Sudah beberapa hari sejak makan malam keluarga besar Dubois, dan kini kehidupanku kembali dalam ritme yang membingungkan: tenang, namun tidak benar-benar damai.
Namun, di antara semua ketegangan dan misteri yang menyelubungi mansion ini, satu hal yang terasa seperti cahaya kecil adalah kehadiran Liora—pelayan muda dengan rambut berkepang dua dan senyum yang terlalu cerah untuk tempat sesuram ini.
Sejak hari pertama memperkenalkan diri, Liora hampir selalu ada di sekitarku. Entah kapan dia tidur, entah dari mana datangnya energi ceria yang tampaknya tidak habis-habis.
Pagi ini, ia datang membawakan sarapan.
“Selamat pagi, Nona Claire! Saya bawakan bubur oatmeal dengan taburan stroberi. Tapi jangan bilang-bilang ya… saya tambahkan sedikit cokelat parut. Katanya bisa bikin suasana hati bagus!”
Aku terkekeh pelan. “Apa itu resep rahasia keluarga?”
“Bukan,” katanya sambil meletakkan nampan di meja, “itu hasil eksperimen saya sendiri karena saya sering sedih kalau lihat orang lain makan tanpa senyum.”
Aku tersenyum. “Kau selalu tahu cara membuat suasana jadi ringan.”
Liora duduk bersila di atas karpet di dekat meja riasku, seperti anak kecil yang siap mendengar dongeng.
“Nona, saya boleh tanya sesuatu nggak?”
“Tentu.”
Ia menatapku dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
“Waktu pertama kali Nona melihat Tuan Kairos, apakah jantung Nona juga… ‘duk duk duk’ gitu?”
Aku nyaris menyemburkan tehku.
“Liora!” tegurku sambil tertawa. “Apa maksudmu ‘duk duk duk’?”
Dia menepuk pipinya sendiri, malu tapi tetap tertawa.
“Ya maksudnya, jantungnya deg-degan! Soalnya waktu saya lihat Tuan Kairos kemarin dari kejauhan aja, saya langsung... mendadak lupa bahasa manusia. Dia itu... tampan sekali, tapi juga kayak... hantu dari novel misteri!”
Aku mengangguk. “Itu cukup tepat. Hantu tampan.”
Kami tertawa bersama. Tawa yang ringan—langka di dunia yang keras ini.
Liora lalu membenarkan kepangan di rambutnya dan berkata, “Tapi saya yakin… dia pasti punya sisi lucu. Mungkin dia suka nonton drama romantis diam-diam?”
Aku menatapnya dengan alis terangkat. “Kairos? Drama romantis?”
Liora mengangguk penuh semangat. “Iya! Siapa tahu! Soalnya pria-pria dingin biasanya punya rahasia paling lembut!”
Aku tersenyum, lalu memandang keluar jendela. Entah kenapa, kata-kata Liora yang terdengar seperti lelucon itu justru membuat dadaku hangat.
“Kau selalu percaya sisi baik orang, ya?”
“Harus begitu, Nona. Kalau saya lihat semua orang dari sisi gelapnya… nanti hidup saya suram kayak... cermin retak di kamar bawah tanah.”
Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya di atas karpet.
“Liora… kenapa kau begitu… berani bicara seperti ini padaku? Bukankah aku istri tuanmu? Kau tak takut?”
Dia menoleh, matanya bersinar lembut.
“Karena saya lihat Nona Claire itu... kesepian. Dan saya pikir… mungkin Nona cuma butuh teman untuk ketawa sebentar.”
Dadaku terasa hangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa benar-benar... dilihat.
“Terima kasih, Liora.”
Ia mengangguk, lalu bangkit cepat.
“Sekarang, waktunya mandi bunga! Saya sudah siapkan air hangat dan kelopak mawar. Tapi janji ya, jangan tidur di bak seperti kemarin. Nanti saya kira Nona tenggelam!”
Aku terkikik. “Baiklah, aku janji.”
Dia menggandengku seperti teman lama. Hari itu, untuk pertama kalinya, hatiku terasa lebih ringan. Dan aku mulai sadar… mungkin, di tengah dunia gangster yang penuh kepalsuan ini, aku menemukan satu manusia yang tulus: seorang gadis kepang dua bernama Liora.
Sore itu, Liora mengajakku berjalan-jalan ke taman kecil di belakang mansion. Udara terasa segar, langit mulai menguning keemasan. Di tangan Liora ada keranjang kecil berisi gunting taman dan pita warna pastel.
