POV Claire
Malam merangkak menuju dini hari.
Udara di dalam kamar begitu tenang, begitu sunyi…
Hanya deru napasku sendiri yang terdengar, lembut dan teratur, mengiringi tidurku yang dalam.
Entah pukul berapa tepatnya, dalam kantuk yang berat, aku merasakan sesuatu…
Seseorang.
Seseorang yang begitu hangat.
Pelukan dari belakang—erat, tenang, dan mendalam.
Lengan melingkari pinggangku.
Dada yang kokoh menempel di punggungku.
Dan aroma itu… samar, namun tak asing.
Pahit lada, sedikit kayu manis.
Kairos.
Tubuhku nyaris bergerak menoleh, ingin memastikan… tapi kantuk terlalu kuat menarikku kembali.
Aku hanya sempat menggenggam lengannya sebentar,
sebelum tertidur lebih dalam—dengan rasa aneh yang tak bisa dijelaskan.
---
Pagi menjelang.
Mataku perlahan terbuka, cahaya remang menembus sela tirai.
Tempat tidurku… kosong.
Tidak ada kehangatan. Tidak ada jejak.
Aku menoleh ke kanan—ke sisi tempat tidur yang sunyi.
Tidak ada siapa-siapa.
"Jadi… cuma mimpi?" bisikku.
Tapi mengapa terasa begitu nyata?
Mengapa tubuhku masih bisa mengingat suhu itu… napas itu… detak jantungnya?
---
Setelah membersihkan diri, aku berjalan menyusuri lorong, hendak menuju perpustakaan.
Tapi langkahku terhenti tepat di depan ruang tamu kecil, saat suara lirih dua pelayan terdengar samar.
"Dia datang malam tadi?"
"Hush, bicara pelan… ya. Tapi cuma sebentar. Katanya ada urusan mendesak."
"Claire madame tahu?"
"Beliau tak diberi tahu. Tuan Kairos bilang… jangan ganggu tidurnya. Lalu beliau pergi lagi sebelum fajar."
Tubuhku membeku di balik dinding.
Jadi… itu bukan mimpi?
Tadi malam—yang memelukku itu… benar-benar dia?
---
Aku berbalik, melangkah perlahan menjauh dari lorong itu.
Menuju taman belakang.
Mencari udara.
Mencari jawaban.
Kaki ini seperti bergerak sendiri, ditarik oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan.
Aku duduk di bangku batu, menghadap kolam kecil yang tenang.
Airnya memantulkan bayangan langit pagi—dan pikiranku yang penuh gelombang.
Kenapa dia datang hanya untuk pergi?
Kenapa tak membangunkanku?
Kenapa selalu memilih diam?
Apa sulitnya untuk bicara?
Tanganku mengepal di atas lutut.
Lalu, nama itu kembali menyelinap ke kepalaku.
Shopia.
Siapa dia?
Apakah Kairos memiliki seseorang?
Seseorang yang benar-benar ia cintai?
Sial, kenapa aku seperti ini?
Aku menatap pantulan wajahku di kolam.
Seorang gadis dalam balutan satin lembut…
dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak boleh berharap…" bisikku.
Tapi harapan itu tumbuh…
dan itulah yang paling kutakutkan.
---
Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tapi d**a ini terasa sesak—seperti ada sesuatu yang tertinggal dan belum sempat diungkapkan.
Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.
Tapi justru wajahnya yang muncul. Tatapannya yang dingin, suaranya yang nyaris tak pernah melunak.
Namun semalam… lengannya melingkariku seolah aku sesuatu yang berharga.
Apa itu sekadar simpati?
Atau… pertanda yang tak ingin kupercaya?
Aku menyentuh dadaku sendiri, berharap bisa menghapus denyut aneh yang terus berdetak lebih cepat.
Lalu pandanganku teralih ke taman di sisi barat—tempat di mana bunga-bunga kecil mulai mekar.
Tanpa sadar aku berjalan ke arah sana. Menyusuri lorong pendek, melewati dinding batu, hingga tiba di balik rumah kaca kecil yang tersembunyi.
Pintu kacanya sedikit terbuka. Dan aroma khas tanah basah menyambutku.
Namun bukan itu yang membuatku terpaku.
Di tengah-tengah taman kecil itu, berdiri sebuah bangku marmer putih. Di atasnya, tertinggal secarik kain tipis.
Aku mengenali pola sulaman di ujungnya.
Itu saputangan yang kulihat dibawa Kairos setelah sarapan terakhir kami.
Tanganku gemetar saat menyentuhnya. Masih ada aroma samar—aroma yang sama seperti semalam.
Jadi dia ke sini.
Dia tidak hanya datang lalu pergi.
Dia sempat duduk di sini… mungkin merenung, mungkin menatap malam sendirian.
Entah mengapa, kenyataan itu menyesakkan sekaligus menghangatkan.
Aku meremas saputangan itu, menahannya erat di d**a.
Bukan karena benda itu penting—tapi karena aku tak tahu bagaimana caranya menjaga perasaanku agar tidak tumbuh terlalu cepat.
Aku belum siap… untuk terluka.
---
Malam kembali turun perlahan. Langit menggelap, tapi tidak sepenuhnya kelam.
