Setelah makan malam usai, para pria tetap duduk di ruang makan, membahas urusan bisnis yang mungkin tak boleh didengar oleh kami, para wanita. Para pelayan datang membawakan teh dan kudapan, lalu dengan isyarat halus dari salah satu selir tertua, aku pun digiring ke taman belakang mansion—tempat pertemuan kecil para wanita Dubois biasa berlangsung.
Kursi-kursi rotan elegan melingkar di bawah pohon zaitun tua yang rimbun. Lampu-lampu gantung temaram menciptakan suasana hangat, tapi tetap saja udara terasa menusuk.
Ada empat selir di sana, masing-masing berpakaian mewah dengan perhiasan yang bergemerincing saat mereka bergerak.
“Akhirnya kita bisa bicara tanpa para pria itu,” ucap seorang wanita dengan rambut pirang terang dan senyum tajam. Ia adalah Clarisse, salah satu selir Lukee. "Claire. Bagaimana rasanya menjadi istri Kairos?” tanyanya, to the point.
Baru. Kata itu ditekankan, seperti luka yang disengaja disentuh.
Aku tersenyum sopan. “Senang bisa mengenal kalian semua.”
“Oh, tentu. Kami juga sangat senang,” timpal Aline, selir Lukee lainnya yang mengenakan gaun ungu. “Kau terlihat… luar biasa malam ini. Gaunmu itu rancangan siapa?”
Aku menatap gaun malamku. Hijau zamrud dengan detail renda hitam dan sulaman perak di leher dan lengan—gaun pemberian Kairos.
“Saya tidak tahu,” jawabku jujur. “Kairos yang menyiapkannya.”
Suasana mendadak senyap. Tatapan mereka menyapu gaunku, lalu kembali pada wajahku, kini dengan kilat emosi yang lebih sulit ditutupi.
“Ah, Kairos… memang pria unik. Sedingin batu, tapi siapa sangka dia begitu memperhatikan detail untuk istrinya,” gumam Clarisse, senyumannya merekah lebar—terlalu lebar.
“Ya, dia bahkan tidak pernah menunjukkan minat pada wanita sebelumnya,” celetuk Aline, sambil menyeruput tehnya. “Kau tahu, dia satu-satunya putra Lukee yang tidak memiliki selir hingga sekarang.”
“Benar juga,” selir keempat, yang lebih pendiam, menambahkan, “Kami sampai bertaruh kapan dia akan menikah. Tapi ternyata… ia langsung setuju menikah denganmu, dihari pertama kalian berjumpa.”
“Langsung dan diam-diam,” bisik Clarisse, dengan nada menggoda. “Pasti ada yang sangat istimewa darimu.”
Aku tersenyum tenang, walau hatiku tahu, ini bukan pujian. Ini ujian.
"Hah, tadinya aku kira kau calon selir Lukee selanjutnya ternyata jadi menantu." Timpal Aline.
Aku menatap mereka satu per satu. Mata mereka tersenyum, tapi bukan dengan kehangatan. Ada rasa iri, penasaran, dan mungkin, ketakutan. Seolah mereka tahu, keberadaanku bisa mengubah posisi mereka yang selama ini aman.
“Dia memang bukan pria yang mudah didekati,” jawabku pelan. “Tapi aku percaya, waktu akan membuat segalanya lebih mudah.”
“Ah, begitu diplomatis,” kata Clarisse sambil tertawa pelan. “Lukee pasti menyukaimu. Dia membenci wanita bodoh.”
“Oh, tidak,” timpal Aline cepat, “mungkin karena Claire ini bukan sekadar istri. Dia bisa jadi... pewaris. Kau tahu, Kairos itu satu-satunya putra kandung Lukee.”
Deg.
Aku menelan ludah. Kata pewaris terasa seperti pisau yang dilemparkan sembari tersenyum.
Lalu tiba-tiba, Clarisse mendekat dan menyentuh anting di telingaku.
“Ini berlian asli,” gumamnya. “Dan desainnya... bukan dari butik sembarangan.”
“Ya, bahkan gaun kita malam ini tak seindah milik Claire,” Aline ikut bicara, kali ini dengan nada lembut yang menurutku palsu. “Kau sangat beruntung.”
Aku kembali tersenyum. “Mungkin hanya keberuntungan, atau… hadiah agar aku cepat betah.”
Mereka tertawa, tapi yang kulihat seperti tawa kosong.
Dan saat tawa memudar, aku menatap cangkir tehku, lalu mengangkatnya perlahan, seolah bersulang.
“Semoga kita bisa terus rukun, ya.”
Mereka mengangguk… dan dalam benakku, sebuah kalimat bergema: aku akan ingat wajah-wajah kalian, jika nanti aku harus memilih siapa yang bisa kugunakan, dan siapa yang harus kujatuhkan.