“Nona, kita petik bunga, yuk. Katanya, kalau meja makan dihias bunga segar, suasana hati penghuni rumah jadi lebih baik.”
Aku mengeryit, "apa hubungannya?" tanyaku penasaran.
Liora tersenyum, "tidakkah Nona lihat, mansion ini sangat tidak berwarna untuk wanita secantik nona."
Aku reflek tertawa, bukan karena perkataannya tapi raut wajahnya yang membuatku gemas.
Liora mulai memetik beberapa batang mawar kuning dan merah muda. Aku pun ikut, walau masih kaku memegang gunting.
“Yang ini cantik…” gumamku, tanganku terulur menyentuh bunga mawar merah muda yang mulai mekar sempurna.
Tapi saat jari telunjukku menyentuh batangnya—
“Akh!” Sebuah duri kecil menusuk kulitku.
Darah muncul, kecil, tapi cukup membuatku terlonjak pelan.
“Claire!” Liora membuang keranjangnya dan langsung berlutut di hadapanku. “Astaga! Aduh, aduh, aduh! Kenapa kau nggak bilang batang mawar itu berduri!?”
“Aku pikir kau tahu itu sudah umum...” jawabku tertahan geli.
Liora mendekap tanganku panik, lalu tanpa pikir panjang ia meniup jari telunjukku yang berdarah.
“Ssttt… biar nggak sakit. Ibu saya dulu selalu begitu.”
Aku tertegun. Terdiam. Hembusan napasnya hangat di kulitku—lembut, tulus, dan tak dibuat-buat. Seolah dia betul-betul takut aku terluka lebih dari seharusnya.
“Liora…” bisikku.
Dia menunduk, menatap lukaku dengan alis mengernyit. “Saya akan ambilkan plester, jangan gerak dulu ya. Jangan lemas, nanti saya kira Nona pingsan karena kehilangan darah, padahal lukanya cuma segaris.”
Aku tak bisa menahan tawa. “Kau dramatis sekali.”
Liora menggembungkan pipinya. “Yah, saya memang cemas. Teman saya luka, ya saya panik.”
Teman.
Kata itu terasa hangat di d**a.
“Terima kasih, Liora. Sungguh.”
Ia mengangguk cepat, lalu kembali ke mansion untuk mengambil kotak obat.
Aku menatap jemariku. Luka itu nyaris tak berarti. Tapi perhatian yang mengiringinya… terasa sangat dalam.
Beberapa menit kemudian, Liora kembali berlari-lari kecil dengan napas terengah.
“Nona, maaf lama! Saya sempat bingung kotak obatnya ada di mana—tapi akhirnya ketemu, ada di bawah rak buku tebal soal politik, entah kenapa!”
Ia duduk di sampingku, membuka kotak itu dengan gesit. Pelan-pelan ia bersihkan lukaku dan menempelkan plester bergambar stroberi.
“Apa ini satu-satunya yang kau temukan?” tanyaku sambil menatap plester mungil itu.
“Plester bergambar itu jauh lebih manjur karena... eh… ya imut!” jawabnya sambil tertawa.
Aku menatapnya—wajah muda dengan senyum cerah, rambut kepang dua yang bergerak setiap kali ia tertawa.
Dan entah mengapa, saat itu aku ingin menangis.
Bukan karena sakit… tapi karena kehangatan yang baru saja kutemukan di tengah semua luka batin.
“Aku pernah punya teman seperti ini dulu,” bisikku.
Liora menoleh. “Oh ya?”
Aku mengangguk. “Namanya Jean. Dia juga selalu meniup jariku kalau aku jatuh waktu kecil. Tapi… setelah ibuku meninggal, semua berubah.”
Liora diam, mendengarkan.
“Ayah memisahkan kami. Aku tidak tahu kenapa. Tapi rasanya, seperti ditinggal semua hal yang membuatku merasa hidup.”
Aku tertawa kecil. “Lucu ya… hanya karena plester stroberi dan tiupan kecil, aku bisa mengingat segalanya.”
Liora menggenggam tanganku.
“Nona Claire… kalau Nona bersedia, saya bisa jadi teman baru Nona. Yang selalu siap sedia, bahkan kalau jari Nona tertusuk paku lima kali dalam sehari.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu… kau harus siap. Karena hidupku penuh duri.”
Liora tertawa. “Bagus! Saya sudah siap jadi penjinak duri bersertifikat!”
Kami tertawa bersama. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama… taman belakang mansion itu terasa seperti rumah.