Di sisi lain taman, sedikit jauh dari meja utama, Matteo berdiri sambil menatap panggangan daging. Bau asap dan bumbu terbakar menyatu dengan udara malam yang lembab.
Ia menoleh pada salah satu anak buah Renzo yang sedang memutar tusukan ikan. “Hei, sejak kapan kau botak?” tanyanya santai, tapi terdengar cukup lantang di antara riuh api.
Anak buah itu menoleh sekilas tanpa menjawab. Matanya hanya menatap kosong ke bara api di depannya.
“Dasar tidak sopan,” umpat Matteo sambil mengangkat alis, “aku cuma bertanya, bukan menuduhmu mencuri ikan.”
Seorang pria lain — temannya si botak — datang menghampiri dan menunduk sopan. “Maafkan dia, Tuan. Teman saya ini… bisu. Lidahnya dipotong oleh anak buah Brunet dua tahun lalu.”
Matteo terdiam, merasa bersalah tapi juga ngeri. “Oh…” katanya pelan