Pagi semakin memancarkan cahaya mentari, Alana mencoba melepaskan diri dari dekapan Adrian, tapi pria itu malah mengeratkan pelukannya.
"Jangan pergi dulu," gumam Adrian dengan suara serak yang masih dipenuhi kantuk.
Alana menelan ludah, tubuhnya terasa begitu kecil dalam dekapannya. Ia bisa merasakan betapa kokohnya pria itu,begitu hangat dan begitu dominan.
"Tuan Adrian, saya harus.."
"Tidak ada panggilan 'Tuan' saat kita seperti ini, Sayang." Adrian membuka sedikit matanya, lalu menatapnya penuh godaan.
"Hanya Adrian."
Alana mengembuskan napas pelan. "Adrian, saya harus bangun…"
Tapi alih-alih melepaskannya, Adrian justru menggerakkan jemarinya, menelusuri punggungnya perlahan hingga tiba di pinggangnya.
"Kau tahu?" bisiknya di dekat telinga Alana, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Tidur sambil memelukmu seperti ini membuatku sulit untuk melepasmu."
Alana menegang saat jemari Adrian bermain di pinggangnya, membelai pelan kain tipis yang membalut tubuhnya.
"Gaun tidur ini…" lanjutnya, suaranya semakin rendah, "terasa begitu lembut di kulitmu. Tapi aku yakin, bukan hanya kain ini yang lembut…"
Alana tersentak, pipinya langsung memanas.
"Adrian!" Ia mencoba bergerak, tapi justru membuat posisi mereka semakin berbahaya.
Adrian hanya tertawa kecil, lalu menelusuri jemarinya ke lengan Alana sebelum berhenti di pundaknya. "Kau terlalu peka, Sayang…"
Tatapannya turun, menelusuri sosok gadis itu dengan penuh perhatian. "Bahkan setiap gerakan kecil darimu begitu menggoda tanpa kau sadari."
Alana bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia tahu Adrian hanya bermain-main dengannya, tapi godaannya selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali.
Adrian lalu menariknya lebih dekat, hingga d**a bidangnya menyentuh tubuh mungil Alana. "Kau tahu?" bisiknya lagi, kali ini semakin nakal, "Kalau kau terus bereaksi seperti ini, aku mungkin tidak akan bisa menahan diri lebih lama lagi."
Alana langsung mendorong d**a pria itu, membuat Adrian terkekeh pelan.
"Tersipu lagi," godanya. "Aku suka melihat wajahmu seperti ini."
Alana langsung beranjak turun dari tempat tidur, tanpa berani menatap Adrian lagi. "Saya harus pergi! Ada banyak pekerjaan di mansion."
Adrian hanya memandangnya dengan ekspresi penuh kemenangan, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan senyum menggoda. "Baiklah… Tapi bersiaplah, Sayang. Aku belum selesai menggoda pagimu."
Alana berjalan cepat menuju pintu, tanpa sadar tangannya menyentuh dadanya yang masih berdebar.
Pria itu benar-benar berbahaya!
Dan yang lebih mengkhawatirkan, ia semakin menikmati semua godaan Adrian.
***