Alana masih terpaku dalam pelukan Adrian, jantungnya berdetak begitu kencang seolah hendak melompat keluar. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata pria itu masih bergaung di kepalanya
"Aku jatuh cinta padamu, Alana."
Ini bukan lagi godaan seperti biasanya.
Tatapan mata Adrian berbeda kali ini. Hangat, dalam, dan penuh dengan keinginan yang tak lagi tersamarkan.
Hujan di luar semakin deras, angin dingin masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, tetapi tubuh Alana justru terasa panas dalam dekapan pria itu.
"Alana..." suara Adrian terdengar lebih pelan kali ini.
"Bolehkah aku membuktikannya?"
Alana menelan ludah, matanya membesar.
"M-membuktikan apa?"
Alih-alih menjawab, Adrian hanya tersenyum kecil, lalu jemarinya perlahan menyusuri wajah Alana, menyelipkan beberapa helai rambut gadis itu ke belakang telinganya.
Jarak di antara mereka semakin menipis.
Alana bisa merasakan napas hangat Adrian menyapu wajahnya, membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia tahu ia seharusnya bergerak mundur, tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
Seolah jiwanya menginginkan ini sama seperti Adrian.
Dan akhirnya, Adrian menghapus jarak itu.
Bibirnya menyentuh bibir Alana dengan lembut, begitu pelan dan penuh perasaan seolah ingin memastikan bahwa gadis itu bisa merasakan segalanya. Perasaan, ketulusan, dan keinginan yang telah lama ia tahan.
Alana terkejut, matanya membesar sesaat sebelum perlahan-lahan menutup.
Ciuman itu tidak terburu-buru. Adrian tidak menuntut, tidak memaksa. Ia hanya ingin merasakan Alana.
Dan anehnya, Alana membiarkan dirinya tenggelam di dalamnya.
Jemarinya mencengkeram bagian depan kemeja Adrian, sementara tangan pria itu menelusuri punggungnya dengan lembut, seolah tidak ingin melepasnya.
Hujan di luar seolah menjadi saksi atas ciuman pertama mereka.
Saat bibir Adrian akhirnya berpisah dari bibirnya, Alana masih terhanyut, napasnya sedikit tersengal. Ia membuka matanya perlahan, hanya untuk menemukan pria itu tersenyum kecil padanya.
"Tidak ada jalan kembali, Alana," bisik Adrian. "Kau milikku sekarang."
Dan anehnya, untuk pertama kalinya—Alana tidak menolak.
Ia tahu.
Ia telah jatuh.
**
Alana masih terhanyut dalam debaran jantungnya yang tak terkendali. Bibirnya masih sedikit bergetar setelah ciuman pertama mereka. Merasai sesuatu yang begitu lembut, tapi sekaligus membakar perasaannya.
Adrian menatapnya dengan tatapan kelam yang berbahaya, seolah menahan diri untuk tidak menuntut lebih. Jemarinya masih bertengger di pinggang Alana, menahan gadis itu tetap dalam pelukannya.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Alana, yang biasanya menghindar dan menunduk, kini malah membiarkan dirinya menikmati kehadiran Adrian. Dan sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, tangannya bergerak sendiri.
Perlahan, jemari Alana menyentuh rahang Adrian, merasakan tekstur kulitnya yang kasar namun hangat.
Adrian terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis ini—yang selama ini selalu mencoba menjaga jarak—kini justru berani menyentuhnya.
Alana menelusuri garis rahang tajam itu dengan ragu-ragu, jemarinya bergerak ke pipi Adrian, lalu ke bibirnya.
Ia menelan ludah saat menyadari betapa hangatnya pria ini. Betapa nyatanya dirinya di sini, di hadapan seorang mafia yang begitu kuat, tapi kini tampak begitu jinak dalam genggamannya.
Adrian menarik napas panjang, seolah menahan gejolak dalam dirinya. "Alana..."
Alana mengangkat wajahnya, menatap matanya yang begitu dalam.
"Saya... tidak tahu kenapa saya melakukan ini..." bisiknya jujur.
Adrian tersenyum miring, lalu menangkup tangannya di atas tangan Alana yang masih menyentuh wajahnya.
"Karena kau juga menginginkanku, Sayang."
Alana tersentak.
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Dan sebelum ia bisa menarik tangannya, Adrian menangkap pergelangan tangannya dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut, membuat Alana terhanyut dalam sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
"Kau tidak bisa lari lagi dariku," bisik Adrian, suaranya dalam dan berat.
"Dan aku akan memastikan kau sadar akan hal itu."
Alana hanya bisa terdiam.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu..
Ia juga tidak ingin lari lagi.
***