Hari itu kembali berlalu seperti bayangan yang lewat di jendela.
Aku bangun sendiri. Membersihkan diri sendiri. Duduk di meja makan yang terlalu luas… sendirian.
Lidahku mencicipi rasa roti panggang dan teh herbal, tapi yang terasa justru sunyi yang melekat di lidahku.
Kairos belum pulang. Dan aku berhenti berharap ia akan muncul tiba-tiba di pintu seperti dalam drama-drama murahan.
---
Siang menjelang. Matahari merambat ke ujung atap, dan aku memilih duduk di tepi kolam di belakang mansion.
Angin musim semi membelai ujung rambutku. Jemariku bermain-main di permukaan air, sesekali menciptakan riak-riak kecil.
Diam adalah teman terbaikku saat itu.
Hingga seorang pelayan datang, menundukkan tubuhnya sopan.
"Madame Claire, seorang desainer telah datang. Ia menunggu Anda di ruang tamu."
Aku mengernyit. "Desainer?"
Pelayan itu mengangguk, "Ia membawa sejumlah busana yang dipesan khusus oleh Tuan Kairos untuk Anda."
Hatiku mencelos.
Kairos?
Tanpa banyak tanya, aku mengikuti langkah pelayan itu. Mataku membulat saat memasuki ruang tamu.
Seorang wanita anggun, dengan rambut keemasan yang disanggul rapi, tersenyum lebar padaku.
"Bonjour, Madame Claire. Nama saya Vivienne Moreau. Saya telah menyiapkan tiga lusin gaun dan dress sesuai pesanan Monsieur Kairos."
"T-tiga lusin?" tanyaku nyaris tercekik.
"Oui. Semuanya dipesan khusus. Dirancang dengan detail berdasarkan ukuran Anda. Bahkan, bahan-bahannya diimpor dari Italia dan Jepang."
Vivienne tersenyum bangga, lalu memberi isyarat pada asistennya untuk membuka koper-koper besar yang dibawa.
Satu demi satu gaun mewah itu dipamerkan di hadapanku. Sutra halus. Renda-renda rumit.
Warna-warna elegan yang tidak mencolok namun mewah. Mereka bukan sekadar pakaian—mereka adalah karya seni.
Tanganku bergerak menyentuh salah satunya. Lembut. Hangat.
"Semua ini... dipesan oleh Kairos?" tanyaku, lebih kepada diriku sendiri.
Vivienne mengangguk. "Iya, Madame. Sudah dipesan sejak tiga bulan lalu. Beliau sangat spesifik. Detail, bahkan memilih sendiri warna-warnanya. Katanya, ia ingin gaun-gaun ini memantulkan sisi anggun sekaligus kekuatan dalam diri Anda."
Hatiku menegang. Ada guncangan halus yang tak bisa kujelaskan.
Tiga bulan lalu… berarti saat kami bahkan belum bertatap muka.
Bagaimana bisa pria yang bahkan tak menatapku di pesta-pesta sosial, memikirkan gaun-gaunku jauh-jauh hari?
Aku terdiam. Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku.
Tentang maksud Kairos. Tentang diriku di matanya.
Tentang siapa sebenarnya pria itu, yang malam ini masih juga belum pulang.
---
Aku berdiri di hadapan salah satu gaun malam berwarna navy—berkilau, elegan, dan tampak dibuat untuk seorang istri mafia kelas atas.
Kupandangi bayanganku di cermin.
"Mengapa... kau memesan semua ini untukku, Kairos?" bisikku pelan.
Namun dinding-dinding ruangan hanya memantulkan bisu.
Dan dalam keheningan itulah, aku sadar…
Aku telah menikahi seorang pria yang bahkan belum sempat kukenal.
---
Pagi kembali menyapa.
Dengan langkah pelan, aku menuruni tangga menuju ruang makan.
Meja panjang itu kembali hanya menyisakan satu kursi yang terisi—kursiku.
Tak ada suara langkah berat Kairos. Tak ada suara pintu terbuka.
Sarapan hari ini, seperti sebelumnya… sepi.
Tapi entah mengapa, gaun navy yang kemarin masih tergantung di kamarku membuatku merasa berbeda.