Setelah sesi “kebersamaan” penuh kepalsuan dengan para selir itu berakhir, aku akhirnya bisa menarik napas lega.
Langit malam di luar terasa lebih jujur daripada senyum mereka yang menusuk. Setibanya di mansion Kairos, langkahku melambat saat menyusuri lorong menuju kamar.
Di depan pintu, seorang gadis muda telah menungguku dengan wajah cerah.
“Nona Claire!” serunya riang, lalu buru-buru membungkuk dengan sopan. “Maaf saya tak sempat memperkenalkan diri saya pada Nona. Nama saya Liora, saya pelayan baru yang dikhususkan untuk melayani Nona.”
Aku tersenyum samar, lelah. Tapi senyum gadis itu entah kenapa... menenangkan.
“Tidak apa-apa,” jawabku lembut. Tetapi, aku memperhatikan penampilannya yang lugu.
Namanya Liora. Usianya mungkin sebaya denganku—sekitar dua puluh tahun. Wajahnya manis dengan mata bulat. Serta bibirnya yang mengembang tersenyum.
“Kalau Nona lelah, akan saya siapkan air hangat untuk rendaman. Kaki Nona pasti sangat pegal ya, karena habis duduk berjam-jam bareng para tante-tante cantik itu.” Liora tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum. “Kau tahu mereka?”
“Tentu saja, Nona. Siapa yang tidak tahu seluk-beluk keluarga Dubois,” bisiknya sambil cekikikan.Setelah makan malam usai, para pria tetap duduk di ruang makan, membahas urusan bisnis yang mungkin tak boleh didengar oleh kami, para wanita. Para pelayan datang membawakan teh dan kudapan, lalu dengan isyarat halus dari salah satu selir tertua, aku pun digiring ke taman belakang mansion—tempat pertemuan kecil para wanita Dubois biasa berlangsung.
Kursi-kursi rotan elegan melingkar di bawah pohon zaitun tua yang rimbun. Lampu-lampu gantung temaram menciptakan suasana hangat, tapi tetap saja udara terasa menusuk.
Ada empat selir di sana, masing-masing berpakaian mewah dengan perhiasan yang bergemerincing saat mereka bergerak.
“Akhirnya kita bisa bicara tanpa para pria itu,” ucap seorang wanita dengan rambut pirang terang dan senyum tajam. Ia adalah Clarisse, selir Vincent. "Claire. Bagaimana rasanya menjadi stri Kairos?” tanyanya, to the point.
Baru. Kata itu ditekankan, seperti luka yang disengaja disentuh.
Aku tersenyum sopan. “Senang bisa mengenal kalian semua.”
“Oh, tentu. Kami juga sangat senang,” timpal Aline, selir Gaspard yang mengenakan gaun hijau zamrud. “Kau terlihat… luar biasa malam ini. Gaunmu itu rancangan siapa?”
Aku menatap gaun malamku. Hijau Zamrud dengan detail renda hitam dan sulaman perak di leher dan lengan—gaun pemberian Kairos.
“Saya tidak tahu,” jawabku jujur. “Kairos yang menyiapkannya.”
Suasana mendadak senyap. Tatapan mereka menyapu gaunku, lalu kembali pada wajahku, kini dengan kilat emosi yang lebih sulit ditutupi.
“Ah, Kairos… memang pria unik. Sedingin batu, tapi siapa sangka dia begitu memperhatikan detail untuk istrinya,” gumam Clarisse, senyumannya merekah lebar—terlalu lebar.
“Ya, dia bahkan tidak pernah menunjukkan minat pada wanita sebelumnya,” celetuk Aline, sambil menyeruput tehnya. “Kau tahu, dia satu-satunya putra Lukee yang tidak memiliki selir hingga sekarang.”
“Benar juga,” selir keempat, yang lebih pendiam, menambahkan, “Kami sampai bertaruh kapan dia akan menikah. Tapi ternyata… ia langsung menikahimu.”
“Langsung dan diam-diam,” bisik Clarisse, dengan nada menggoda. “Pasti ada yang sangat istimewa darimu.”
Aku tersenyum tenang, walau hatiku tahu, ini bukan pujian. Ini ujian.
“Kami bahkan tak diberi kabar sebelumnya,” lanjut Aline. “Tahu-tahu kau sudah tinggal bersama Kairos. Apa rasanya tinggal di mansion milik pria yang tidak pernah membuka pintu hatinya untuk siapa pun?”
Aku menatap mereka satu per satu. Mata mereka tersenyum, tapi bukan dengan kehangatan. Ada rasa iri, penasaran, dan mungkin, ketakutan. Seolah mereka tahu, keberadaanku bisa mengubah posisi mereka yang selama ini aman.
“Dia memang bukan pria yang mudah didekati,” jawabku pelan. “Tapi aku percaya, waktu akan membuat segalanya lebih mudah.”
