POV Claire
Pagi ini aku terbangun terlalu cepat.
Bantal di sisiku masih dingin—tidak ada jejak hangat siapa pun di sana.
Kupaksakan diriku duduk, mengusap mata yang masih berat. Di luar jendela, langit biru s**u menggantung seperti lukisan yang belum selesai. Matahari malu-malu, sinarnya masih lemah menembus kaca jendela kamarku yang terlalu besar.
Kupilih gaun santai berwarna krim.
Rambutku kusisir pelan, kuikat pita kecil di ujungnya.
Aku turun ke ruang makan dengan langkah yang sepelan mungkin. Mencoba menata napas, seolah napas ini bisa membawa keberanian.
Di meja makan, aroma roti panggang dan teh hangat menyambutku. Dan dia.
Kairos duduk di sana. Tegap. Dingin. Membelakangiku sejenak sebelum menoleh, hanya sekilas.
Hanya satu kursi yang hangat—kursi di hadapannya.
Aku menarik kursi itu dengan hati-hati, takut bunyinya terlalu nyaring. Kutatap punggung tangannya yang besar, jemarinya yang menggenggam pisau roti seolah menggenggam takdir orang lain.
Kami sarapan. Atau pura-pura sarapan.
Aku memotong roti kecil-kecil, menahan suara sendok agar tidak berdenting terlalu keras. Kuteguk teh perlahan, menahan panasnya di lidah—karena aku tidak tahu harus bicara apa.
Padahal aku ingin bertanya, "Tidakkah kau lelah memandangku seperti batu dengan tatapan datarmu itu?"
Aku ingin setidaknya dia menganggapku bagian dari mansion ini meski dengan cara meneriakiku. Karena sunyi ini sungguh menyiksa dari apapun.
Tapi yang keluar hanya hembusan napas, tenggelam di antara denting sendok dan suara jam dinding.
Kairos makan dengan tenang, setenang malam tanpa bintang.
Roti terakhirnya habis tanpa terburu-buru.
Dia menepuk sudut bibirnya dengan serbet—gerakan kecil yang entah kenapa membuat dadaku makin sesak.
Dia berdiri.
Dan aku panik. Refleks ikut bangkit, terlalu keras hingga kursiku bergeser dan menimbulkan bunyi gesekan yang memecah pagi.
“H-hai… Kairos, tunggu sebentar—aku ingin—”
Aku ingin apa? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya ingin dia berhenti berjalan menjauh.
Tapi sebelum langkahku sempat mendekat, seorang pelayan membungkuk menahanku. Suaranya pelan, terlalu pelan untuk hatiku yang berisik,
“Nyonya Claire, maaf… tapi berlari setelah makan tidak baik untuk pencernaan Anda.”
Pencernaan? Apa pentingnya membahas itu sekarang?
Aku tidak menggubrisnya. Menoleh ke arah pintu—Kairos masih di sana.
Dia berhenti. Berdiri sejenak. Menoleh pelan.
Mata kami bertemu.
Tuhan…lagi-lagi tatapan tajam itu membuat bibirku kelu.
Tak ada senyum, tak ada isyarat. Hanya kosong—seolah aku hanyalah bayangan di pinggir matanya.
Lalu dia pergi.
Begitu saja.
Suara pintu terbuka. Deru mobil hitam yang membawa serta kehangatan yang tidak pernah sempat kucicipi.
Pagi ini pecah, tapi sunyinya tetap di sini.
Aku kembali ke kamar. Langkahku berat. Setiap anak tangga seperti menarik perasaan bersalahku turun lebih dalam.
Tirai jendela kutarik lebar-lebar. Halaman belakang tampak sepi. Biasanya dia ada di sana—melatih para pria yang setia padanya, mengayunkan tongkat kayu, menatap dingin siapa saja yang berani mendekat.
Tapi pagi ini kosong. Seperti hatiku.
Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemari sendiri. Kuku menekan telapak tangan hingga nyeri, hanya agar aku yakin masih hidup.