Aku duduk lebih tegak, menyendok sarapan dengan sedikit keanggunan yang bahkan tak kusadari.
Ada sesuatu yang bergerak pelan di hatiku—rasa penasaran yang diam-diam merayap.
---
Menjelang siang, saat aku baru saja menyisir rambutku di kamar, pelayan pribadi memanggilku dengan sopan.
"Madame Claire… ada tamu penting yang menunggu Anda di ruang koleksi."
"Siapa?"
"Pierre Lemoine, pemilik butik perhiasan Lemoine Bijoux di Champs-Élysées."
Aku sontak menoleh. Nama itu bukan nama biasa. Butiknya hanya melayani kalangan elite. Bahkan bangsawan pun harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapat giliran pemesanan.
"Aku tidak memesan perhiasan..." ucapku setengah bingung.
Pelayan hanya tersenyum kecil. "Tetapi seseorang melakukannya untuk Anda."
---
Langkahku terhenti tepat di ambang pintu ruang koleksi.
Di sana berdiri seorang pria paruh baya, mengenakan jas gelap dan sarung tangan putih.
Di hadapannya tergeletak sebuah kotak panjang berlapis satin biru tua, tampak begitu mewah seolah menyimpan bintang.
"Madame Claire, kehormatan besar bagi saya bisa menyerahkan ini langsung." Pierre menunduk sopan.
"Perhiasan ini adalah satu-satunya di dunia. Dirancang khusus oleh Monsieur Kairos Dubois… untuk Anda."
Jantungku mendadak berdentum lebih cepat.
Tanganku gemetar saat membuka kotaknya.
Di dalamnya tergeletak sebuah kalung safir biru keunguan, warnanya seolah menangkap cahaya senja yang berkilau lembut.
Di tengahnya terpasang sebuah permata oval—dikelilingi detail ukiran berbentuk kelopak-kelopak yang membentuk bunga alizée.
Mataku membulat. Itu… namaku. Claire Alizée.
"Permata utamanya berasal dari tambang pribadi keluarga Dubois di Afrika Tengah.
Butuh dua bulan untuk memotongnya secara sempurna.
Dan ukiran bunga… itu adalah arahan khusus dari Tuan Kairos. Ia menyebutkan ingin sesuatu yang melambangkan kelembutan namun tidak rapuh."
Aku tidak bisa berkata-kata.
Pierre melanjutkan,
"Beliau juga berkata, 'Bunga Alizée hanya mekar untuk satu musim. Tapi saat ia mekar, bahkan badai pun tunduk.'
Kalimat itu yang menginspirasi desain ini."
Aku terdiam. Bahkan napasku pun tercekat.
Tiga bulan lalu, saat kami bahkan tak saling menatap, Kairos telah merancang perhiasan ini… dengan tangannya sendiri.
Bukan sekadar membeli. Bukan sekadar memesan. Tapi merancang.
Untukku.
---
Sesaat setelah Pierre pamit, aku masih berdiri mematung.
Jemariku menyentuh permata itu seolah tak yakin benda seindah ini benar-benar milikku.
Aku melihat bayanganku di cermin.
Claire Alizée, wanita yang dulu hanya dianggap tameng oleh ayahnya.
Sekarang berdiri mengenakan hadiah dari pria yang bahkan belum sempat ia pahami.
Siapa kau sebenarnya, Kairos?
Pertanyaan itu mulai menumbuhkan ketakutan baru—karena aku mulai peduli akan jawabannya.
Kau tak hadir, tak menjelaskan, tak berbicara… tapi semuanya tentangmu terus menjawab rasa penasaranku. Setiap sudut rumah ini berbisik tentangmu, seolah kau ada di mana-mana, meski tak pernah benar-benar di sini. Semakin kau menjauh, semakin aku ingin memahami.
Aku tak tahu lagi… apakah aku sedang mencoba melupakanmu, atau justru diam-diam ingin mengenalmu lebih dalam. Karena sosokmu, Kairos… bukan untuk dilupakan. Tapi untuk diselami.
Karena sosokmu… penuh teka-teki. Namun hatiku… sudah terlanjur ingin memahaminya.
Dan semakin aku peduli, semakin aku takut. Karena aku tahu jawabannya bisa saja melukaiku.
---