Pagi itu, seorang pelayan muda datang dengan membawa nampan kecil berisi amplop bersegel tua. Tidak ada nama pengirim yang jelas, hanya inisial kecil yang terukir di segel lilin: J.S.
Aku sempat ragu membuka surat itu. Tapi ada sesuatu yang menuntunku… sebuah rasa asing yang entah bagaimana terasa familiar.
Saat ujung jariku mengoyak segel, aroma kertas tua menyapa—aroma yang mengingatkanku pada masa kecil, pada rumah yang dulu… rumah yang dipenuhi tawa dan bau roti hangat buatan ibu.
Lalu mataku menangkap tulisan tangan yang sudah sangat kukenal.
Hai Claire... ini aku, Jean Scott.
Tanganku bergetar saat membaca nama itu. Jean.
Sepupu yang dulu selalu menjagaku dari gangguan anak-anak jalanan.
Yang selalu menyembunyikanku di loteng saat aku ingin menangis.
Yang dulu berkata: "Jika kau takut, lari saja ke arahku."
Aku dengar kau sudah menikah. Selamat, ya.
Claire, aku tahu jelas pernikahan itu bukan karena cinta.
Kairos adalah pria yang sangat berbahaya.
Dari dulu aku ingin menemuimu dan membawamu pergi jauh…
Tapi ayahmu terlalu kuat. Dan waktu belum berpihak pada kita.
Tapi sekarang… bukankah ini waktu yang sangat tepat?
Aku tahu Kairos sedang tidak ada di sana.
Dan aku punya tiga mata-mata yang akan membantumu keluar dari tempat itu.
Balas suratku, jika kau sudah yakin.
Aku akan menunggumu, seperti dulu aku menunggumu di belakang rumah tua kita.
Aku hanya ingin kau bahagia.
Kau tahu, aku dan seluruh keluarga ibumu…
Kami selalu menyayangimu, Claire.
Sudah waktunya kau menjauh dari Jacques.
Aku menutup surat itu dengan tangan yang gemetar. Dunia terasa berguncang dalam diam.
Jean…
Aku nyaris lupa wajahnya, tapi hatiku tak pernah lupa rasanya saat bersamanya.
Lalu kenangan itu menyerbu datang—rumah kecil dengan taman bunga liar, suara ibuku yang tertawa, dan Jean kecil yang selalu menatapku seperti adik kandungnya sendiri.
Tapi semua itu direnggut saat ibu tiada.
Ayah memutus semua tali. Termasuk aku… dari mereka.
Dua hari berlalu. Aku tak membalas surat itu.
Tapi aku juga tak bisa tidur.
Wajah Jean terbayang… begitu juga wajah Kairos.
Entah kenapa, hatiku terasa robek dua arah.
Kairos.
Pria yang tak bicara banyak, tapi memesan lusinan gaun jauh sebelum pernikahan kami.
Pria yang mendesain perhiasan langka hanya untukku.
Dan pria yang diam-diam memelukku saat malam terlalu sunyi.
Jika Jean adalah masa lalu yang penuh cinta…
Kairos adalah masa kini yang penuh misteri.
Dan aku berdiri di tengah badai, tak tahu mana yang harus kupilih.
Tapi kemudian satu suara berbisik dalam benakku:
“Lepaskan yang tak pasti, dan selamatkan dirimu selagi bisa.”
Malam ketiga, aku menyalakan lilin kecil dan menulis balasan.
Jean,
Aku akan ikut denganmu.
Rancang semuanya dengan hati-hati.
Aku akan siap pada waktunya.
Aku menyegel surat itu dengan cermin kecil—kode lama kami dulu—dan menitipkannya pada pelayan tua yang selama ini diam-diam memperhatikanku dengan tatapan iba.
Semuanya telah dimulai.
Kini tinggal menunggu malam yang tepat untuk melangkah pergi…
dari dunia yang membelenggu ini.
Namun entah kenapa… saat aku menatap kamar tidurku yang hening,
hati ini bertanya lirih,
"Jika aku pergi… akankah Kairos mencariku?"