Aku menatap cermin di hadapanku.
Yang kulihat hanyalah wajah seorang istri—atau mungkin hanya boneka. Wajah yang tidak tahu bagaimana caranya membuat suami sendiri berhenti pergi.
Apa aku salah? Apa aku kurang cantik? Kurang bicara? Terlalu banyak berharap?
“Aku ingin tahu… apa yang bisa kulakukan…”
Suaraku tercekat. Aku bicara pada bayangan sendiri.
“Tapi bahkan untuk bertanya pun, aku tak diberi kesempatan…”
Angin pagi menggerakkan tirai. Membawa aroma rumput basah dan matahari yang akhirnya berani muncul.
Tapi tidak ada yang cukup hangat untuk hati ini.
Aku hanya bisa duduk, menunggu. Entah sampai kapan.
Mungkin dia pulang malam ini.
Atau besok.
Atau tidak sama sekali.
Dan kalaupun dia pulang… akankah dia benar-benar melihatku?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, pagi ini dingin. Dan aku—seorang istri tanpa cara untuk jadi istri—hanya bisa menunggu, sambil berdoa semoga hatiku tidak membeku sepenuhnya.
****
Sinar matahari menyusup malu-malu lewat tirai jendela.
Hangatnya menyentuh kulitku, namun tak sanggup mengusir dingin yang diam-diam bertengger di hati.
Aku terbangun perlahan. Tangan ini meraba sisi ranjang... kosong.
Tak ada jejak hangat. Tak ada aroma tubuh Kairos.
Hanya aku, dan hening yang menggantung di antara seprai-seprai yang rapi.
Aku bangkit. Menyentuh lantai marmer yang dingin dengan telapak kaki telanjang.
Melangkah ke kamar mandi. Membersihkan diri.
Air mengalir pelan seperti waktu yang terasa lambat sejak semalam.
Tak ada tanda-tanda bahwa Kairos pernah kembali.
"Madame Claire?"
Suara pelayan wanita memanggil dari balik pintu.
"Sarapan telah disiapkan di ruang makan."
Aku mengangguk, meski tak bisa melihatnya.
Aku mengenakan gaun sederhana berwarna krim, rambutku dikuncir seadanya. Tanpa riasan.
Aku turun.
Ruang makan itu luas, megah, dengan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya pagi menari di atas meja panjang berlapis linen putih.
Namun... hanya satu piring yang terhidang.
Untukku saja.
Aku duduk perlahan. Mengambil sendok, mencicipi bubur hangat di hadapanku.
Hangat di lidah, tapi hambar di hati.
Ke mana Kairos?
Pertanyaan itu menggantung di benakku lebih lama dari yang seharusnya.
Kupikir dia akan kembali. Setidaknya untuk sarapan. Untuk menunjukkan bahwa—entah bagaimana—kami benar-benar menikah.
Sial, seharusnya tidak begini. Kenapa aku begitu berharap? Aku benci diriku yang bodoh seperti ini.
Tapi tidak.
Seharian berlalu.
Hingga bayangan sore menyelimuti dinding mansion, aku belum juga melihat sosok pria dingin itu.
Tak ada suara langkah beratnya. Tak ada suara pintu terbuka. Tak ada aroma maskulin yang menandakan kehadirannya.
Aku pun gelisah.
Rasanya seperti menjadi tamu asing di rumah suamiku sendiri.
---
Sore menjelang senja, aku membuka kaca jendela dan menghirup udara taman belakang.
Rumputnya hijau. Pohon-pohon berdiri rapi. Bunga-bunga mawar berjejer, namun sepi.
Di sana, dua orang pelayan sedang membersihkan dedaunan yang berguguran.
Aku turun perlahan, menghampiri mereka.
"Maaf," ucapku sopan.
"Apakah kalian tahu di mana Tuan Kairos?"
Mereka saling pandang, seperti takut mengatakan sesuatu yang tak seharusnya.