Dari balik jendela kamar, aku berdiri diam. Mataku menatap langit yang luas dan sunyi. Di antara bintang-bintang yang berkerlip samar, ada satu yang bersinar lebih terang dari yang lain.
Mataku terpaku padanya.
"Aku merasa itu adalah kau, Ibu..." bisikku lirih. "Jika benar, tolong dengarkan ceritaku."
Tangan kiriku menggenggam sisi jendela, jemari menekan bingkai kayu tua yang dingin.
"Ayah berhasil… dia berhasil mendapatkan perhatian dari dunia gangster, Bu. Dia berhasil memasukkan aku, putrinya, ke dalam keluarga Dubois. Dia menang, Bu."
Nada suaraku serak.
Lalu jeda sejenak. Getar di bibirku tak bisa lagi kutahan.
"Setelah menikah… dia menghilang. Seolah aku tak pernah ada. Seolah… semua pengorbananku tak berarti."
Suara itu pelan. Retak. Terpotong oleh hembusan napas yang berat.
"Bu… aku tidak tahu kenapa harus Ibu yang pergi. Tapi kalau bisa memilih… aku ingin Ibu tetap di sini. Dan biarkan Ayah yang menggantikan posisimu."
Air mata itu turun tanpa suara. Tak ada isak, hanya linangan diam yang mengalir dari ujung mata.
"Aku rindu, Bu… sangat rindu."
Aku menunduk pelan. Bahuku bergetar sekali, lalu kembali diam.
Aku tidak tahu bagaimana menjalani semua ini. Aku tidak tahu siapa yang bisa kupercaya.
Tapi di tengah kehampaan ini… satu pelukan semalam membuatku merasa sedikit hidup.
Sedikit hangat.
Sedikit… berharga.
Namun saat kupalingkan kepala, bintang itu tak lagi di tempat yang sama.
Seperti Ibu—ia hanya singgah sebentar… lalu menghilang.
Tatapanku jatuh ke bawah.
Dari lantai atas mansion ini… dunia tampak kecil. Jauh di bawah sana, rerumputan malam tertutup bayangan pekat. Jika aku melompat… mungkin semuanya akan selesai.
Satu hentakan. Satu detik.
Dan aku akan menyusul Ibu.
"Bu..." suaraku tercekat. "Hari itu… kau pasti merasakannya, kan? Rasa sakit itu. Racun itu."
Air mataku kembali mengalir. "Darah… dan kedua matamu yang membelalak… jelas sekali betapa sakitnya kematian itu."
Tanganku menggenggam kusen jendela, gemetar.
"Kalau aku menyusulmu… apakah kau akan menerimaku, Ibu?"
Langkah kakiku perlahan naik ke sisi jendela. Malam semakin gelap. Udara membekukan.
Dan aku berdiri di ambang… antara hidup dan mati.
Lalu—
BRUKKK!!!
Petir menyambar langit, kilatnya menyilaukan kaca jendela dan menggetarkan tubuhku.
Aku terjatuh ke lantai, punggungku menghantam dingin marmer.
Dadaku naik turun cepat.
Mataku terbuka lebar.
Aku terdiam sejenak… lalu menarik napas dalam-dalam, tercekat, bergetar.
"Tidak…" bisikku. "Aku tidak bisa melakukan ini."
Tanganku menggenggam gaun yang kusut di dadaku.
"Aku tidak boleh seperti ini. Aku… tidak boleh berakhir seperti ini."
Suara hujan mulai turun perlahan di luar jendela.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… aku menangis bukan hanya karena luka.
Tapi karena aku masih hidup.
Aku duduk kembali di pinggir ranjang, membiarkan malam menelanku dalam sunyi.
Bibirku menyentuh punggung tangan sendiri, seolah mencoba mencari rasa… kehangatan… atau sisa-sisa pelukan yang kuterima diam-diam semalam. Tapi tak ada. Hanya kulitku sendiri.
Langit di luar jendela tampak redup. Tidak gelap total, namun juga tak cukup terang untuk disebut pagi.
Dan dalam keremangan itu, aku bergumam:
"Jika aku benar-benar melompat… akankah dia datang?
Bukan hanya memelukku diam-diam di tengah malam… tapi memelukku terang-terangan, tanpa sembunyi."
Mungkin aku terlalu naif.
Terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pernah dijanjikan.
Tapi Kairos… dia berbeda.
Aku tidak yakin pada banyak hal. Tapi aku yakin satu:
Dia adalah Kairos.
Banyak hal yang menurutku mustahil, tapi dia melakukannya.
Merancang gaun-gaunku dari jauh, memilihkan perhiasan tanpa bertanya, menyisipkan detail-detail kecil yang bahkan aku pun tak tahu tentang diriku.
Dia melakukannya dalam diam, seperti hujan yang jatuh tanpa suara—tapi meninggalkan basah yang tak bisa diabaikan.
Aku menutup mata.
Dan dalam sunyi itu, pelan-pelan aku menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada rasa takut akan ditinggalkan:
Aku mulai peduli.
Dan semakin aku peduli… semakin aku takut.
Takut bahwa semua ini—seperti pelukannya semalam—hanya akan jadi bayangan samar yang tak pernah bisa kugenggam.