“Ah, begitu diplomatis,” kata Clarisse sambil tertawa pelan. “Lukee pasti menyukaimu. Dia membenci wanita bodoh.”
“Oh, tidak,” timpal Aline cepat, “mungkin karena Claire ini bukan sekadar istri. Dia bisa jadi... pewaris. Kau tahu, Kairos itu satu-satunya putra kandung Lukee.”
Deg.
Aku menelan ludah. Kata pewaris terasa seperti pisau yang dilemparkan sembari tersenyum.
Lalu tiba-tiba, Clarisse mendekat dan menyentuh anting di telingaku.
“Ini berlian asli,” gumamnya. “Dan desainnya... bukan dari butik sembarangan.”
“Ya, bahkan gaun kita malam ini tak seindah milik Claire,” Aline ikut bicara, kali ini dengan nada lembut yang menurutku palsu. “Kau sangat beruntung.”
Aku kembali tersenyum. “Mungkin hanya keberuntungan, atau… hadiah agar aku cepat betah.”
Mereka tertawa, tapi yang kulihat seperti tawa kosong.
Dan saat tawa memudar, aku menatap cangkir tehku, lalu mengangkatnya perlahan, seolah bersulang.
“Semoga kita bisa terus rukun, ya.”
Mereka mengangguk… dan dalam benakku, sebuah kalimat bergema: aku akan ingat wajah-wajah kalian, jika nanti aku harus memilih siapa yang bisa kugunakan, dan siapa yang harus kujatuhkan.
---
Setelah sesi “kebersamaan” penuh kepalsuan dengan para selir itu berakhir, aku akhirnya bisa menarik napas lega.
Langit malam di luar terasa lebih jujur daripada senyum mereka yang menusuk. Setibanya di mansion Kairos, langkahku melambat saat menyusuri lorong menuju kamar.
Di depan pintu, seorang gadis muda telah menungguku dengan wajah cerah.
“Nona Claire!” serunya riang, lalu buru-buru membungkuk dengan sopan. “Maaf saya tak sempat memperkenalkan diri saya pada Nona. Nama saya Liora, saya pelayan baru yang dikhususkan untuk melayani Nona.”
Aku tersenyum samar, lelah. Tapi senyum gadis itu entah kenapa... menenangkan.
“Tidak apa-apa,” jawabku lembut. Tetapi, aku memperhatikan penampilannya yang lugu.
Namanya Liora. Usianya mungkin sebaya denganku—sekitar dua puluh tahun. Wajahnya manis dengan mata bulat. Serta bibirnya yang mengembang tersenyum.
“Kalau Nona lelah, akan saya siapkan air hangat untuk rendaman. Kaki Nona pasti sangat pegal ya, karena habis duduk berjam-jam bareng para tante-tante cantik itu.” Liora tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum. “Kau tahu mereka?”
“Tentu saja, Nona. Siapa yang tidak tahu seluk-beluk keluarga Dubois,” bisiknya sambil cekikikan.
Aku tertawa kecil. Rasanya menyenangkan mendengar suara jujur, meski datang dari seorang pelayan.
Aku tertawa kecil. Rasanya menyenangkan mendengar suara jujur, meski datang dari seorang pelayan.
Liora mendekat sedikit, lalu berbisik pelan, seolah takut ada dinding yang bisa mendengar, “Mereka itu legendaris di kalangan pelayan. Katanya, Clarisse pernah melempar piring ke kepala Aline hanya karena gaunnya lebih bagus.”
Aku menahan tawa. “Kau dengar itu dari mana?”
“Dari dapur. Dan dari kamar para pelayan. Dan… dari siapa pun yang suka bergosip.” Ia mengedip cepat, pipinya merona malu.
Aku menatapnya. Jujur, ini pertama kalinya aku merasa bisa bicara tanpa harus menyaring setiap kata. Tidak ada penilaian di matanya. Tidak ada rasa ingin menjatuhkan.
“Liora, kau sudah lama bekerja di sini?”
Ia menggeleng. “Baru seminggu. Tapi aku pernah bekerja di mansion lain milik keluarga Dubois. Lalu tiba-tiba aku dipindahkan ke sini… untuk khusus mengurus Nona.”
“Khusus untukku?” ulangku, heran.
Ia mengangguk. “Katanya karena Nona butuh pelayan yang seumuran. Yang bisa jadi teman bicara. Dan yang bisa dipercaya.”
Aku terdiam. Siapa yang menyuruh itu?
Kairos?
Perlahan, aku menghela napas. Liora tampak polos, terlalu polos untuk permainan kekuasaan Dubois. Tapi justru karena itulah aku mulai merasa nyaman.
“Baiklah. Mulai sekarang, kau boleh masuk ke kamarku kapan pun."
Liora tertawa kecil. “Baiklah, Nona Claire.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan, aku merasa punya sekutu.
---