Malam itu, suasana di kamar utama terasa begitu berbeda.
Alana duduk di tepi ranjang, jari-jarinya menggenggam erat kain gaunnya yang sudah diganti dengan pakaian tidur yang diberikan oleh Adrian. Sebuah gaun sutra tipis berwarna champagne yang terasa terlalu menggoda di kulitnya.
Sementara itu, Adrian berdiri di dekat jendela, menyesap segelas bourbon dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas dari sosok Alana.
Keadaan menjadi begitu sunyi, hanya terdengar suara rintik hujan di luar dan detak jantung Alana yang berdentum kencang dalam dadanya.
Adrian kemudian berjalan mendekat, lalu duduk di samping Alana dengan ekspresi santai, tapi tatapannya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
"Kenapa kau terlihat begitu tegang?" bisiknya, jemarinya terulur, menyingkirkan helaian rambut Alana yang jatuh di pipinya.
Alana menelan ludah. "Karena ini pertama kalinya saya tidur di kamar pria..."
Adrian tersenyum miring. "Dan bukan sembarang pria."
Ia mengangkat dagu Alana dengan lembut, membuat gadis itu menatapnya langsung.
"Aku pria yang menginginkanmu," lanjutnya, suaranya rendah dan menggoda.
"Yang ingin menyentuhmu... seperti ini." Jemarinya mulai menelusuri lengan Alana perlahan, menyebabkan sensasi panas menjalari tubuh gadis itu.
Alana mengerjapkan matanya, mencoba tetap berpikir jernih.
"Tuan Adrian..."
Adrian mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir menyentuh pipi Alana.
"Hanya Adrian untukmu, Sayang."
Alana menggeleng cepat, mencoba mengatur napas. "A..Adrian... saya tidak bisa."
Mata pria itu sedikit menyipit, tapi bukan karena marah lebih karena tertarik.
"Kenapa?"
Alana menatapnya dalam-dalam, suaranya nyaris berbisik.
"Karena saya ingin menyerahkan semuanya hanya kepada suami saya nanti."
Sejenak, keheningan menyelimuti mereka.
Adrian menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata yang sulit dibaca.
Lalu, alih-alih marah atau kecewa, senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Ia mengusap pipi Alana dengan ibu jarinya, seolah menghargai keteguhan hati gadis itu.
"Jadi... kau ingin aku menikahimu dulu?" godanya dengan suara rendah yang terdengar semakin berbahaya.
Alana langsung tersentak. "B-bukan begitu maksud saya.."
Adrian tertawa kecil, lalu menarik Alana dalam pelukannya dengan cara yang begitu intim.
"Kau benar-benar istimewa, Alana," bisiknya di telinga gadis itu, membuat tubuh Alana merinding.
Lalu, alih-alih melangkah lebih jauh, Adrian hanya membaringkan tubuhnya di samping Alana, melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dengan erat.
"Baiklah," katanya akhirnya.
"Aku bisa menunggu."
Alana menatapnya dengan heran. "Kau tidak marah?"
Adrian menatapnya dengan mata yang menggelap.
"Keinginanku padamu tidak akan berubah, Sayang." Ia mengecup pelipis Alana dengan lembut.
"Tapi aku tidak akan menyentuhmu sampai kau benar-benar menginginkannya."
"Aku menghargai keputusanmu, Alana. Dan aku akan menunggu sampai kau siap. Tapi ingat satu hal.."
Dia berhenti, berdiri sangat dekat, hampir bisa merasakan detak jantung Alana.
"Kau telah membuatku jatuh, dan aku tidak akan mundur."
Alana menatapnya dengan lembut, tetapi tetap tegas. "Saya tidak meminta itu, Tuan Adrian."
Adrian tersenyum miring, meski masih ada api yang membara di matanya. "Aku tahu. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan."
Mereka berdiri diam, saling memandang dalam keheningan yang penuh arti. Ada banyak hal yang belum terungkap, banyak perasaan yang belum disampaikan. Namun, satu hal pasti di malam pertama mereka bersama, Adrian tidak memaksakan apapun.
Ia menghormati keputusan Alana.
Dan itu membuat Alana merasa lebih dihargai daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Alana tidak bisa berkata apa-apa.
Tapi yang pasti, ia tahu satu hal..
Adrian bukan pria biasa. Dan di saat yang sama, ia semakin takut... bahwa ia akan semakin jatuh dalam pesona pria ini.
***