---
Surat balasan dari Jean tiba dua hari kemudian.
Kertasnya tipis, tetapi kata-katanya membebani pikiranku seperti batu besar.
Keluarlah jam tiga dini hari.
Saat itu pergantian shift penjaga biasa terjadi.
Tiga orangku akan menjemputmu.
Mobil sudah siap menunggumu di luar gerbang barat.
Lari, Claire. Waktumu hampir habis.
Malam itu, aku tidak tidur.
Waktu terasa lambat berjalan, detik demi detik menusuk seperti jarum ke kulit.
Kupandangi gaun malamku yang tergantung di lemari, perhiasan langka yang diberi Kairos, dan juga… sepucuk surat dariku yang belum sempat kubakar.
Surat yang ditulis dalam diam untuk seseorang yang diam-diam mengisi ruang hatiku.
Kairos.
Tapi tidak. Aku harus pergi.
Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya.
Tidak, Claire… kau hanya tameng, ingat?
Tepat pukul 02.58, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku—tiga ketukan.
Isyarat yang telah disepakati.
Kupakai pakaian serba hitam, mengenakan topi lebar yang menyembunyikan rambutku.
Saat kubuka pintu, tiga sosok berpakaian serupa menyambutku.
Dua pria bertubuh tinggi dan satu wanita dengan langkah ringan seperti bayangan.
Kami tak bicara.
Hanya berjalan cepat menyusuri lorong gelap mansion.
Jantungku berdetak tak karuan saat berhasil keluar dari pintu belakang.
Mobil hitam menunggu.
Lampunya mati. Mesin menyala pelan.
Tanpa banyak kata, kami masuk.
Aku duduk di barisan paling belakang.
Satu orang di depanku, dua lainnya duduk di kursi depan.
Mobil ini… memiliki tiga baris, dan jarak antar kursinya seolah dirancang untuk menjauhkan suara.
Kuletakkan topi ke pangkuan dan menghela napas panjang.
Tanganku gemetar, tetapi ada harapan kecil di d**a.
Sebentar lagi aku bebas.
Jean… aku akan melihatmu lagi.
Perjalanan begitu sunyi.
Hanya deru ban dan suara gesekan jalan.
Tapi saat mobil mulai melambat, firasatku berteriak keras.
Aku mencondongkan tubuh ke depan, mencoba melihat keluar dari jendela yang gelap.
Dan saat itu... darahku seolah membeku.
Itu… mansion Dubois.
Mataku melebar.
Tanganku mencengkeram sandaran kursi.
"N—Tidak mungkin…," bisikku.
Salah satu pria di depan menoleh, lalu tersenyum dingin.
"Selamat datang kembali, Madame Dubois."
Suara itu…
Itu suara pria yang pernah kulihat berdiri di belakang Kairos di pesta keluarga.
Aku ingin kabur. Tapi dua pria lainnya segera menahan lenganku.
Tiga mata-mata Jean juga tertangkap. Mereka menatapku penuh penyesalan.
Kami semua dibawa masuk—melewati lorong yang seolah menelan cahaya.
Menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dindingnya dingin. Lembap.
Dan kemudian…
Langkah kaki. Berat. Tegas. Bergaung perlahan.
Tap. Tap. Tap.
Semua mata menoleh ke arah pintu besi besar yang mulai terbuka perlahan.
Di sana, berdiri seorang pria tinggi dengan jas hitam yang tak berkerut sedikit pun.
Wajahnya tak berubah.
Dingin. Datarnya seperti permukaan pisau yang baru diasah.
Matanya menyala bagai bara yang dipendam.
Kairos Dubois.
Dia berdiri diam beberapa detik sebelum melangkah masuk,
membiarkan gema langkahnya menyayat kesunyian.
Tatapannya menusuk lurus ke arahku.
Membuat napasku tercekat.
Aku ingin bicara. Tapi lidahku kelu.
Ingin berdiri, tapi lututku lemas.
Dia berhenti tepat di depanku.
Suaranya akhirnya terdengar—tenang… tapi mematikan.
“Kau ingin melarikan diri, Claire?”