menjawab, Alana merasakan dirinya tenggelam saat Adrian menariknya lebih dekat dan menempelkan bibirnya pada bibirnya.
Ciuman itu dimulai dengan lembut, seperti ujian kesabaran bagi mereka berdua. Tapi saat Alana mulai membalas, Adrian kehilangan kendali.
Tangannya melingkari pinggang ramping gadis itu, menariknya lebih dalam ke dalam ciumannya yang semakin panas dan mendominasi. Bibir mereka saling menekan, saling menjelajah, seolah ingin melebur menjadi satu.
Alana bisa merasakan jari-jari Adrian membelai punggungnya, mengirimkan sensasi yang membuatnya hampir kehilangan pijakan.
Napas mereka semakin berat, semakin dalam.
Ketika akhirnya Adrian menarik diri, ia menempelkan dahinya ke dahi Alana, senyum menggoda masih menghiasi bibirnya yang sedikit basah.
"Aku bisa menciummu selamanya," bisiknya serak.
Alana masih terengah, wajahnya merah padam, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya.
Dan saat itu juga, ia sadar yang ia benar-benar telah jatuh. Adakah hubungan ini akan terus bersama atau hanya mimpi sahaja. Dia dan Tuan Adrian.
***