Alana masih terhanyut dalam debaran jantungnya yang tak terkendali. Bibirnya masih sedikit bergetar setelah ciuman pertama mereka. Sesuatu yang begitu lembut, tapi sekaligus membakar perasaannya.
Adrian menatapnya dengan tatapan kelam yang berbahaya, seolah menahan diri untuk tidak menuntut lebih. Jemarinya masih bertengger di pinggang Alana, menahan gadis itu tetap dalam pelukannya.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Alana, yang biasanya menghindar dan menunduk, kini malah membiarkan dirinya menikmati kehadiran Adrian. Dan sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, tangannya bergerak sendiri.
Perlahan, jemari Alana menyentuh rahang Adrian, merasakan tekstur kulitnya yang kasar namun hangat.
Adrian terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis ini yang selama ini selalu mencoba menjaga jarak. Kini justru berani menyentuhnya.
Alana menelusuri garis rahang tajam itu dengan ragu-ragu, jemarinya bergerak ke pipi Adrian, lalu ke bibirnya.
Ia menelan ludah saat menyadari betapa hangatnya pria ini. Betapa nyatanya dirinya di sini, di hadapan seorang mafia yang begitu kuat, tapi kini tampak begitu jinak dalam genggamannya.
Adrian menarik napas panjang, seolah menahan gejolak dalam dirinya.
"Alana..."
Alana mengangkat wajahnya, menatap matanya yang begitu dalam.
"Saya... tidak tahu kenapa saya melakukan ini..." bisiknya jujur.
Adrian tersenyum miring, lalu menangkup tangannya di atas tangan Alana yang masih menyentuh wajahnya.
"Karena kau juga menginginkanku, Sayang."
Alana tersentak.
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Dan sebelum ia bisa menarik tangannya, Adrian menangkap pergelangan tangannya dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut, membuat Alana terhanyut dalam sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
"Kau tidak bisa lari lagi dariku," bisik Adrian, suaranya dalam dan berat.
"Dan aku akan memastikan kau sadar akan hal itu."
Alana hanya bisa terdiam.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu—
Ia telah mula nyaman.
**
Malam itu, Adrian berdiri di tengah ruang makan besar mansion, dikelilingi oleh para pelayan yang sudah bekerja lama di sana. Tatapan tajamnya menyapu seluruh ruangan, membuat suasana menjadi tegang.
Alana berdiri tak jauh darinya, merasa canggung dengan situasi ini. Ia tidak menyangka Adrian akan mengumumkan sesuatu yang besar.
"Aku ingin kalian semua mendengarkan baik-baik," suara Adrian terdengar tegas dan dingin, membuat semua orang menundukkan kepala, tak berani menatapnya langsung.
Mata kelamnya menatap tajam.
"Mulai malam ini, Alana akan tinggal di kamar utama bersamaku. Dan aku tidak ingin ada satu pun dari kalian yang berani memperlakukannya dengan buruk."
Para pelayan saling berpandangan, sebagian tampak terkejut, sebagian lagi mulai terlihat iri.
"Tapi, Tuan Adrian…" salah satu pelayan senior, Nyonya Greta, memberanikan diri bicara.
"Alana hanyalah seorang pelayan baru. Apakah ini pantas?"
Adrian menoleh perlahan, matanya langsung menajam.
"Apa kau mempertanyakan keputusanku, Greta?"
Nyonya Greta langsung menunduk dalam.
"Tentu tidak, Tuan…"
"Bagus," Adrian melipat tangannya di d**a.
"Kalian semua harus tahu satu hal. Alana bukan sekadar pelayan di rumah ini. Dia milikku."
"Segala urusan diriku akan diuruskan oleh Alana. Dan kamu semua perlu membantunya.Dan siapa pun yang berani bersikap kasar atau tidak menghormatinya…"
Adrian berhenti sejenak, memberikan tatapan penuh ancaman.
"Aku sendiri yang akan turun tangan."
Suasana ruangan semakin sunyi. Tak seorang pun berani menentang perintah Adrian.
Alana sendiri merasa jantungnya berdetak kencang. Semua ini terjadi begitu cepat, dan ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
Setelah semua pelayan bubar, Adrian berbalik dan menatap Alana. Senyum tipis tersungging di wajahnya.
"Mulai malam ini, kau hanya tidur di kamarku. Aku ingin kau ada di dekatku setiap saat."
Alana menelan ludah. "Tapi… kenapa?"
Adrian mendekat, mengangkat dagunya dengan jemari yang kokoh.
"Karena aku tidak ingin ada satu pun orang menyentuhmu, menyakitimu, atau bahkan melihatmu dengan cara yang salah."
Tatapan matanya berubah lembut, tapi tetap mendominasi.
"Aku ingin kau merasa aman, Alana."
Alana menggigit bibirnya, jantungnya semakin tak karuan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia melangkah masuk ke dalam kamar utama Adrian. Sebuah langkah yang akan mengubah hidupnya selamanya.
***