POV Claire
Gaun pengantin ini begitu indah. Lembut dan mewah, seolah dirancang langsung dari mimpi… meski bagiku, hari ini terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.
Aku tak menyangka selera Kairos dalam hal mode sebaik ini. Aku bahkan tak tahu kalau pria seperti dia peduli pada detail gaun atau tata rias.
Namun kenyataannya, semua ini—gaun putih berkilau dengan detail renda yang memeluk pinggangku sempurna, tatanan rambut yang anggun, riasan elegan yang membuatku tampak seperti wanita bangsawan—semuanya adalah hasil pilihannya. Ia mengirim perias pribadi, memilih dekorasi aula pernikahan tanpa pernah sekalipun menanyakan pendapatku. Kairos Dubois menyusun segalanya dengan rapi, seperti merancang strategi bisnis, bukan pesta pernikahan.
Saat aku berjalan menuju altar, aku tahu semua orang memandang tajam padaku. Bisik-bisik, gumaman pelan, dan tatapan sinis bercampur penasaran menghujani dari segala penjuru aula.
Aku tidak heran. Siapa pun tidak akan pernah menyangka bahwa wanita yang berdiri sebagai mempelai hari ini adalah aku, Claire Alizée. Putri dari Jacques Alizée—gangster bangkrut yang mencoba menjual anaknya demi kekuasaan.
Tanganku menggantung kaku dalam genggaman ayahku. Mungkin ini satu-satunya momen di mana ia merasa bangga padaku, bukan sebagai anak, tetapi sebagai aset yang akhirnya terjual mahal.
Wajahnya menyiratkan kemenangan. Siapa pun pasti berpikiran begitu—Claire Alizée berhasil menjerat Kairos Dubois, pria paling dingin dan tak tersentuh di antara semua pewaris Dubois.
Tapi kenyataannya, bukan aku yang menjerat. Akulah yang terjebak.
Saat aku sudah berdiri di sisinya, di hadapan altar yang megah dan tamu-tamu yang membisu, jantungku berdetak. Bukan karena cinta. Bukan karena gugup akan masa depan yang penuh harapan.
Tapi karena rasa takut.
Takut akan apa yang akan terjadi setelah ini jika semua berjalan lancar.
Pernikahan ini berlangsung sakral. Doa dan sumpah suci terucap. Tapi ketika ciuman singkat itu tiba—yang seharusnya menandai awal kehidupan baru sebagai suami istri—aku merasa harga diriku runtuh. Bibirnya menyentuh bibirku begitu datar, begitu pasti, seolah hanya untuk memastikan kesepakatan bisnis ini sah di depan umum.
Dan malam itu pun datang.
Malam yang selalu kutakuti sejak hari pernikahan ini diumumkan.
Malam pertama kami.
Aku melihat bayanganku di cermin. Gaun tidur ini seharusnya membuatku merasa menjadi wanita seutuhnya. Tapi yang kurasa hanyalah gentar.
Inikah malam pernikahan itu? Jika ya, mengapa rasanya seperti malam kehilangan diriku sendiri?
---
Malam turun dengan sunyi yang mencekik.
Gaun tidur berwarna gading melekat di tubuhku seperti salju yang belum sempat mencair. Kamar ini luas, terlalu luas bahkan, tapi yang membuat jantungku berdebar bukanlah dinding marmer atau lampu kristal yang menjuntai di langit-langit—melainkan dia.
Kairos Dubois. Suamiku. Pria yang kini duduk di kursi kayu gelap di dekat perapian, menatapku seolah aku teka-teki yang harus segera dipecahkan.
Tubuhku gemetar, bukan karena dingin. Tapi karena segalanya yang kupelajari selama tiga bulan ini kini mengendap di pikiranku—menjadi rasa takut yang tak bisa kukendalikan.
Jemarinya terangkat, menjentik ringan.
Isyarat yang begitu sederhana, namun membuat kakiku seolah terpasung di sudut ranjang. Aku tak bisa bergerak. Tak berani.
"Jangan uji kesabaranku, Claire."
Suaranya serak, berat, menggema seperti gelegar halus di tengah malam. "Aku tidak punya waktu untuk berbaik hati."
Aku menggigit bibirku. Wajahnya begitu dingin, tak tergoyahkan oleh sorotan takut dari mataku.
Dan saat aku tak juga bergerak, dia bangkit.
Langkahnya mendekat—pelan, namun pasti.
Aku tak bisa lari. Bahkan bernapas pun rasanya berat.
Ia mengangkat daguku dengan dua jarinya, memaksaku menatap matanya. Mata hijaunya tampak menyala dan dalam, tak terlihat dasar empatinya.
"Aku tahu pernikahan ini bukan tentang cinta, Claire," katanya.
"Tapi kau sekarang adalah istriku. Dan malam ini... adalah malam pertama kita. Aku tidak menerima penolakan."
Detik itu, aku merasa kecil. Seolah seluruh keberadaanku diperas menjadi sebongkah kewajiban.
Saat ia melepaskan daguku dan kembali duduk, aku bisa saja lari—tapi tubuhku tak mau taat.
