Pintu kamar itu tertutup perlahan dari luar. Dentumannya samar… tapi cukup untuk membuat tubuhku bergidik. Langkah kaki sang pengawal menjauh, lalu lenyap ditelan keheningan.
Tinggallah aku... dan dia. Kairos Dubois. Dengan punggung bidang dan bahu tegap yang berdiri di hadapanku, membungkam semua ruang.
“Apa ada yang membuatmu tidak senang di sini? Katakanlah.”
Suaranya serak, berat, dan terasa seperti guntur di balik langit gelap.
Aku menarik napas panjang. “T-tidak… semua baik-baik saja,” jawabku, mencoba terdengar tenang, meski jantungku berdetak tak beraturan.
Dia tertawa. Singkat. Namun, cukup untuk membuatku merasa seolah seluruh dinding kamar ini ikut bergetar.
“Aku terlalu baik, bukan?”
Ia berbalik perlahan. Matanya menatapku—tatapan yang datar, sulit terbaca. Tenang, tapi menyimpan badai.
“Aku sungguh minta maaf, Kai,” bisikku, berani menatapnya walau lutut terasa lemas. “Aku pergi… karena aku kesepian. Kau tak pernah di sini. Tak ada kabar… tak ada tanda… aku tak tahu harus menunggumu sampai kapan.”
Ia diam. Seolah tak tergoyahkan.
Aku menunduk. “Maaf…”
“Kau tahu, dalam dunia gangster... kata ‘maaf’ tidak pernah ada artinya.”
Kata-katanya menusuk tajam. Aku terpaku, lidahku kelu. Tapi hatiku mendesak untuk bicara—untuk membela diri, walau sia-sia.
Namun, seperti refleks… aku menjatuhkan diri. Bersimpuh. Dengan suara gemetar, aku berkata, “Aku mohon padamu…”
Kairos masih diam. Lalu melangkah menuju sofa, duduk perlahan. Matanya mengurungku.
“Apa kau sudah mempelajarinya?”
Aku mengerutkan alis, tak paham.
“Sudah seminggu aku pergi. Bukankah sudah saatnya aku menagih… cicilanmu?”
Kalimat itu membeku di udara. Dingin. Mematikan. Menggoda dalam cara yang aneh.
Claire menelan ludahnya.
Lalu terdengar,
“Lakukan, Claire.”
Kairos mulai melepas arlojinya. Lalu jas hitamnya. Lengan kemejanya ia lipat perlahan, dan setiap gerakan itu membuat napasku menahan dalam.
Tangannya terentang di sandaran sofa. Tatapannya menyuruh, namun bukan dengan nafsu—melainkan kuasa yang tak bisa dibantah.
Aku berdiri, ragu. Tapi rasa takut mengalahkan logika.
Dengan langkah pelan, aku mendekat, duduk di pangkuannya. Tanganku menyentuh wajahnya. Lalu kuberanikan diri menempelkan bibirku pada miliknya. Lembut… ragu… tapi jujur.
Tapi… Dia tidak membalas. Mata Kairos terbuka, tajam menatapku. Tangan-tangannya diam.
Aku semakin gugup. Jantungku berdetak di telinga.
Ciuman itu selesai. Kepanikan menjalari pikiranku. Apa yang harus kulakukan?
Dengan keberanian yang tersisa, aku mulai membuka kancing kemejanya. Satu per satu. Perlahan. Hingga terlihat tubuhnya yang keras dan berotot di balik kain.
Aku mencondongkan tubuh, mencium lehernya lembut. Sekilas ingatan dari gambar dalam buku itu mengarahkan gerakanku.
Kairos mendesah. Suaranya berat… samar… tapi nyata. Tangannya perlahan melingkari pinggangku, menggenggamku erat.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tubuhnya memberiku kehangatan. Aroma maskulinnya memenuhi indra. Tanganku menyentuh perutnya—keras, tegas, memikat.
“Cukup.”
Aku terdiam. Mata kami bertemu. Tatapan itu… kembali dingin.
“Kau tidak mempelajarinya, Claire.”
Hatiku remuk. Aku menunduk dalam rasa bersalah.
Tapi kemudian, Kairos menarikku. Memelukku. Menjatuhkan kepalaku di dadanya. Sekilas aku mendengar detak jantungnya… berat, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang dalam.
Tanpa kata, ia berdiri. Mengangkat tubuhku dalam gendongannya. Membaringkanku perlahan di atas ranjang, seolah aku rapuh dan bisa pecah.
Lalu ia berkata,
“Jean. Aku pastikan… dia akan mati di tanganku, Claire.”
Mataku membulat. “K-Kairos… tidak. Tolong… aku sudah minta maaf padamu.”
Tanganku memegang lengannya. Namun tatapannya menusuk.
“Kau tidak berhak membelanya.”
Tangannya menyentuh daguku. Lembut… namun seperti bilah tipis yang dingin.
