Malam semakin larut, tapi Alana belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya masih terasa tegang meskipun Adrian sudah berjanji tidak akan menyentuhnya lebih dari yang ia izinkan. Tapi bagaimana mungkin ia bisa tenang jika pria itu masih berbaring di sampingnya begitu dekat, begitu hangat, dan begitu menggoda?
Adrian sendiri tampaknya tidak berusaha tidur. Ia berbaring miring, satu lengannya tetap melingkari pinggang Alana, sementara matanya yang tajam terus mengamati wajah gadis itu dalam cahaya remang.
"Kau masih tegang," gumamnya rendah, suaranya terdengar dalam dan serak.
Alana menelan ludah, tidak berani bergerak.
"Karena ini pertama kalinya saya tidur bersama seorang pria."
Adrian tersenyum miring. "Dan aku ingin menjadi pria pertama dan yang terakhir."
Jantung Alana berdetak lebih kencang. Pria ini benar-benar berbahaya.
Adrian kemudian bergerak, menarik tubuh Alana lebih dekat hingga d**a bidangnya menyentuh punggung gadis itu. Napas hangatnya berhembus di tengkuk Alana, membuat gadis itu menggigit bibirnya sendiri untuk menahan reaksi tubuhnya.
"Adrian…" bisiknya, suaranya hampir bergetar.
"Hmmm?" Adrian mengecup ringan pundak Alana, tangannya dengan santai bermain di sepanjang lengan gadis itu, menciptakan gelombang panas yang menyiksa.
Alana memejamkan mata. "Ini… terlalu dekat…"
Adrian hanya terkekeh pelan. "Ini bahkan belum apa-apa, Sayang."
Jari-jarinya menelusuri pinggang Alana, lalu naik perlahan ke punggung gadis itu, membelai kulitnya dengan lembut.
"Tubuhmu meresponku, Alana," bisiknya di telinga gadis itu, membuat tubuh Alana semakin memanas.
"Tapi aku tidak akan mengambil sesuatu yang belum menjadi milikku sepenuhnya," lanjutnya.
"Aku hanya ingin menikmati malam ini bersamamu... menikmati caramu menggigil setiap kali aku menyentuhmu."
Alana mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak ingin pria ini tahu bahwa setiap sentuhan itu benar-benar membuatnya kehilangan akal.
Adrian menggerakkan jemarinya, menelusuri garis rahang Alana hingga ke bibir gadis itu. "Aku ingin mencium ini lagi..."
Alana menahan napas saat Adrian memiringkan wajahnya, mendekatkan bibir mereka.
Dan kali ini, Alana tidak menolak.
Bibir Adrian menyapu bibirnya dengan lembut, mengecapnya penuh perasaan sebelum akhirnya semakin dalam dan menuntut.
Alana tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi tangannya tanpa sadar sudah melingkar di leher Adrian, menarik pria itu lebih dekat.
Ciuman mereka semakin panas, napas keduanya memburu, hingga akhirnya Adrian menarik diri dengan senyum penuh kemenangan.
"Aku bisa membuatmu menginginkanku lebih dari ini..." bisiknya.
Alana tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, tubuhnya masih terasa lemah akibat ciuman yang begitu menggetarkan tadi.
Adrian kembali menelusuri wajahnya, jemarinya mengusap bibir Alana yang memerah karena ciumannya.
"Lihat dirimu..." gumamnya puas. "Kau semakin terbiasa denganku."
Alana tahu pria itu benar.
Dan itulah yang paling menakutkan baginya.
Karena setiap detik yang berlalu, ia semakin jatuh dalam pesona Adrian.
Malam itu mereka tidak menyatu, tapi batasan itu hampir saja kabur.
Hanya masalah waktu sebelum Alana akhirnya benar-benar menyerah.
**
Matahari pagi mulai mengintip dari balik jendela besar kamar Adrian, menyoroti dua sosok yang masih berbaring di ranjang mewah itu.
Alana mulai menggeliat pelan, matanya masih terasa berat, tapi ada sesuatu yang membuat tubuhnya kaku seketika.
Keadaan ini… terlalu intim.
Lengan kekar Adrian masih melingkari pinggangnya dengan erat, sementara tubuh mereka tetap begitu dekat. Bahkan lebih dekat dari yang ia ingat sebelum tertidur tadi malam.
Dan yang lebih mengejutkan, napas hangat Adrian terasa di lehernya, bibir pria itu hampir menyentuh kulitnya.
Alana menelan ludah. Ia harus segera bangun sebelum Adrian terjaga..
"Jangan bergerak," suara Adrian terdengar serak dan dalam, tanda bahwa ia baru saja terbangun.
Alana membeku. "A-Adrian…"
Adrian bergumam rendah, semakin mendekatkan wajahnya ke bahu Alana. "Kau tidur terlalu nyenyak tadi malam… sampai tidak sadar kalau aku semakin nyaman memelukmu seperti ini."
Alana bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu dengan begitu jelas. Ia harus segera keluar dari sini.
"Saya harus bangun… pekerjaan saya—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Adrian menarik pinggangnya, membuat tubuh mereka semakin menempel tanpa jarak.
"Siapa bilang kau harus bekerja pagi ini?" gumam Adrian malas.
Alana menegang. "Tapi—"
"Sstt…" Adrian menempelkan jarinya di bibir Alana. "Tidak ada yang berani mengganggumu sekarang. Aku sudah memberi perintah. Mereka tahu kau adalah orang istimewa bagiku."
Jantung Alana berdegup semakin kencang.
Adrian tersenyum miring, lalu menelusuri garis rahang Alana dengan jarinya.
"Kau terlalu manis saat bangun tidur seperti ini… wajah polosmu, rambut acak-acakan, dan pipimu yang masih merona setelah semalaman berada di sisiku."
Alana langsung menunduk, wajahnya semakin panas.
Adrian terkekeh kecil. "Kau selalu menggoda tanpa sadar, Sayang."
Tangan pria itu kemudian bergerak, menelusuri lengan Alana, turun ke pinggangnya, lalu berhenti di sana.
"Adrian…" Alana menahan napas.
"Hm?" Adrian kembali mengecup lembut bahu Alana, membuat gadis itu merinding. "Kau ingin aku berhenti?"
Alana menggigit bibir. Ia tahu seharusnya ia mengatakan 'iya', tapi tubuhnya justru menolak menjawab.
Adrian tersenyum puas, lalu membalik tubuh Alana hingga mereka saling berhadapan. Tatapan tajam pria itu menelusuri setiap inci wajahnya, sebelum akhirnya menempelkan dahinya ke dahi Alana.
"Aku bisa menggodamu sepanjang hari," bisiknya.
"Tapi aku tidak akan melanggar janjiku."
Alana menatapnya, masih sulit memahami bagaimana pria ini bisa begitu menguasai perasaannya.
Adrian tersenyum kecil. "Jadi, bagaimana kalau kita tetap di ranjang sedikit lebih lama?"
Alana ingin menolak, tapi saat Adrian menariknya kembali ke pelukannya, ia hanya bisa pasrah.
Lagi-lagi, Adrian berhasil membuatnya semakin jatuh.
***