"Kau sudah kuberi waktu tiga bulan untuk mempelajari cara memuaskanku. Sekarang lakukan."
Aku memejamkan mata. Ingatan akan buku itu menyeruak. Gambar-gambar yang memalukan. Kata-kata yang menusuk.
Aku tidak siap. Aku bahkan belum tahu bagaimana mencium dengan benar.
"Haruskah?" tanyaku lirih. "Tidak bisakah... kau beri aku waktu lagi?"
Tak ada jawaban. Saat kulirik dia masih menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Haruskah aku jujur bahwa sebenarnya aku tidak mempelajarinya?
Aku tak sanggup membuka halaman utama buku itu apalagi sampai habis.
Tapi entah dari mana keberanian itu datang, mungkin lebih karena putus asa daripada keberanian sesungguhnya—aku membuka mulut.
Lirih, nyaris tak terdengar.
“Aku... akan mencicilnya.”
Suara yang keluar dari mulutku nyaris tak terdengar. Hanya bisikan rasa takut yang menggantung di udara.
Tapi jawabannya hanya tatapan tajam—dan isyarat telunjuk yang kembali menyuruhku mendekat.
Kaki-kakiku gemetar saat aku bangkit dan melangkah pelan menuju kursinya.
Aku berdiri di depannya, napas pendek, dadaku naik turun cepat.
"Duduklah," katanya pelan.
Aku duduk di pangkuannya. Tubuhku kaku. Seluruh ruang seperti berubah menjadi senyap yang menindih.
"Tiga bulan," bisiknya dekat ke telingaku. "Dan kau hanya memberiku itu? Sekarang tunjukkan. Cium aku, Claire."
Mataku membelalak. Jantungku berdetak secepat kilat. Tapi tak ada jalan lain. Aku tak bisa menolak.
Tanganku, dengan gemetar, menyentuh pipinya. Aku bisa merasakan garis rahangnya, tegas dan keras, seperti sikapnya. Lalu perlahan aku mendekatkan bibirku ke bibirnya.
Satu kecupan. Lembut. Gugup.
Saat aku menarik diri, dia masih memejamkan mata.
"Hanya segitu?" katanya.
"Aku kan sudah bilang... aku akan mencicilnya," jawabku pelan.
Dia mengangguk, tapi nadanya sinis. "Tapi kau tahu kan... ciuman bukan hanya soal menempelkan bibir?"
Aku terdiam. Tak sanggup menjawab.
"Cium aku, Claire."
"L-lagi?"
Tak ada jawaban. Tapi tatapan matanya cukup jadi perintah.
Dan untuk kedua kalinya, aku mendekat.
Bibirku menyentuh bibirnya, kali ini lebih dalam. Lebih lama. Aku mencoba mengikuti ritme yang tak pernah kupelajari secara nyata, hanya dari lembaran buku. Tapi saat lidahnya tiba-tiba menyusup masuk, aku terkejut. Panik. Aku melepas ciuman itu dengan cepat dan terbatuk kecil.
Wajahku memanas karena malu.
Ia hanya menatapku, seolah aku anak kecil yang belum lulus ujian.
---
Kairos masih menatapku. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh tekanan yang sulit kuurai. Seolah ia tengah membaca isi kepalaku—atau lebih buruk lagi—menghakimi isi hatiku yang bahkan belum kupahami sendiri. Suasana di dalam kamar ini begitu sunyi, hanya napas kami berdua yang saling bersahutan… dan denting waktu yang terasa begitu lambat.
Lalu, ketukan pintu memecah keheningan.
Tok… tok…
Mendengar ketukan di pintu membuatku segera bangkit dari pangkuan Kairos.
Kairos tak mengalihkan pandangan dariku. Rahangnya mengeras. Hanya satu kata meluncur dari bibirnya, berat dan tegas.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Sosok yang tak asing bagiku melangkah masuk—Lucas. Pria muda dengan mata tajam yang selalu berada di sisi Kairos. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya. Serius. Tergesa.
Lucas tidak berkata banyak. Ia hanya menunduk sedikit lalu mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Kairos.
Aku tak berniat mencuri dengar, tapi telingaku menangkap satu nama yang lolos dari bisikan itu.
“Shopia.”
Shopia?
Siapa dia?
Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena nama itu, tapi karena perubahan yang tiba-tiba terjadi di wajah Kairos. Sorot matanya yang tadi menusuk, kini tampak… teralihkan. Sejenak, ada bayangan emosi di sana—terluka? Kaget? Marah?
Namun sesaat kemudian, ekspresinya kembali beku. Datar. Seolah apapun yang barusan dikatakan Lucas telah mematikan sisi manusiawinya.
Tanpa menoleh padaku, Kairos berbalik. Langkahnya tegas, penuh tujuan, meninggalkan aku yang masih berdiri mematung di dekat ranjang. Lucas mengikutinya, dan sebelum aku sempat membuka mulut untuk bertanya… pintu sudah tertutup kembali.
Tanpa kata.
Tanpa penjelasan.
Tanpa pamit.
Aku berdiri terpaku, menatap pintu yang kini membisu seperti dinding.
Dan di dalam kepalaku, satu nama terus bergaung.
Shopia.