“Tolong… jangan lakukan itu,” ucapku dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Kairos diam. Kemudian bangkit. Berjalan ke arah pintu.
“Pelajari lagi, Claire.”
Dan pintu pun tertutup. Dikunci dari luar.
Aku terduduk di tepi ranjang, gemetar, dihantui rasa bersalah dan ketakutan akan nasib Jean… dan juga oleh satu kenyataan yang tak bisa kuhindari—
Bisa jadi kematianku justru berasal dari pria yang mungkin bisa menghancurkanku kapan saja.
---
Hari-hariku berubah sejak malam itu.
Kairos tak muncul di hadapanku lagi, tapi bayangannya selalu hadir dalam bentuk perintah dan tatapan yang tersisa di benakku.
"Aku pastikan Jean akan mati."
Kata-kata itu terus menggema seperti mantra yang menuntut penebusan.
Sejak dikurung malam itu, aku bersumpah dalam hati:
Aku harus jadi lebih pintar dari mereka semua.
Aku mulai membuka buku vulgar yang semula membuatku enggan menyentuhnya. Kali ini… k****a, kutandai, kupelajari dengan hati yang dingin.
Ini bukan untuk menyenangkan Kairos.
Ini bagian dari persiapanku.
---
Di hari-hari berikutnya, aku mulai melangkah lebih jauh:
Berinteraksi dengan para pelayan.
Aku bertanya tentang buku, taman, bahkan tentang cara menyeduh teh favorit Kairos.
Beberapa dari mereka tampak terkejut aku mulai terbuka, tapi mereka tetap menjawab dengan sopan.
Mungkin mereka pikir aku mulai menyesuaikan diri. Menerima takdir sebagai istri mafia.
Padahal… setiap senyumku adalah jaring laba-laba.
Aku mencatat siapa yang paling ramah. Siapa yang cerewet. Siapa yang menyimpan gosip.
Dari obrolan mereka, aku tahu beberapa pengawal Kairos punya jadwal yang longgar saat malam Jumat.
Catatan kecil itu kuhafal. Kubiarkan tersimpan rapi dalam benakku.
---
Minggu berikutnya, kabar datang:
Ulang tahun ayah Kairos.
Tak ada pesta mewah seperti bayanganku—sang Don menolak gemerlap. Ia hanya menginginkan makan malam keluarga.
Malam itu, aku mengenakan gaun satin hijau zamrud, salah satu dari tiga lusin koleksi yang sempat membuatku sangat terkejut.
Kairos tak menemaniku masuk, tapi seorang pengawal mengantar.
Mansion keluarga Dubois—jauh lebih besar dari kediaman kami, dan lebih tua. Udara di dalamnya terasa berat oleh sejarah, aroma kayu tua, dan kekuasaan yang diwariskan turun-temurun.
Di ruang makan yang panjang dan megah, aku bertemu mereka semua.
Dua kakak laki-laki Kairos.
Salah satunya tersenyum penuh pesona seperti buaya, yang satu lagi lebih pendiam namun dengan sorot mata menghitung setiap gerakanku.
Mereka datang bersama selir-selir mereka.
Satu wanita bahkan mengenakan mahkota berlian di tengah makan malam. Menggelikan, tapi aku tak tertawa.
Aku duduk di samping kursi kosong—tempat Kairos seharusnya berada.
Sang Don, Lukee akhirnya datang. Ayah Kairos yang tak pernah lagi kutemui sejak pernikahan kami, memasuki ruangan seperti seorang raja.
Tatapannya tajam, suaranya berat. Tapi saat melihatku, ia hanya mengangguk singkat.
"Kau tampak sehat, Claire," katanya tanpa basa-basi.
Aku mengangguk dan tersenyum hormat.
"Semoga kau bisa menjinakkannya," tambahnya sebelum duduk.
Kalimat itu disambut tawa kecil dari para kakak laki-laki dan selirnya. Aku hanya tersenyum. Dalam hati, aku mencatat:
Bahkan ayahnya pun tahu Kairos seperti binatang buas.
---
Sepulang dari makan malam itu, aku tak langsung kembali ke kamar.
Aku meminta waktu di perpustakaan rumah besar itu. Para pelayan tampak heran, tapi mengizinkan.
Di sana, aku mencuri waktu.
Membaca. Menghafal denah.
Menggambar sketsa kasar layout rumah ayah Kairos. Aku perlu tahu sebanyak mungkin jalur pelarian.
Diam-diam, aku juga menulis satu surat—bukan untuk Jean, tapi seseorang yang bisa jadi penghubung ke luar negeri.
Seseorang dari masa lalu ibuku yang kupikir sudah tiada.
Tapi sekarang, semua mungkin.
Aku lipat surat itu, menyimpannya dalam pot kecil di taman herbal yang tak pernah dijaga.
Mereka pikir aku istri patuh.
Mereka pikir aku mulai tunduk.
Padahal, aku hanya sedang diam.
Dan diamku adalah racun.
---