Akhirnya salah satu dari mereka menjawab pelan,
"Tuan Kairos sedang menjalankan misi rahasia, Madame. Kami tidak tahu pasti kapan beliau akan kembali."
Jantungku berdegup sedikit lebih keras.
"Misi... rahasia?" ulangku, nyaris seperti gumaman.
"Ya, Madame. Sudah menjadi kebiasaannya. Kadang pergi seminggu... kadang lebih lama."
Aku mengangguk pelan. Bibirku kelu.
Ada perasaan aneh yang menjalari d**a. Bukan hanya ditinggalkan. Tapi juga... tidak dianggap penting untuk diberi tahu.
Bahkan istri pun bukan alasan baginya untuk menetap satu hari penuh setelah pernikahan.
---
Malam pun tiba.
Aku kembali ke kamar. Tempat tidur itu masih rapi. Seolah tidak pernah ada pernikahan.
Aku tahu ini pernikahan yang tak diharapkan tapi, kenapa rasanya begitu sakit? Rasanya seperti aku hanya dianggap angin lalu yang tak berbentuk.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi cincin di jariku.
Cincin yang dipilihkan tanpa aku tahu. Cincin dari perjanjian yang ditulis dengan kesepakatan, bukan cinta.
Kudekap lututku. Sunyi menamparku lebih keras daripada suara bentakan sekalipun.
Di balik dinding tebal ini, mungkin ada rahasia yang tak boleh kusentuh.
Mungkin ini semua hanya permainan kekuasaan antar keluarga.
Namun tetap saja... hatiku belum sepenuhnya siap membatu.
Beberapa pelayan perempuan membawakanku teh. Salah satunya berambut keriting lembut, tampak lebih muda dari yang lain.
Dia menunduk sopan, namun diam-diam menatapku.
"Apakah... Tuan Kairos memang sering begini?" tanyaku akhirnya, mencoba terdengar tenang.
Pelayan muda itu terlihat ragu, namun menjawab pelan,
"Beliau pria yang tertutup, Madame. Tapi... beliau sangat setia pada misinya. Tidak sembarang orang bisa memahami jalan pikirannya."
Aku mengangguk, meski tak benar-benar mengerti.
Jika rumah ini adalah panggung, maka aku bukan pemeran utama. Aku bahkan bukan pemeran pendukung. Aku hanya figuran… yang lupa diberi naskah.
Dinding-dinding ini terlalu tebal. Suaraku memantul, tapi tak pernah mendapat jawaban.
Ya, aku terkurung di antara dinding yang tak menjawab.
---
Pagi. Lagi.
Jam dinding berdetak seperti siksaan.
Makanan tersaji tetap hangat, tapi tidak pernah habis dimakan.
Langit berubah, tapi hari-hari Claire tetap sama: kosong, sunyi, dan perlahan membatu.
Tapi ke mana ia harus pergi?
Ke rumah ayahnya yang hanya menjadikan pernikahan ini sebagai taktik bertahan?
Ke dunia luar yang tak tahu namanya selain sebagai 'istri Kairos Dubois' atau 'putri yang diperdagangkan?'
Tak ada tempat. Tak ada jawaban.
Hanya kamar ini.
Dinding ini.
Dan dirinya sendiri.
---
Dan sudah malam. Lagi.
Claire duduk di tepi ranjang.
Pandangannya kosong ke arah lemari besar.
Dan saat ia berdiri untuk membuka salah satu laci bawah, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang familiar.
Buku itu.
Buku yang dikirim tiga bulan sebelum pernikahan.
Yang tak pernah ia baca.
Ia membuka halaman pertamanya.
Bukan untuk belajar.
Tapi hanya untuk merasa... bahwa di antara semua yang tak pernah dijelaskan, tak pernah diucapkan, tak pernah dibagi, hanya buku ini yang benar-benar menunjukkan tugasnya di sisi Kairos.
Bukan tentang cinta. Bukan tentang kebersamaan.
Tapi tentang bagaimana bertahan hidup di sisi seorang gangster—dengan tubuh, dengan tunduk, dan tanpa suara.